Tos beres tuang sahurna?

Merenah pisan nya di Jepang mah, beda pisan jeung di Malaysia, mun teu puasa 
terus kapanggih dahar/nginum/ngaroko di tempat umum ku petugas langsung ditewak 
terus dipenjarakeun jeung didenda. Dewek ge keur ngora sok rasa ngewa kanu teu 
puasa jeung tara sholat jeung, dina pikir teh ieu jelema mantangul pisan henteu 
nurut kana parentah Allah, malah sok dibarengan nasteung hayang nyiksa ka si 
kapir nu teu paruasa jeung sarolat, pan dewek percaya boro-boro bandana sanajan 
getihna oge halal arek dikukumaha.

Ayeuna mah beda deui, ku loba gaul jeung nu kalapir teh jadi rada beda kana 
eusi sirah, nyatana mah si bule-bule oge sok manghariwangkeun ka dewek ku 
ngalakonan puasa, bisi dehidrasi jeung sajabana cenah.Satemena ayeuna mah dewek 
teu boga deui rasa geuleuh atawa keuheul ka nu tara puasa jeung sarolat sabab 
kapangaruhan ku pergaulan.

Keun wae nu teu nurut kana parentah Allah mah sina di siksa langsung ku Allah 
deui, pan percaya Allah teh Maha Pembalas, urang mah sabage manusa ulah sok 
nyanyahoanan jeung umaku atas nama Allah ngajalankeun kejem telenges demi 
nanjeurkeun parentah Allah da eta mah urusan Allah.

pun ilen kardani



________________________________
From: Ki Hasan <[email protected]>
To: Ki Sunda <[email protected]>
Cc: Urang Sunda <[email protected]>; Baraya Sunda 
<[email protected]>
Sent: Tuesday, August 9, 2011 5:55 AM
Subject: [kisunda] Puasa - Ngahargaan nu teu Puasa?


  
Di Jepang, Hormati yang Tidak Berpuasa
HL | 07 August 2011 | 18:12

Berpuasa di kota Tokyo memiliki sisi menarik tersendiri. Hal ini
karena suasana di Tokyo berbeda dengan suasana di tanah air. Kalau di
Indonesia, Ramadhan adalah sebuah festivities. Saat Ramadhan tiba,
suasana mall, pusat perbelanjaan, perkantoran, berubah wajah menjadi
Islami. Di berbagai tempat, banyak restoran yang tutup atau
menggunakan tirai. Tempat-tempat hiburan malam juga ditutup, kalau
tidak mau ambil risiko digrebek masyarakat. Alasannya, hormatilah
orang yang berpuasa.

Namun di Tokyo tidaklah demikian. Justru sebaliknya, aktivitas
masyarakat saat bulan Ramadhan berjalan normal seperti biasa. Warung
dan restoran di kota Tokyo tetap buka, dan tentu tanpa ditutup tirai.
Orang-orang juga tetap makan dan minum di muka umum. Sementara tempat
hiburan juga tetap buka.

Jepang memang bukan negara muslim dan tidak menyelenggarakan puasa
sebagai ibadah nasional. Namun hal tersebut tidak mengurangi
kekhusyukan bagi mereka yang berpuasa. Justru, berpuasa di Jepang
memiliki makna tersendiri karena kaum muslim mendapatkan langsung
esensi dasar dari berpuasa, yaitu menahan nafsu, menghargai orang
lain, dan memupus ego individu atau kelompok.

Selama ini saya cenderung beranggapan bahwa orang puasa itu yang harus
dihargai. Kalau ada orang makan di hadapan yang berpuasa dianggap
tidak menghargai yang berpuasa. Di Jepang, justru sebaliknya, kita
harus menghormati yang tidak berpuasa. Orang berpuasa tidak boleh
menyulitkan mereka yang tidak berpuasa, apalagi meminta fasilitas dan
perhatian khusus karena kita berpuasa.

Saat seorang kawan Jepang bertanya mengapa saya tidak makan dan minum,
barulah mereka memahami bahwa orang muslim sedang berpuasa. Mulanya
mereka khawatir dengan kesehatan saya karena berpuasa di musim panas
dianggap berbahaya. Namun saat mengetahui esensi berpuasa, mereka
sangat memahami dan menghormati. Orang Jepang juga mengenal puasa.
Mereka menyebut puasa dengan istilah “Danjiki”. Istilah tersebut
mengacu pada kultur Jepang (Budhisme-Shintoisme) yang juga mengajarkan
untuk menahan makan dan minum.

Rasa hormat pada yang tidak berpuasa bukan hanya dilakukan saat siang
hari. Saat malam tiba, sholat tarawih di Tokyo juga dilakukan secara
tenang dan tidak mengganggu masyarakat. Sholat tarawih di berbagai
tempat di Tokyo, baik masjid maupun aula, tidak menggunakan pengeras
suara yang terdengar keluar. Pengeras suara hanya diperdengarkan di
dalam ruangan saja. Ini adalah bentuk toleransi agar tidak mengganggu
istirahat masyarakat Jepang yang tidak berpuasa dan sedang istirahat.

Berpuasa di Jepang mengajarkan satu hal, bahwa rasa saling menghargai
umat lain adalah kunci untuk menjadikan Islam lebih dipahami dan
dihargai. Mengetahui bahwa kami berpuasa, rekan-rekan Jepang di kantor
justru menghargai. Mereka tidak makan minum di depan yang berpuasa.
Padahal, kami tidak pernah melarang dan mempermasalahkan.

Selama tinggal di Jepang, saya justru merasakan bahwa sejatinya,
orang-orang Jepang ini juga berpuasa. Oleh karenanya, kita harus
saling menghargai.

Di jalan raya, mereka puasa dengan tidak saling serobot dalam
mengemudi. Di bis dan kereta, mereka puasa untuk tidak ngobrol dan
berisik, karena takut mengganggu sekitarnya. Mereka juga puasa
melakukan kejahatan atau pencopetan di angkutan umum.

Di pekerjaan, mereka puasa tidak membicarakan kekurangan orang. Di
masyarakat, mereka puasa untuk menahan kepentingan diri demi
masyarakat dan tatanan yang lebih luas. Mereka mengantri, membuang
sampah pada tempatnya, dan tertib dalam bermasyarakat.

Bukankah itu juga esensi dari puasa kita? Bahwa kita harus menahan
nafsu (selama kita hidup), dan bukan menunda nafsu (hanya sampai
dengan berbuka)?

Selamat berpuasa, dan hormatilah yang tidak berpuasa. Salam dari Tokyo.

http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/08/07/di-jepang-hormati-yang-tidak-berpuasa/

 

Kirim email ke