PESANTREN MAJLIS TARBIYATUL MUBTADIIN, KEMPEK
Target Menamatkan Satu Kitab Kuning
Kamis, 18 Agustus 2011 | 10:31 WIB
*
ABDUL *Fatah tampak serius memandangi kitab kuning yang berada di
pangkuannya. Dengan saksama, dia menorehkan coretan pensil di kitab yang
berisikan huruf Arab gundul itu. Coretannya, mengikuti suara dari ustaz yang
menggema di sekitar Pesantren Majlis Tarbiyatul Mubtadi'in (MTM), yang ada
di kawasan Pesantren Kempek, Kabupaten Cirebon pada Senin (15/8) malam.


Pria berusia 30 tahun itu sedang belajar kitab Salaf Tabihull Ghofilin yang
terdiri 234 halaman. Satu dari puluhan kitab yang harus dipelajari dan
dikuasainya selama berada di pesantren.

"Saya baru menguasai tiga kitab selama dua belas tahun tinggal di
pesantren," kata pemuda yang menggunakan pakaian khas santri, yaitu sarung
dan kopiah yang dipadukan pakaian muslim.

Kitab yang baru dipelajarinya adalah kitab fikih, tata cara bahasa Arab, dan
bersuci. Menurutnya, belajar kitab dari berbagai sudut pandang ulama bisa
menjadi pengingat beribadah bagi manusia. Seperti tentang salat dan cara
menjadi manusia yang ikhlas. Selain itu, menjadi manusia yang tidak mudah
menyalahkan manusia yang lain, apalagi merasa paling benar.

"Belum tentu menurut kita baik, tetapi menurut kitab ternyata itu tidak
benar. Kita lebih mudah melakukan introspeksi dan saling mengingatkan antara
manusia yang lain. Kita juga tidak boleh memiliki rasa dendam," ujarnya.

Pada bulan suci Ramadan, Abdul harus menguasai satu kitab dalam satu bulan
atau pada hari ke-25. Padahal, pada bulan biasanya selain ramadan, dia
menguasai satu kitab dalam jangka waktu satu tahun. Abdul merupakan satu di
antara ribuan santri yang ada di Pesantren MTM yang belajar dan memperdalam
kitab kuning.

Namun tak hanya santri yang mengikuti pengajian di pesantren ini. Ratusan
warga di sekitar pesantren, setiap malam pada bulan Ramadan mendengarkan
ceramah yang dibawakan Ustaz HM Musthofa Aqiel. Mereka dengan khusyuk
mendengarkannya di pelataran pesantren dari awal sampai selesai.

Tidak ada aktivitas yang berarti setelah salat tarawih, kecuali mendengarkan
pengajian sampai sekitar pukul 22.30. Hampir di setiap ruangan yang ada di
pesantren tersebut, para santri memegang Alquran dan kitab kuning untuk
dipelajari dan dipahami. Gema bacaan Alquran dan pengajian saling
bersahutan.

Kepala Pesantren MTM, Ustaz HM Musthofa Aqiel mengatakan, di pesantren
tersebut ada pendidikan formal dan informal yang diwajibkan bagi seluruh
santri. Intensitas belajar dan memahami kitab pada bulan Ramadan lebih
tinggi dibandingkan pada bulan biasanya.

"Kalau bulan Ramadan, kegiatannya ekstra kurikuler. Semua santri harus
khatam Alquran pada bulan ini. Ada yang bacaan tafsir atau hadis. Santrinya
ada juga yang khusus datang pada bulan puasa. Bahkan, para orang tua
mengharapkan berkah dengan mendengarkan pengajian walaupun mereka tidak
paham," ujarnya.

Selain para santri, para kiai yang berasal dari wilayah III Cirebon, seperti
Indramayu, Kuningan, Majalengka, Kota dan Kabupaten Cirebon, melakukan
diskusi khusus pada Ramadan setiap selesai salat Jumat.

MTM adalah pesantren yang didirikan oleh Mbah Harun pada 1905.  Saat ini,
jumlah santrinya mencapai sekitar 2.000 orang. (*)


Editor : Darajat Arianto

Kirim email ke