Tah jigana, ieu pasantren basa panganteurna masih basa Sunda yeuh. Ieu cenah cuplikan pupujian santri bari nungguan mangsa magrib.
"Estu kami geus nurunkeun Quran jeung nya ku Kami teh diraksana pisan, ieu nadom nami surat tina Quran mugiya manfaat ka sadaya ikhwan (Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kami telah menjaga keutuhan Alquran, Nadom ini berisi nama Surat Alquran semoga memberikan manfaat bagi semua orang)," ===== PESANTREN BAITUROHMAH, KECAMATAN BUAHBATU Santri Bernyanyi untuk Menghafal Surat Alquran Selasa, 23 Agustus 2011 | 12:57 WIB *SAMBIL *menanti azan Magrib, sejumlah santri cilik bernyanyi seperti melantunkan ayat-ayat Alquran di Pesantren Baiturohmah, Jalan Jatisari No 54, Kelurahan Jatisari, Kecamatan Buahbatu, Bandung, Sabtu (20/8). Kegembiraan menghiasi wajah mereka. Mereka bernyanyi dengan fasih bak penyanyi terkenal. Santai mengatur irama, bocah-bocah itu menggoyangkan kepala ke kanan dan kiri. Mereka mendendangkan syair lagu ciptaan Muhammad Zaenudin, pemilik Pesantren Baiturrohmah. "Estu kami geus nurunkeun Quran jeung nya ku Kami teh diraksana pisan, ieu nadom nami surat tina Quran mugiya manfaat ka sadaya ikhwan (Sesungguhnya Kami telah menurunkan Alquran dan sesungguhnya Kami telah menjaga keutuhan Alquran, Nadom ini berisi nama Surat Alquran semoga memberikan manfaat bagi semua orang)," begitu cuplikan syair lagu itu. Mereka bernyanyi bukan tanpa tujuan. Tapi, begitulah cara mereka menghafalkan nama-nama surat Alquran yang berjumlah 114. "Metode bernyanyi merupakan salah satu cara mengajar kami agar para santri lebih mudah dalam menghafal," kata Zaenudin. Menurut Zaenudin, cara ini sudah berlangsung sejak 1995. Belajar sambil bernyanyi, ujarnya, dapat membuat suasana hati santri gembira dan senang. Para santri tidak mudah bosan dan lupa. Pesantren Baiturrohmah tampak seperti rumah hunian. Bangunannya memanjang berdampingan dengan sarana, fasilitas dan masjid Nurul Iman, dan tempat para santri melakukan kegiatan agama. Pesantren ini berdiri di atas tanah seluas 26 tumbak (sekitar 3.600 m2). "Siapa bilang pesantren harus ada pondok yang besar dan megah beserta ratusan santri," kata Zaenudin, yang juga sekaligus menjadi pengelola pesantren. Pesantren Baiturrohmah, kata Zaenudin, tidak bernaung di bawah yayasan atau lembaga Islam tertentu. Netral, tidak ada donatur resmi. Tanpa pungutan dari warga, Zaenudin membangun pesantren yang ada sejak 19 tahun silam ini menggunakan uang pribadinya. Bahkan, ia pun rela menjadi guru di pesantren itu. "Kami tidak memakai tenaga pengajar. Hanya kami sekeluarga yang menjadi tenaga pengajar," kata Zaenudin. Zaenudin mengaku, warga sekitar pesantrenlah yang banyak menjadi santri di Baiturrohmah. Mereka terbagi dalam dua kelompok, santri cilik (usia di bawah 15 tahun) dan santri remaja (usia 15 tahun ke atas). Tanpa batas latar belakang dan usia untuk belajar mencari ilmu agama di Pesantren Baiturrohmah. "Dari santri yang masih duduk di bangku sekolah dasar sampai ibu-ibu dan bapak-bapak, kami terima," kata Zaenudin. Menurut Zaenudin, selama bulan Ramadan, ada sedikit perubahan jadwal kegiatan pengajian di Baiturrohmah. Biasanya, pengajian ibu-ibu setiap Jumat dan pengajian bapak-bapak setiap minggu setelah Magrib sampai Isya. Selama Ramadan, pengajian berlangsung setelah salat Tarawih. Santri cilik dan remaja tetap mempelajari Alquran, tarikh, fikih, bahasa Arab, dan hadis Riyadus Solihin tanpa perubahan jadwal. Selama Ramadan, mereka tetap belajar tiap hari. "Bulan Ramadan tak memengaruhi jadwal rutin santri yang masih muda," ujar Zaenudin. Namun, sepanjang bulan Ramadan, ia menganjurkan supaya para santri remaja mengkhatamkan Alquran minimal satu kali. Sedangkan santri cilik harus menghafalkan Surat Al-Mulk. Kelak ada ujian sebelum bulan puasa berakhir. "Dengan harapan terhindar dari siksaan kubur, sudah ada enam santri cilik yang hafal," kata Zaenudin. (*) Penulis : Teuku Muhammad Guci Syaifudin Editor : Darajat Arianto http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/62521/Santri-Bernyanyi-untuk-Menghafal-Surat-Alquran
