PESANTREN AL-FALAHIYAH CIKONENG Selama Puasa Khusus Belajar Tata Bahasa Arab Rabu, 3 Agustus 2011 | 11:09 WIB
*BULAN *puasa ini semua santri di Pesantren Al-Falahiyah di Desa Cikoneng, Kecamatan Ganeas, Sumedang, wajib belajar gramatikal atau tata bahasa Arab. Sejak pukul tiga sore setiap harinya, terhenti oleh buka puasa, salat magrib, isya sampai tarawih, membaca kitab ilmu alat atau nahwu sharaf dilakukan sampai malam. "Membaca kitab Nahwu Sharaf ini menjadi kajian wajib selama bulan puasa ini. Ini menjadi ciri khas pesantren kami sejak berdiri 70 tahun lalu," kata KH Idad Istidad, pengasuh santri, di Pesantren Al-Falahiyah, Selasa (2/8). Mempelajari tata bahasa Arab ini wajib bagi santri, karena jika sudah paham kitab ini, akan sangat mudah membaca dan mempelajari kitab-kitab yang lain. "Belajar kitab Nahwu Sharaf atau tata bahasa ini merupakan yang paling sulit. Ini ilmu dasar belajar bahasa Arab. AlQuran itu selama 300 tahun setelah Nabi Muhammad itu ditulis dengan Arab Gundul dan baru tiga tahun setelah itu lahir ilmu Nahwu Sharaf," katanya. Saat pagi hari, tak terlihat aktivitas yang mencolong di pesantren yang terletak di pinggir Jalan Sumedang-Wado itu. "Kalau pagi, kebanyakan santri masih tiduran, karena belum ada kegiatan. Baru setelah siang, mereka beraktivitas," kata KH Idad yang merupakan anak pendiri pesantren, KH Ahmad Falah ini. Namun begitu, ada juga beberapa santri yang sudah beraktivitas. "Di kobong atau asrama putri ada juga yang mengaji, sedangkan di kobong putra itu santri baru pulang menyabit rumput untuk pakan sapi," kata Idad. Beberapa santri memang terlihat melepas penat dengan membuka baju dan hanya bertelanjang dada setelah menyabit rumput di depan asrama. "Ada sebelas sapi yang dipelihara para santri," kata Idad sambil menunjuk kandang sapi yang ada di pojok pesantren ini. Disebutkannya, tak sedikit dari para santri yang ikut menyabit rumputu itu adalah anak pejabat. "Diantara mereka ada anak pejabat dari kabupaten di luar Sumedang yang sebelumnya juga alumni pesantren ini. Mereka menikmati kehidupan di pesantren salafiyah yang memang seperti ini," katanya lagi. Mereka, kata Idad, tidak canggung lagi karena sudah diberi tahu orang tuanya. "Sebelumnya orang tuanya juga mondok di pesantren ini dan mengalami episode menyabit rumput," katanya. Sementara itu untuk menyediakan makan, baik saat puasa ketika buka puasa sampai sahur itu, para santri memasak sendiri. "Semua santri masak sendiri mulai dari menanak nasi dengan kastrol sampai memasak lauk pauknya. Memasaknya juga memakai kayu bakar," kata Idad. Praktis menjelang buka puasa atau sahur, para santri ini sudah berada di dapur. "Sebelumnya kami membuat ada petugas di dapur yang menyediakan makanan, tapi hanya berjalan beberapa kali saja dan para santri itu mmeilih memasak sendiri," kata Idad yang juga anggota DPRD Sumedang dari PKB ini. (*) Penulis : Deddi Rustandi Editor : Darajat Arianto http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/59277/Selama-Puasa-Khusus-Belajar-Tata-Bahasa-Arab
