PESANTREN DARUL FALAH, CIHAMPELAS
Alarm Air Bangunkan Santri yang Ketiduran
Jumat, 12 Agustus 2011 | 10:50 WIB

*MEMAKAI *baju koko, sarung, dan sandal jepit, belasan santri keluar dari
asramanya yang mereka sebut kobong. Berjalan menuju masjid, mereka
membicarakan ayat-ayat Alquran yang akan dibaca sambil membuka-buka halaman
Alquran yang mereka genggam. Tidak lupa melepas sandal sebelum menginjak
tangga, para santri pun langsung masuk ke masjid dan duduk melingkar di atas
karpet hijau.

Tanpa persiapan panjang, salah satu dari mereka memulai tadarus Alquran itu
dengan bacaan taawud. "Bismillahirrahmanirrahim," ucap santri yang memakai
peci itu.

Santri lainnya mendengarkan lantunan ayat-ayat Alquran yang dibacakannya
sambil menggerakkan telunjuk mengikuti tulisan dalam Alquran yang ada di
depan mereka.

Di sudut lain, sekelompok santri membaca berbagai jenis kitab bertuliskan
huruf Arab. Mereka sedang mempelajari kajian Islam yang ditugaskan
bersama-sama. Di luar, duduk di tangga halaman masjid, dua santri perempuan
pun melantunkan ayat-ayat suci dari Alquran berukuran mungil yang terbuka di
tangan mereka. Semilir angin sepoi-sepoi menyeka wajah mereka, mengibaskan
ujung jilbab yang menutupi kepala.

Suasana di Pesantren Darul Falah Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, ini
kerap terlihat pada bulan Ramadan seperti sekarang. Para santri di salah
satu pesantren terbesar di Kabupaten Bandung Barat tersebut menggiatkan diri
untuk lebih banyak mengkaji Alquran dan kitab-kitab berisi ajaran Islam
lainnya di bulan suci ini.

"Biasanya kami bertadarus pagi, siang, sore, dan malam. Begitu juga dengan
pengkajian kitab kuning. Tahun ini kitab kuning yang dikaji adalah Sulam
Attaufiq karya Imam Nawawi Al Bantani," kata Rais Asrama Putra, Cecep
Ramdhan (22), yang ditemui di halaman gedung kelas pesantren, Selasa (9/8).

Cecep mengatakan, jadwal tadarus Alquran dan pengkajian kitab kuning yang
paling intensif pada bulan Ramadan dilakukan setelah salat Tarawih sampai
pukul 24.00 alias tengah malam. Setelah para santri libur, sekitar hari
ke-23 Ramadan, mereka akan membaca kitab-kitab tersebut sampai pukul 02.00.

"Setelah itu kami bersantap sahur bersama. Kadang ada santri yang tidur
sejenak setelah makan sahur sambil menunggu azan Subuh. Makanya, suka ada
santri yang susah dibangunkan. Kalau sampai susah dibangunkan seperti itu,
kami akan menyiramnya dengan segayung air. Itu sudah tradisi kami. Salat
Subuh berjemaah di sini wajib hukumnya," kata Cecep sambil tersenyum.

Dia mengatakan, sampai hari Selasa (8/9) ada tiga santri yang kena siram
karena susah dibangunkan untuk salat Subuh. Para santri pun tidak ada yang
marah, bahkan yang kena siram sekalipun. Paling para santri itu tertawa
akibat kejadian "alarm air" tersebut.

KH Asep Burhanuddin, pemimpin Pesantren Darul Falah sekaligus Rais Syuriah
PWNU Jawa Barat, mengatakan berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian
yang terbuka  untuk umum dan penambahan kegiatan pengkajian ajaran Islam
bagi para santri selalu dilakukan di pesantrennya setiap bulan Ramadan.

"Setiap hari Selasa, pukul 07.00 sampai 09.00 digelar pengajian umum di
masjid. Acara ini diikuti oleh 2.000 orang jemaah. Di hari yang sama, pada
pukul 09.00 sampai 12.00 digelar acara pengkajian kitab kuning seperti kitab
Ihya Ulumuddin. Pengajian kedua ini diikuti oleh 100 kiai dari KBB,
Kabupaten Bandung, Cimahi, Kota Bandung, Cianjur, dan Purwakarta," kata
Ajengan Asep, sapaan akrab KH Asep Burhanuddin. (*)

Penulis : M Syarif Abdussalam
Editor : Darajat Arianto
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/60400/Alarm-Air-Bangunkan-Santri-yang-Ketiduran

Kirim email ke