Mun istilah "China" jeung "Cina" bisa jeung dianggap penting pikeun
didiskusikeun ku para tukang koran, jigana aya hadena mun koran nu aya di
Bandung, ngadiskusikeun istilah nu ilahar di Tatar Sunda, ngarah pahili
antara "beduk nagrek" jerung "bedug nagreg". Hehehe

===
Antara Cina, China, dan Tionghoa
Senin, 15 Agustus 2011 | 13:01 WIB

*SEBELUM *acara diskusi bahasa "Duduk Perkara Istilah Cina" di Auditorium
Wisma Antara, Jakarta, Jumat, 12 Agustus 2011, dimulai, saya sempat menduga
diskusi ini akan berlangsung adem-ayem saja. Pertama, yang dipersoalkan
hanya istlah Cina. Kedua, ketika jam sudah menunjuk angka dua siang, waktu
yang ditetapkan dimulainya acara, meja-meja dan kursi masih kosong, panitia
masih membenahi persiapan, dan sejumlah narasumber belum kelihatan.

Tapi sekitar setengah jam kemudian, pengunjung mulai memenuhi meja dan
kursi. Para narasumber pun datang, antara lain Abdul Gaffar Ruskhan dari
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, perwakilan Kementerian Luar Negeri
RI, perwakilan Kedutaan Besar Cina, dan sastrawan-budayawan Alif Danya
Munsyi alias Remi Silado.

Seperti umumnya acara di Indonesia, acara diskusi ini pun dimulai satu jam
dari waktu yang ditetapkan. Budaya *ngaret *seperti ini, entah mengapa,
masih terus dipelihara. Akibatnya terasa di sesi tanya-jawab. Masih banyak
hadirin yang ingin bertanya atau menanggapi, masih banyak pertanyaan
menggumpal di banyak kepala, tapi waktu sudah terburu habis.

Persoalan yang diangkat memang hanya satu, istilah mana yang lebih tepat,
Cina (sebagaimana yang dipakai antara lain *Koran Tempo*, *Pikiran Rakyat*,
dan *Tribun Jabar*), China (dipakai antara lain oleh *Kompas *dan *Media
Indonesia*), dan Tiongkok (dipakai oleh *Jawa Pos *dan kelompoknya).

Mendapat giliran pertama, dua wakil dari Kedubes Cina (satu berbicara dengan
bahasa Inggris dan satunya lagi dengan bahasa Indonesia) menolak penggunaan
istilah *Cina *dengan alasan mengandung penghinaan ketika negara itu dijajah
Jepang pada awal abad ke-20. Mereka juga menunjuk era Soeharto ketika
istilah *Cina *dianggap melecehkan.

Wakil dari Kemenlu menceritakan situasi di internal Kemenlu, yakni bahwa
sejak era Soeharto berakhir, ada keinginan istilah Cina ditinggalkan.
Tatkala Gus Dur menjadi presiden, muncul usulan pemakaian Tiongkok. Sekarang
di internal Kemenlu masih berlangsung wacana pemilihan istilah antara *Cina*,
*China*, dan *Tiongkok *dan kecenderungannya menunjuk ke *Tiongkok*. Boleh
jadi karena Presiden SBY sendiri selalu menggunakan *Tiongkok*.

Gaffar Ruskhan, meski cenderung pasif dengan alasan bahwa "kamus merekam
kata yang digunakan masyarakat bahasa", menilai di masyarakat istilah *Cina
*merupakan hal yang lazim. Karena itu, menurut dia, masalah penggunaan
istilah *Cina *dapat diselesaikan dengan kepala dingin tanpa mengingat masa
lalu karena pernah digunakan dengan makna peyoratif "penghinaan". Menurut
Gaffar, penggunaan istilah *China* (dibaca *caina*), selain keliru, juga
tidak lebih dari "pesan sponsor" dengan alasan politis.

Remi Silado lebih tegas. Dalam kalimat pembuka makalahnya yang berjudul
"Bukan China Tapi Cina", Remi menulis, "Bahasa Indonesia kita dalam pers
berhasil diacak- acak oleh selera kedutaan asing." Remi juga mengatakan,
"Terus terang saya tidak mengerti, dan tidak mau mengerti, mengapa
kita—dalam hal ini sebagian media pers—setuju saja dicampuri oleh kedutaan
RRC untuk menyuruh mengeja *Cina *secara Inggris menjadi *China*....
Kedutaan-kedutaan asing lain di Jakarta toh tidak mencampuri ejaan bahasa
Indonesia kita: tidak menyuruh kita mengeja dan melafal negeri-negeri mereka
secara Inggris." Meski begitu, Remi mengusulkan, daripada berdebat terus
tentang *Cina*, *China*, dan *Tiongkok*, penggunaan istilah *Chung Huo*.

Tanggapan hadirin sangat seru. August Parengkuan, redaktur senior harian *
Kompas*, beralasan  bahwa mereka menghargai keinginan masyarakat Tionghoa
yang lebih suka disebut *China*. Selain itu, dengan pemakaian *China*, *Kompas
*mempertimbangkan supaya iklan dari kalangan ini lebih banyak masuk.
(Hmmm... sungguh alasan yang pragmatis.)

Beberapa warga keturunan Tionghoa dengan penuh emosional beralasan UUD 1945
pun menyebut *Tionghoa *dan *Tiongkok*, bukan *Cina*. Tapi seorang muda
keturunan Tionghoa tidak terlalu memasalahkan penggunaan *Cina*, *China*,
atau *Tionghoa*. Sayangnya tidak terdengar, dan memang tidak terlihat, suara
dari para *amoy*.

Dari sekian suara, salah satu yang menurut saya mengena diungkapkan
pengarang Titi Said: "Saya menyebut Cina dengan penuh keagungan. Tak ada
penghinaan sama sekali. Inilah yang perlu diajarkan kepada anak-anak kita."
(*)


*Dapatkan artikel ini di URL:*
http://jabar.tribunnews.com/60704/Antara Cina, China, dan Tionghoa


,

Kirim email ke