Ah henteu misteri ngan kudu taliti da adatna ge aya beda tiap area. Tokyo area beda jeung kinki area. Mang Ayip tah nu lami di kinki area, area nu peuheut nyekel tradisi. Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: Ki Hasan <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 9 Aug 2011 09:30:02 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [kisunda] Re: Puasa - Ngahargaan nu teu Puasa? Jepang jiga hiji misteri, ceuk itu kitu, ceuk ieu kieu. Sarua wae nya, da puguh urang teh ukur ngararampa. Nu matak mun hayang apal Jepang, kudu nurutan Tuan Snouck, kumaha lalampahan Snouck hayang apal Sunda. Hehehe 2011/8/9 <[email protected]> > ** > > > ** Asana urang jepang mah nu penting saling ngahargaan, teu ngaganggu, > jadi teu aya urusanana jeung puasa. Rek puasa rek solat rek henteu, EGP. > Paling oge empati, pesen supaya kasehatan dijaga sabab gawe mah tetep we > standard. Urang nu ambon sorangan dikait2keun jeung puasa sagala. > > Powered by Telkomsel BlackBerry® > ------------------------------ > *From: * Ki Hasan <[email protected]> > *Sender: * [email protected] > *Date: *Tue, 9 Aug 2011 08:15:06 +0800 > *To: *Ki Sunda<[email protected]> > *ReplyTo: * [email protected] > *Cc: *Urang Sunda<[email protected]>; Baraya Sunda< > [email protected]> > *Subject: *[kisunda] Re: Puasa - Ngahargaan nu teu Puasa? > > > > Artikel di handap ditulis di Kompasiana, ieu penulisna: > > Junanto Herdiawan > Ekonom dan penggiat ilmu filsafat. Hobi jalan-jalan dan makan-makan. > Saat ini tinggal dan bekerja di Tokyo. Bertugas mencermati dinamika > ekonomi Jepang, Cina, Korea, Taiwan, dan Hong Kong. > > http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/08/07/di-jepang-hormati-yang-tidak-berpuasa/ > > 2011/8/9 Ki Hasan <[email protected]>: > > Di Jepang, Hormati yang Tidak Berpuasa > > HL | 07 August 2011 | 18:12 > > > > Berpuasa di kota Tokyo memiliki sisi menarik tersendiri. Hal ini > > karena suasana di Tokyo berbeda dengan suasana di tanah air. Kalau di > > Indonesia, Ramadhan adalah sebuah festivities. Saat Ramadhan tiba, > > suasana mall, pusat perbelanjaan, perkantoran, berubah wajah menjadi > > Islami. Di berbagai tempat, banyak restoran yang tutup atau > > menggunakan tirai. Tempat-tempat hiburan malam juga ditutup, kalau > > tidak mau ambil risiko digrebek masyarakat. Alasannya, hormatilah > > orang yang berpuasa. > > > > Namun di Tokyo tidaklah demikian. Justru sebaliknya, aktivitas > > masyarakat saat bulan Ramadhan berjalan normal seperti biasa. Warung > > dan restoran di kota Tokyo tetap buka, dan tentu tanpa ditutup tirai. > > Orang-orang juga tetap makan dan minum di muka umum. Sementara tempat > > hiburan juga tetap buka. > > > > Jepang memang bukan negara muslim dan tidak menyelenggarakan puasa > > sebagai ibadah nasional. Namun hal tersebut tidak mengurangi > > kekhusyukan bagi mereka yang berpuasa. Justru, berpuasa di Jepang > > memiliki makna tersendiri karena kaum muslim mendapatkan langsung > > esensi dasar dari berpuasa, yaitu menahan nafsu, menghargai orang > > lain, dan memupus ego individu atau kelompok. > > > > Selama ini saya cenderung beranggapan bahwa orang puasa itu yang harus > > dihargai. Kalau ada orang makan di hadapan yang berpuasa dianggap > > tidak menghargai yang berpuasa. Di Jepang, justru sebaliknya, kita > > harus menghormati yang tidak berpuasa. Orang berpuasa tidak boleh > > menyulitkan mereka yang tidak berpuasa, apalagi meminta fasilitas dan > > perhatian khusus karena kita berpuasa. > > > > Saat seorang kawan Jepang bertanya mengapa saya tidak makan dan minum, > > barulah mereka memahami bahwa orang muslim sedang berpuasa. Mulanya > > mereka khawatir dengan kesehatan saya karena berpuasa di musim panas > > dianggap berbahaya. Namun saat mengetahui esensi berpuasa, mereka > > sangat memahami dan menghormati. Orang Jepang juga mengenal puasa. > > Mereka menyebut puasa dengan istilah “Danjiki”. Istilah tersebut > > mengacu pada kultur Jepang (Budhisme-Shintoisme) yang juga mengajarkan > > untuk menahan makan dan minum. > > > > Rasa hormat pada yang tidak berpuasa bukan hanya dilakukan saat siang > > hari. Saat malam tiba, sholat tarawih di Tokyo juga dilakukan secara > > tenang dan tidak mengganggu masyarakat. Sholat tarawih di berbagai > > tempat di Tokyo, baik masjid maupun aula, tidak menggunakan pengeras > > suara yang terdengar keluar. Pengeras suara hanya diperdengarkan di > > dalam ruangan saja. Ini adalah bentuk toleransi agar tidak mengganggu > > istirahat masyarakat Jepang yang tidak berpuasa dan sedang istirahat. > > > > Berpuasa di Jepang mengajarkan satu hal, bahwa rasa saling menghargai > > umat lain adalah kunci untuk menjadikan Islam lebih dipahami dan > > dihargai. Mengetahui bahwa kami berpuasa, rekan-rekan Jepang di kantor > > justru menghargai. Mereka tidak makan minum di depan yang berpuasa. > > Padahal, kami tidak pernah melarang dan mempermasalahkan. > > > > Selama tinggal di Jepang, saya justru merasakan bahwa sejatinya, > > orang-orang Jepang ini juga berpuasa. Oleh karenanya, kita harus > > saling menghargai. > > > > Di jalan raya, mereka puasa dengan tidak saling serobot dalam > > mengemudi. Di bis dan kereta, mereka puasa untuk tidak ngobrol dan > > berisik, karena takut mengganggu sekitarnya. Mereka juga puasa > > melakukan kejahatan atau pencopetan di angkutan umum. > > > > Di pekerjaan, mereka puasa tidak membicarakan kekurangan orang. Di > > masyarakat, mereka puasa untuk menahan kepentingan diri demi > > masyarakat dan tatanan yang lebih luas. Mereka mengantri, membuang > > sampah pada tempatnya, dan tertib dalam bermasyarakat. > > > > Bukankah itu juga esensi dari puasa kita? Bahwa kita harus menahan > > nafsu (selama kita hidup), dan bukan menunda nafsu (hanya sampai > > dengan berbuka)? > > > > Selamat berpuasa, dan hormatilah yang tidak berpuasa. Salam dari Tokyo. > > > > > http://luar-negeri.kompasiana.com/2011/08/07/di-jepang-hormati-yang-tidak-berpuasa/ > > >
