Santri Sibuk Terima Pesanan Senin, 22 Agustus 2011 | 10:46 WIB *BERAWAL *dari sebuah musala kecil tahun 1994, di Gang Suka Bakti II No 47, RT 008/03, Kelurahan Cipedes, Kecamatan Sukajadi, Kota Bandung, KH Adang Wahyudin merintis sebuah pesantren. Lokasinya yang berada di tengah-tengah permukiman padat kawasan Sukajadi membuat kabar cepat menyebar dari mulut ke mulut.
Ia mulai mengajak anak-anak muda pengangguran yang sehari-hari bergelut dengan narkotika dan obat-obatan terlarang untuk mondok dan mandiri di pesantren. Penuh perjuangan dan doa yang dilakukan oleh KH Adang beserta keluarga untuk mendirikan sebuah pesantren. Doa serta usahanya terkabul, warga yang memiliki kebesaran hati merelakan sebagian tanahnya untuk diwakafkan dan dikembangkan menjadi pesantren. Musala kecil pun berubah menjadi sebuah masjid yang cukup memadai saat ini. Tidak hanya masjid yang dibangun, bersamaan dengan itu dibangun pula asrama putri serta peternakan kambing dan ayam di tengah-tengah lokasi pesantren. Pendidikan agama Islam di lingkungan An-Nur semakin lengkap karena saat ini telah dibangun pula taman kanak-kanak, taman pendidikan Alquran (TPA), dan majelis taklim. "Sudah hampir lima belas tahun terakhir, kami mengembangkan peternakan ayam dan kambing sebagai satu wirausaha para santri. Awalnya beternak ayam kambing ini modal sendiri," ujar Eep Saeful Anwar (30), seorang tenaga pengajar pesantren. Selain pengajian rutin, di An-Nur juga diajarkan bagaimana cara beternak dengan baik dan benar. Eep mengatakan di bulan Ramadan biasanya pemesanan ayam dan kambing cukup banyak sehingga diperlukan kerja sama yang baik di antara para santri untuk bertugas memberi makan hewan dan membersihkan kandangnya. Adapun santri putri diberi tugas mempersiapkan makanan untuk berbuka puasa. "Selain Idulfitri, yang banyak permintaan adalah saat Iduladha. Di pesantren bisa sampai 40 ekor kambing dan sapi yang dipotong," katanya. Seorang santri, Wahid Hasim (20), Sabtu (20/8) pagi terlihat mengaduk pakan di sebuah ember berwarna hijau di sekitar kandang ayam. Dengan suara tabuhan dan siulan, puluhan ayam kampung menghampirinya seperti sudah tahu akan datangnya jam makan. "Keuntungan dari penjualan ayam dan kambing ini dibelikan lagi anak ayam. Jika laku satu domba maka ada pemberian Rp 50 ribu untuk yang mengambil rumput. Untuk pakan, kami mengambil dari Pasar Sederhana," katanya. Pendiri Pondok Pesantren, KH Adang Wahyudin, mengatakan kegiatan lainnya di pesantren untuk masyarakat adalah ibu-ibu pengajian setiap hari Kamis, istigasah setiap Selasa, serta majelis zikir tiap hari Rabu. "Kami di sini sering menampung santri-santri yang kurang mampu, anak yatim, insya Allah ditampung, atau anak dari keluarga berkekurangan bisa tinggal di sini. Kami melatih mereka agar mandiri. Kami juga punya koperasi untuk memenuhi kebutuhan santri," ujarnya. Di bulan Ramadan ini, para santri memiliki kegiatan khusus, yaitu menamatkan pembacaaan Alquran yang dilakukan menjelang berbuka, setelah Subuh dan Tarawih. Santri yang belajar dan mondok di Pesantren An-Nur ini datang dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa. Kebanyakan mereka kuliah di UPI Bandung, sementara santri yang mondok kebanyakan berasal dari Cianjur dan Garut. "Alhamdulillah, kami juga kedatangan mualaf asal Bangka keturunan Tionghoa. Ia datang sendiri, niatnya mau ke Daarut Tauhiid, tidak ada program pesantren. Ketemu di Masjid As Syuhada dibawa sama saya ke sini, ia sekarang jualan di Pasar Sederhana," kata KH Adang. (*) *Dapatkan artikel ini di URL:* http://jabar.tribunnews.com/61360/Santri Sibuk Terima Pesanan
