PESANTREN AL BURDAH, KUTAWARINGIN
Ramadan Saatnya Ujian Kenaikan
Jumat, 26 Agustus 2011 | 11:34 WIB

*TERLETAK *di daerah persawahan yang hijau, tinggal di Kompleks Pondok
Pesantren (Pontren) Al Burdah terasa menyegarkan. Semilir angin dan kicauan
burung menambah kesan alami di kompleks pontren seluas kurang lebih 1
hektare itu.

Sebanyak 290 santri laki-laki dan perempuan yang mondok di pontren yang
berlokasi di Kampung Cigalumpit, Desa Gajahmekar, Kecamatan Kutawaringin,
Kabupaten Bandung, ini pun merasakan hal yang sama.

Tak mengherankan, dalam lingkungan yang asri dan tenang seperti itu,
mempelajari dan memperdalam ilmu agama Islam terasa menyenangkan. Suasana
alam pedesaan dan senyum yang selalu mengembang di bibir para santri membuat
lingkungan di sini terasa menenteramkan.

"Kami memang sengaja menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Selain
mempelajari ilmu agama Islam yang tekstual, kami juga memberi warna lain
dengan mengolah rasa melalui aktivitas berkesenian," ujar KH Ahmad Busyiri
Muslim, pemimpin Pontren Al Burdah, saat ditemui di pontren yang
dipimpinnya, Selasa (23/8).

Tentu kesenian yang dikembangkan pun yang khas pesantren. Rata-rata, santri
di sini mahir memainkan rebana. Setiap saat mengalun senandung hadrah
marawis yang ditimpali pukulan rebana. Hal ini semakin menguatkan kesan
tentang pontren tradisional khas Indonesia.

Menurut KH Ahmad, sama seperti pontren pada umumnya, di Pontren Al Burdah,
para santri mempelajari dan memperdalam ilmu agama Islam, seperti ilmu
fikih, *nahwu sharaf*, ilmu hadis, dan pembinaan akhlakul karimah.

Namun dari sekian banyak ilmu yang diajarkan, kata KH Ahmad, Pontren Al
Burdah lebih memprioritaskan ilmu yang langsung berhubungan dengan
masyarakat. Seperti pemantapan salat, wirid, salawat, tahlilan, tata cara
mengurusi jenazah, dan dakwah.

"Karena jarang diajarkan, jangan sampai umat Islam mengurusi soal jenazah
saja nggak bisa," ujar KH Ahmad.

Pada bulan Rramadan, aktivitas di pontren yang berdiri sejak tahun 1980 ini
cukup padat. Mulai sahur hingga sahur lagi dipenuhi dengan berbagai
aktivitas memperdalam agama Islam. Di akhir Ramadan, setiap santri
diwajibkan beriktikaf.

Bulan Ramadan bagi santri Al Burdah juga merupakan bulan ujian. Sebab, di
bulan inilah digelar ujian tahunan, semacam ujian akhir kenaikan kelas pada
pendidikan umum. Semua materi pelajaran selama setahun diujikan.

"Setelah rampung ujian, atau menjelang Lebaran, aktivitas pontren
diliburkan. Santri masuk kembali dua minggu setelah Lebaran," kata KH Ahmad.
(*)

Penulis : Ichsan
Editor : Darajat Arianto
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/65611/Ramadan-Saatnya-Ujian-Kenaikan

Kirim email ke