PESANTREN CIJANTUNG, CIAMIS
Sekali Salat Tarawih Tamat Satu Juz
Kamis, 25 Agustus 2011 | 11:57 WIB

*PONDOK *Pesantren Cijantung, Ciamis, yang berdiri tahun 1935, sejak dulu
terkenal dengan *cai quro*-nya, air mata segar yang mirip air zamzam. *Cai
quro *ini dulu mengalir dari pancuran dan sumur tempat santri berwudu dan
mengambil air minum.

Namun sekarang *cai quro* tersebut sudah dikelola dengan baik oleh manajemen
pondok pesantren yang berlokasi di sisi Jalan Raya Ciamis-Banjar Km 4, Dusun
Citutut, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, di sisi selokan Cijantung
persimpangan Cijantung tersebut.

"Sekarang *cai quro*-nya sudah dikemas seperti halnya air mineral atau air
kemasan, baik itu kemasan gelas, botol, maupun galon. Namanya Air Quro,
Dipasarkan tidak hanya di Ciamis, tetapi juga sampai ke Tasikmalaya, Banjar
dan Garut," ujar KH Drs Ahmad Hidayat SH, salah seorang pengasuh Pondok
Pesantren Cijantung, kepada Tribun, Senin (22/8).

Mata air *cai quro* yang berada di Kompleks Pondok Pesantren Cijantung ini
sejak ponpes ini didirikan KH Moh Sirodj (alm) tahun 1935 tidak pernah
kering meskipun saat kemarau. Saat musim hujan pun, mata air ini tidak
pernah tercemar air keruh.

"Alhamdulillah, sampai hari ini mata air *cai quro *terus mengalir dengan
jernih. Dulu mengalir bebas di pancuran, tetapi sekarang sudah dikelola
dengan baik," ujar Kiai Ahmad. Pondok Pesantren Cijantung ini, kata dia,
saat pertama didirikan semula berada di Dusun Cijantung. Tahun 1940,
pesantren dipindahkan ke Dusun Citutut RT 01/05, Desa Dewasari, Cijeungjing.

Awalnya jumlah santri ada 50 orang. Sekarang, Ponpes Cijantung mengembangkan
diri dengan mendirikan sekolah formal, seperti Madrasah Mualimin (PGA 6
tahun yang berdiri tahun 1970), kemudian disusul SPG Al Islam (berdiri tahun
1976 sampai tahun 1994), MTs al Islam (berdiri tahun 1985), dan Madrasah
Aliyah (berdiri tahun 1988 yang merupakan leburan dari PGA 6 tahun dan tahun
1995 menjadi MA Negeri Cijantung). Jumlah santrinya mencapai 800 orang yang
seluruhnya tinggal di kompleks ponpes.

Para santri ini merupakan siswa dari sekolah formal, mulai MTs hingga MAN
Cijantung. Mereka berasal dari berbagai kabupaten dan kota di Jabar serta
luar Jabar.

Puluhan ribu alumninya tersebar di tanah air. Ponpes Cijantung pun memiliki
lima cabang, yaitu Ciluncat, Pamalayan (Ponpes Ar Risalah Cijantung), di
Ancol, Sindangkasih (Ponpes As Sifa), di Banjarsari (Ponpes Muhaimin),
Cileunyi, Bandung (Ponpes Cijantung VI), dan di Kalimantan (Ponpes Cijantung
V).

Berbeda dengan pesantren lainnya di Ciamis, sejak dulu Pondok Pesantren
Cijantung lebih menekankan kemampuan membaca, memahami dan menghafal Alquran
bagi santrinya. Lengkap dengan nagemah, membaca Alquran dengan nyanyian yang
khas.

Karena itu, Pondok Pesantren Cijantung ini sejak dulu tidak hanya melahirkan
juru  dakwah yang andal, tetapi juga melahirkan qari dan qariah terkenal.

Untuk membuat santri mampu membaca Alquran dengan baik, para santri sudah
belajar sejak di tingkat MTs. Mulai materi amfilati, qiroati, tajuwid,
sampai fikih dan menghafal Alquran (tahfiz).

Selama bulan Ramadan merupakan hari-hari bagi santri Pondok Pesantren
Cijantung mematangkan kemampuan membaca dan hafalan Alqurannya lewat
kegiatan tadarus. Ini merupakan bagian dari cara Ponpes Cijantung melahirkan
para hafiz (penghafal Alquran).

"Tiap hari santri senior atau guru pengawas menerima laporan kemajuan dari
tiap santri, jumlah ayat yang berhasil dihafalnya dalam sehari itu. Pokoknya
semalas-malasnya santri di sini, minimal hafal Juz Amma sebagai bekal ia
untuk menjadi imam salat," ujar KH Ahmad.

Makanya jangan heran pula bila di Pondok Pesantren Cijantung salat Tarawih
selalu dengan lantunan ayat yang panjang. Setiap kali salat tarawih setiap
malam Ramadan tamat satu juz Alquran. Cukup lama juga, antara 30 menit,
kadang sampai satu jam lebih. Imamnya adalah ustaz atau dewan guru yang juga
hafiz (penghafal Alquran).

"Dalam bulan Ramadan kali ini yang paling sering jadi imam salat tarawih
adalah Ustaz Azir," ujar Ahmad.

Salat tarawih di Pondok Pesantren Cijantung berlangsung selepas salat Isya
di masjid ponpes yang saat ini masih dalam tahap renovasi. Jumlah rakaat
salat Tarawihnya adalah 20 rakaat plus tiga rakaat salat witir.

"Jumlah rakaatnya sama saja dengan salat Tarawih sebagaimana umumnya. Yang
berbeda itu adalah jumlah ayat yang dibaca oleh imam. Setiap kali salat
Tarawih, bacaan imamnya tamat satu juz Alquran. Jadi selama bulan Ramadan,
bacaan imamnya diharapkan tamat satu kitab Alquran," ujar Kiai Ahmad, yang
juga Ketua MUI Ciamis. (*)

Penulis : Andri M Dani
Editor : Darajat Arianto
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/64392/Sekali-Salat-Tarawih-Tamat-Satu-Juz

Kirim email ke