Provinsi Cirebon? Kagok mending kerajaan Cirebon, Di kulon pan sukses aya 
kerajaan Banten, beda jauh jeung kerajaan Yogya atawa Surakarta nu miskin.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Ki Hasan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sat, 6 Aug 2011 10:04:10 
To: Ki Sunda<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: Urang Sunda<[email protected]>; Baraya 
Sunda<[email protected]>
Subject: [kisunda] Di Kulon Ngalebur, Di Wetan Paburencay?

Gagasan Provinsi Baru Muncul Karena Diskriminasi
 Jumat, 05/08/2011 - 15:27

SUMBER, (PRLM).- Munculnya gagasan di daerah untuk memisahkan diri dari Jawa
Barat dan membentuk provinsi tersendiri bisa jadi akibat perlakuan yang
diskriminatif. Tidak hanya terkait pembangunan fisik namun, dari sisi kultur
pun terjadi perlakuan yang berbeda.

"Salah satu bukti nyata, perlakuan diskriminasi terjadi pada kepedulian Pak
Gubernur Jawa Barat terhadap bahasa daerah. Sudah jelas dalam Perda Nomor 5
tahun 2003, yang dimaksud bahasa daerah di Jawa Barat adalah bahasa Sunda,
Cirebon dan Melayu Betawi. Namun, sekarang kegiatan belajar sudah dimulai,
buku mulok bahasa Cirebon baik mata pelajaran maupun bacaan penunjangnya
untuk SD dan SMP sederajat belum satu judul pun yang dicetak," kata
pemerhati sosial politik lokal, Ichwan Mulyana, Jumat (5/8).

Menurut Ichwan, keterlambatan cetak buku muatan lokal itu sangat dirasakan
para guru bahasa daerah di sekolah-sekolah yang menerapkan bahasa daerah
Cirebon di Kota /Kabupaten Cirebon dan Indramayu. Akhirnya, mereka mencari
referensi seadanya sambil menunggu sejumlah buku yang kabarnya akan dicetak
di Provinsi.

Hal ini, lanjut dia, berbeda jauh dengan buku-buku berbahasa Sunda yang
sudah dicetak sebanyak puluhan judul buku. Kalau sampai bahasa daerah lain
seperti Cirebon ternyata tidak dicetak karena berbagai alasan, apa perlunya
membuat perda terkait bahasa daerah. Sudah saja daerah lain, masyarakat suka
tidak suka dipaksakan menggunakan mulok bahasa yang sama.

"Meskipun di wilayah Kabupaten dan Kota Cirebon sendiri tidak seluruhnya
menggunakan bahasa Cirebon, namun, kalau penguasa provinsi Jawa Barat mau
konsekuen tentunya keterlambatan cetak itu tidak terjadi," kata Ichwan
menambahkan.
Sementara itu Ketua Jaringan Kerja Rakyat Cirebon (Jaker), Ahmad Jajuli,
S.H., menilai tumbuh kembalinya semangat untuk mendirikan provinsi
tersendiri seperti Cirebon hendaknya jangan dianggap remeh dan semestinya
dijadikan introspeksi bagi birokrat di Provinsi Jawa Barat.

"Tumbuh kembali aura untuk membentuk provinsi Cirebon jangan dianggap remeh.
Cepat atau lambat harus terwujud karena tuntutan masyarakat dan zaman," kata
Jajuli. Menurut Jajuli, Jawa bagian Barat terdapat 3 sub kultur, pertama
Priangan, Banten dan Pantura (Cirebon). Dalam pemerintahan Jabar selama 45
tahun, dua sub kultur selalu dimarjinalkan, baik sosial politik pemerintahan
maupun sosial budaya sehingga ada sub kultur memisahkan diri yaitu Banten.
Sekarang tinggal Priangan dan Cirebon.

Disebutkan, kalau Cirebon selalu dimarjinalkan tentu harus jadi provinsi
sendiri, keluar dari Jabar. Oleh sebab itu harus ada sharing di
pemerintahan, sosial politik dan budaya. "Secara ranah pemerintahan dan
politik, kalau gubernurnya dari Priangan mbok wakilnya dari Pantura, begitu
pula sebaliknya. Sehingga ada keutuhan antara Priangan dan Cirebon. Dan
kalau memang ada provinsi baru memang dimungkinkan Undang-undang negara
kita," katanya.

Jajuli berpendapat, justru dengan adanya keinginan mendirikan provinsi baru
itu harus dijadikan introspeksi bagi para pengelola pemerintahan di Jawa
Barat demi keutuhan dan kebahagiaan bersama. Kalau Cirebon menjadi provinsi,
lanjuta dia, Kota Cirebon sebagai kota perdagangan dan jasa. Sementara
interland-nya adalah Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan
sebagai pendukung kuat dari potensi yang ada.(A-146/A-147)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/154275


2011/7/27 Ki Hasan <[email protected]>

> Sanggeus urang Jerman ngahijikeun nagarana, di susul ku urang Eropa
> ngahijikeun mata urangna,
> kiwari urang Walanda ngahijikeun tilu paguron luhurna.
>
> Kumaha ari di urang? Di urang mah sabalikna: propinsi mareulah awak
> sorangan, unggal kabupaten nyarieun
> paguron luhur sorangan, unggal departemen nyarieun sakola sorangan.
>
> Mana nu leuwih efektif nya: Urang kulon nu ngalebur maneh gawe babarengan,
> atawa urang wetan nu paburencay
> sewang-sewangan?
>
>
> ====
> Universitas Raksasa: Daya Tarik Belanda
> Oleh *Johan van der Tol*
> Dibuat *26 Juli 2011 18:05*
>  [image: image/jpeg 
> icon]belanda_mega_universitas.jpg<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/lead/article/2011/07/belanda_mega_universitas.jpg>
>
> *Belanda akan memiliki universitas raksasa. Tiga universitas besar,
> Leiden, Delft dan Rotterdam akan berfusi. Namun ada juga catatan yang harus
> diperhatikan bagi universitas raksasa yang berambisi merebut daya tarik
> internasional itu.*
>

Kirim email ke