Ngabandungan kiriman seratan pasantren ti MH, kuring bet leungiteun ajengan. Nu 
araya geuning ustad, KH, duka kamana ajengan2.Memang gelar ajengan pan 
pangakuan masyarakat ka jalma nu luhung elmu agama jeung boga pangaweruh ka 
masayarakatna. Kulantaran urang sunda geus teu aya atawa basa sunda geus teu 
dipake nya ngakibatkeun Ajengan teu aya nu makekeun. Boa2 aya anggapan Ajengan 
kurang bergengsi batan KH (= basa sunda dianggap kurang bergengsi batan.....).
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Ki Hasan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 23 Aug 2011 02:57:50 
To: Ki Sunda<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: Baraya Sunda<[email protected]>; Urang 
Sunda<[email protected]>
Subject: [kisunda] Atikan - Pasantren Margasari, Ciwastra Bandung

PONDOK PESANTREN MARGASARI, CIWASTRA
Satu Hari Tamat Belajar Satu Kitab
Senin, 8 Agustus 2011 | 11:39 WIB

*DILIHAT* dari Jalan Raya Margasari, Ciwastra, Kota Bandung, suasana Pondok
Pesantren (Pontren) Margasari, Ciwastra, terkesan sepi. Seperti tidak ada
kegiatan santri pada setiap harinya, termasuk suasana di bulan Ramadan ini.

Namun setelah melewati gerbang halaman dan memasuki masjid pontren, barulah
terlihat beberapa kelompok santri yang mengaji kitab-kitab. Setiap kelompok
dipimpin seorang ustaz. Di situlah terasa suasana pontren yang hidup.

Para santrinya beragam, mulai kalangan anak yang masih duduk di sekolah
dasar, SMP, dan SMA hingga kalangan dewasa atau mahasiswa.

"Di sini kami berkegiatan sejak setelah sahur hingga setelah Tarawih," kata
Ustaz Umar Rosadi, salah seorang pengurus Pontren Margasari, saat
ditemui *Tribun
*di pontrennya, Kamis (4/8).

Kegiatan itu, kata Umar, bermula seusai sahur dengan beriktikaf di masjid,
lalu salat Subuh berjemaah dan dilanjutkan dengan kuliah Subuh mulai pukul
05.00 hingga 06.00. Setelah itu para santri dan ustaz disibukkan dengan
kegiatan masing-masing yang sifatnya duniawi, seperti sekolah bagi santri
yang masih duduk di bangku SD atau SMP/SMA, dan kuliah bagi santri
mahasiswa.

"Yang sudah pulang dari kegiatan masing-masing tetap harus salat berjemaah
Zuhur. Lalu kegiatan dimulai lagi pukul 14.30 hingga malam diselingi oleh
salat Asar, buka puasa, salat Magrib, Isya, dan Tarawih," ujar Umar.

Kegiatan mengaji di pontren yang didirikan oleh KH Muhammad Burhan (alm)
pada tahun 1930 ini dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama, kelompok
Ibtida, yakni kelompok anak-anak yang mengaji Kitab Dardir atau kitab yang
mengisahkan Isra Miraj. Kelompok kedua, Wusto, yakni kelompok remaja yang
mengaji *samrotul jania*h atau kitab ilmu nahwu dan hadis arbain. Ketiga,
kelompok Ali, yakni kelompok dewasa yang mengaji soal fikih Tafsir Munir.

"Mengaji kitab di masing-masing kelompok itu hanya sampai pukul 15.30 dan
kitab yang dibaca satu kali tamat, lalu ganti kitab lain pada hari
berikutnya. Masih pada sore itu juga kami mengaji Alquran, tadarusan sampai
pukul 16.30. Setelah itu pulang ke pondok. Mereka masak menyiapkan buka
puasa dan makan," kata Umar, putra pemimpin Pontren Margasari, KH Amin
Fakih, penerus dari KH Muhammad Burhan.

Bicara soal makanan buka puasa atau makan besar, di pontren yang dihuni 70
santri *ngalong* (tidak bermukim) dan 40 santri mukim (tinggal di pontren)
ini selalu disiapkan dengan cara memasak bersama. Bahkan mereka kerap
memasak nasi bersama dengan *diliwet* atau *ngaliwet*, yakni menanak nasi
langsung di dalam kastrol dan nasi itu biasanya sudah diberi bumbu mulai
garam, cabai rawit, daun salam, sereh, dan bawang. Jika santri sedang punya
uang, biasanya ada tambahan berupa daging atau telur ayam.

"Kami di sini suka *ngaliwet* saja kalau makan, baik buka puasa maupun
sahur. Enak, bisa merasakan suasana kebersamaan. Susah dan senang bisa
dirasakan bersama," kata Dadan, salah seorang santri, saat ditemui Tribun
sebelum mengaji di masjid Pontren Margasari.

Setelah menjalani salat Tarawih, kata Ustaz Umar, semua santri melakukan
tadarusan sampai pukul 21.00. Lalu khusus yang kelompok Ali melanjutkan
dengan diskusi tentang fikih. "Diskusi ini tidak dibatasi waktu, kadang bisa
sampai pukul 12 malam, kadang bisa juga sampai sahur," kata Umar. (*)


Penulis : Dedy Herdiana
Editor : Darajat Arianto
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/59930/Satu-Hari-Tamat-Belajar-Satu-Kitab-

Kirim email ke