asa kararagok nyieun ideu teh lah. matak bengkok tikoro sakitu mah.
untungna naon kitu jang rahayat lamun misah provinsi?
tingali weh di banten, rahayat nu sangsara  mah ti samemeh misah nepi ka ayeuna 
misah ge angger weh sangsara.

nu untung? nyaa makelar nu ngomporan jeung manasan, sawareh tangtu jadi anggota 
DPR atawa birokrat.

kuduna mah tong kapalang weh atuh mendingan nyieun nagara sorangan.

pan jadi rame

 
--> JeBe <--


________________________________
From: Narayana Adipranata <[email protected]>
To: "[email protected]" <[email protected]>
Sent: Monday, 8 August 2011 2:01 AM
Subject: Bls: [kisunda] Di Kulon Ngalebur, Di Wetan Paburencay?


  
jig we lah...
ti jaman pajajaran ge pan kitu ieu banten jeung cirebon mah. 


________________________________
Dari: "[email protected]" <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Dikirim: Sabtu, 6 Agustus 2011 12:04
Judul: Re: [kisunda] Di Kulon Ngalebur, Di Wetan Paburencay?


  
Provinsi Cirebon? Kagok mending kerajaan Cirebon, Di kulon pan sukses aya 
kerajaan Banten, beda jauh jeung kerajaan Yogya atawa Surakarta nu miskin.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  Ki Hasan <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Sat, 6 Aug 2011 10:04:10 +0800
To: Ki Sunda<[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Cc: Urang Sunda<[email protected]>; Baraya 
Sunda<[email protected]>
Subject: [kisunda] Di Kulon Ngalebur, Di Wetan Paburencay?
  
Gagasan Provinsi Baru Muncul Karena Diskriminasi
Jumat, 05/08/2011 - 15:27 
SUMBER, (PRLM).- Munculnya gagasan di daerah 
untuk memisahkan diri dari Jawa Barat dan membentuk provinsi tersendiri 
bisa jadi akibat perlakuan yang diskriminatif. Tidak hanya terkait 
pembangunan fisik namun, dari sisi kultur pun  terjadi perlakuan yang 
berbeda.
"Salah satu bukti nyata, perlakuan diskriminasi terjadi pada 
kepedulian Pak Gubernur Jawa Barat terhadap bahasa daerah. Sudah jelas 
dalam Perda Nomor 5 tahun 2003, yang dimaksud bahasa daerah di Jawa 
Barat adalah bahasa Sunda, Cirebon dan Melayu Betawi. Namun, sekarang 
kegiatan belajar sudah dimulai, buku mulok bahasa Cirebon  baik  mata 
pelajaran maupun bacaan penunjangnya untuk SD dan SMP sederajat belum 
satu judul pun yang dicetak," kata pemerhati sosial politik lokal, 
Ichwan Mulyana, Jumat (5/8).
Menurut Ichwan, keterlambatan cetak buku muatan lokal itu sangat 
dirasakan para guru bahasa daerah di sekolah-sekolah yang menerapkan 
bahasa daerah Cirebon di Kota /Kabupaten Cirebon dan Indramayu. 
Akhirnya, mereka mencari referensi seadanya sambil menunggu sejumlah 
buku yang kabarnya akan dicetak di Provinsi.
Hal ini, lanjut dia, berbeda jauh dengan buku-buku berbahasa Sunda 
yang sudah dicetak sebanyak puluhan judul buku. Kalau sampai bahasa 
daerah lain seperti Cirebon ternyata tidak dicetak karena berbagai 
alasan, apa perlunya membuat perda terkait bahasa daerah. Sudah saja 
daerah lain, masyarakat suka tidak suka dipaksakan menggunakan mulok 
bahasa yang sama.
"Meskipun di wilayah Kabupaten dan Kota Cirebon sendiri tidak 
seluruhnya menggunakan bahasa Cirebon, namun, kalau penguasa provinsi 
Jawa Barat mau konsekuen tentunya keterlambatan cetak itu tidak 
terjadi," kata Ichwan menambahkan.
Sementara itu Ketua Jaringan Kerja Rakyat Cirebon (Jaker), Ahmad Jajuli,
 S.H., menilai tumbuh kembalinya semangat untuk mendirikan provinsi 
tersendiri seperti Cirebon hendaknya jangan dianggap remeh dan 
semestinya dijadikan introspeksi bagi birokrat di Provinsi Jawa Barat.
"Tumbuh kembali aura untuk membentuk provinsi Cirebon jangan dianggap remeh. 
Cepat atau lambat harus terwujud karena tuntutan masyarakat dan 
zaman," kata Jajuli. Menurut Jajuli, Jawa bagian Barat terdapat 3 sub 
kultur, pertama Priangan, Banten dan Pantura (Cirebon). Dalam 
pemerintahan Jabar selama 45 tahun, dua sub kultur selalu dimarjinalkan, baik 
sosial politik pemerintahan maupun sosial budaya sehingga ada sub 
kultur memisahkan diri yaitu Banten. Sekarang tinggal Priangan dan 
Cirebon.
Disebutkan, kalau Cirebon selalu dimarjinalkan tentu harus jadi 
provinsi sendiri, keluar dari Jabar. Oleh sebab itu harus ada sharing di 
pemerintahan, sosial politik dan budaya. "Secara ranah pemerintahan dan 
politik, kalau gubernurnya dari Priangan mbok wakilnya dari Pantura, 
begitu pula sebaliknya. Sehingga ada keutuhan antara Priangan dan 
Cirebon. Dan kalau memang ada provinsi baru memang dimungkinkan 
Undang-undang negara kita," katanya.
Jajuli berpendapat, justru dengan adanya keinginan mendirikan 
provinsi baru itu harus dijadikan introspeksi bagi para pengelola 
pemerintahan di Jawa Barat demi keutuhan dan kebahagiaan bersama. Kalau 
Cirebon menjadi provinsi, lanjuta dia, Kota Cirebon sebagai kota 
perdagangan dan jasa. Sementara interland-nya adalah Kabupaten Cirebon, 
Indramayu, Majalengka dan Kuningan sebagai pendukung kuat dari potensi 
yang ada.(A-146/A-147)***
http://www.pikiran-rakyat.com/node/154275



2011/7/27 Ki Hasan <[email protected]>

Sanggeus urang Jerman ngahijikeun nagarana, di susul ku urang Eropa ngahijikeun 
mata urangna, 
>kiwari urang Walanda ngahijikeun tilu paguron luhurna.
>
>Kumaha ari di urang? Di urang mah sabalikna: propinsi mareulah awak sorangan, 
>unggal kabupaten nyarieun
>paguron luhur sorangan, unggal departemen nyarieun sakola sorangan.
>
>Mana nu leuwih efektif nya: Urang kulon nu ngalebur maneh gawe babarengan, 
>atawa urang wetan nu paburencay
>sewang-sewangan?
>
>  
>====
>
>Universitas Raksasa: Daya Tarik Belanda
>Oleh Johan van der Tol
>Dibuat 26 Juli 2011 18:05
>belanda_mega_universitas.jpg
>Belanda akan memiliki universitas raksasa. Tiga universitas besar, Leiden, 
Delft dan Rotterdam akan berfusi. Namun ada juga catatan yang harus 
diperhatikan bagi universitas raksasa yang berambisi merebut daya tarik 
internasional itu.




 

Kirim email ke