PESANTREN HIDAYATUL MUSTAFID KH MOH SYAHIDIN Perdalam Alquran Lewat Ngawaqofan dan Sorogan Rabu, 10 Agustus 2011 | 12:30 WIB
*BISA *dihitung dengan jari pondok pesantren (pontren) yang memfokuskan pendidikan terhadap pendalaman Alquran. Salah satunya yang hingga kini masih eksis adalah Pontren Hidayatul Mustafid KH Moh Syahidin. Sesuai dengan namanya, pontren yang berada di Awipari, Kecamatan Cibeureum, Kota Tasikmalaya, ini didirikan KH Moh Syahidin (almarhum), seorang ahli ilmu Alquran. Sejak didirikan tahun 1952, sudah tak terhitung lulusan yang dicetak. Tidak hanya berasal dari Tasikmalaya, tapi juga luar kota serta luar Pulau Jawa. Terlebih sosok KH Moh Syahidin saat itu dikenal ke mana-mana. Semasa hidupnya ia kerap menjadi anggota juri tilawatil Quran baik tingkat provinsi maupun nasional. Namun sejak KH Moh Syahidin, yang akrab dipanggil Ajengan Syahidin, wafat tahun 1983, pontren tersebut seperti kehilangan sosok. Tahun demi tahun jumlah santri yang semula ribuan terus menyusut. Bahkan namanya mulai tenggelam. Sejumlah pontren baru yang didirikan para alumni malah kini jauh lebih terkenal. "Sejak ayahanda wafat, tidak ada figur yang menonjol di antara putra-putranya. Perlahan tapi pasti jumlah santri terus menyusut," ujar Ajengan Usep, salah seorang putra almarhum Ajengan Syahidin, yang juga pengelola pontren, saat ditemui Tribun di kompleks pontren yang terletak di Kampung Sindangresi, Kelurahan Awipari, ini Rabu (3/8). Tidak mau terlena dalam keterpurukan, pontren yang kini dipimpin KH Nandang Jafar Sidiq, kakak kandung Ajengan Usep, itu berupaya bangkit kembali. Konsep pendidikan tetap terfokus pada pendalaman Alquran karena hal itu sudah sesuai dengan amanat Ajengan Syahidin sebelum wafat. Kegiatan pendidikan dilakukan di kompleks pontren yang terdiri dari sepuluh bangunan. Antara lain rumah kiai dan pengelola lainnya, asrama putra dan putri, masjid, serta aula yang berfungsi sekaligus untuk tempat belajar. Lokasi pontren yang berada di daerah pinggiran kampung membuat suasana tenteram sehingga para santri bisa menimpa ilmu dengan tenang. "Upaya bangkit dari keterpurukan tidak sia-sia. Saat ini jumlah santri sekitar 150 orang," ujar Ajengan Usep. Mereka mendapat pendidikan tentang Alquran. Tidak hanya sekadar pandai membaca, tapi juga mengetahui tata bahasa yang baik serta mengerti makna yang terkandung di dalamnya. Memasuki bukan suci Ramadan, pembelajaran Alquran lebih diperdalam lagi, yakni melalui kegiatan *ngawaqofan *(belajar mengetahui di mana harus memulai dan di mana harus berhenti membaca Alquran). Santri juga diwajibkan mengikuti kegiatan sorogan (membaca Alquran sambil diawasi guru agar diketahui salah benarnya). Menurut Ajengan Usep, kegiatan *ngawaqofan *dan sorogan merupakan kegiatan khas yang terdapat di pontren yang berbasis pendalaman Alquran. Karenanya, setiap Ramadan pasti ada santri kilat yang ingin mengikuti kedua pelajaran tersebut. Pada Ramadan 1432 H ini ada sekitar 20 santri kilat yang datang dari berbagai penjuru Jabar dan Jateng. "Kegiatan *ngawaqofan *memang sangat penting artinya untuk mempelajari di mana harus memulai dan di mana mesti berhenti membaca kalimat Alquran sehingga tidak rancu memaknai kalimat," jelas Ajengan Usep. Untuk kegiatan *ngawaqofan*, santri harus memiliki kitab Alquran yang baru. Hal itu dilakukan untuk mempermudah memberikan tanda-tanda baru, yakni *waqof *dan *wasol*. "Dalam kegiatan *ngawaqofan*, gurulah yang membaca Alquran sekaligus memberitahukan di mana mulai membaca dan di mana mulai berhenti. Santri hanya mendengarkan sambil memberi tanda," kata Ajengan Usep. Selain memperdalam kedua kegiatan tersebut, para santri juga memperdalam ilmu *tajwid *dan *qiroat *(membaca Alquran dengan lantunan yang indah). (*) Penulis : Firman Suryaman Editor : Darajat Arianto http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/60194/Perdalam-Alquran-Lewat-Ngawaqofan-dan-Sorogan
