Pontren Nurul Anwar, Cibabat
Tanpa Piring, Para Santri Pun Sahur dan Berbuka
Senin, 1 Agustus 2011 | 10:24 WIB

*DATANGNYA *bulan suci Ramadan menjadi momentum penting yang telah
ditunggu-tunggu warga Pondok Pesantren (Pontren) Nurul Anwar, Cibabat, Kota
Cimahi. Kegiatan memperdalam pemahaman terhadap kandungan kitab Alquran,
serta mengkaji kitab tauhid, fikih, dan tasawuf, seakan tak pernah berhenti
sepanjang siang, malam, hingga dini hari.

"Kegiatan yang biasa kami lakukan bersama para santri di sini adalah
mengkaji kitab kuning yang berlangsung sejak pukul 24.00 hingga menjelang
sahur. Istilahnya pasaran. Malam setelah tarawih hingga sekitar pukul 22.00
kami bersama-sama tadarusan Alquran," ujar pendiri Pontren Nurul Anwar, Buya
M Nuryi Saman, Jumat (29/7) siang.

Kajian kitab kuning berisi ajaran tauhid, fikih, dan tasawuf yang dilakukan
di pondok pesantren yang didirikan akhir tahun 1990 di RT 06/15, Kelurahan
Cibabat, Cimahi Utara, ini boleh diikuti masyarakat umum.

"Kajian serupa juga dilakukan di cabang Pontren Nurul Anwar di Kebonjukut,
Holis, Cipeundeuy, Cibitung (Bekasi), dan Cikarang (Bekasi). Kalau buat
santri yang mukim, tentu saja kajian-kajian seperti ini wajib diikuti," ujar
Buya sambil tersenyum.

Antusiasme masyarakat memperdalam agama Islam, menurut Buya, memang tidak
lagi sebesar di masa awal pendirian Pontren Nurul Anwar-Cibabat. Tapi Buya
tetap optimistis pondok pesantren masih menjadi tempat paling tepat buat
belajar agama Islam sekaligus menjadi benteng untuk mencegah meluasnya
penyakit sosial di tengah masyarakat.

"Pemerintah punya kebijakan dan pendanaan buat mengatasi penyakit sosial.
Tetapi yang benar-benar bisa menyentuh dan membina orang-orang yang telanjur
jadi preman, narapidana, dan sejenisnya, ya, pondok pesantren. Hanya saja,
sekarang masih banyak pesantren masih kesulitan mencari biaya operasional.
Jadi sudah seharusnya, ada kerja sama harmonis antara pemerintah dan ulama
di pondok pesantren," kata Buya.

Kini Pontren Nurul Anwar-Cibabat memiliki 15 santri mukim dengan usia 14
tahun ke atas. Sebagian besar santri berasal dari Purwakarta, Kota Bandung,
Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, hingga Provinsi
Sumatra Barat.

Seorang staf Pengajar Pontren Nurul Anwar-Cibabat, Muhammad Abdulloh,
mengatakan sepekan menjelang Ramadan, biasanya para santri sengaja
diliburkan. Sebagian mereka memanfaatkan waktu ini buat pulang ke kampung
halaman masing-masing.

"Setelah bersilaturahmi dengan orang tua dan anggota keluarga lain, para
santri kembali ke pondok dan bersiap lagi menjalani program aktivitas
Ramadan yang sudah disusun pengurus dan staf pengajar. Biasanya efektif
mulai hari kedua atau ketiga Ramadan. Beberapa kali ada juga orang yang
sengaja datang ke sini buat belajar agama Islam. Beberapa di antaranya
anggota militer," kata Abdulloh.

Beberapa tahun lalu, ketika pemerintah memberi libur panjang di bulan
Ramadan bagi para pelajar, ada puluhan murid SD dari luar pondok pesantren
yang mengikuti program pesantren kilat. Tapi menurut Abdulloh, saat ini agak
sulit melaksanakan program pesantren kilat karena masa libur sekolah para
pelajar pada bulan Ramadan tidak lagi mengikuti pola waktu lalu.

Menurut Abdulloh, di bulan Ramadan saat pelaksanaan salat sunah Tarawih,
para santri Pontren Nurul Anwar-Cibabat yang sudah fasih baca Alquran
diminta bergantian menjadi imam. Tujuannya, tidak lain, untuk membiasakan
para santri menjadi pemimpin jemaah dalam melaksanakan salat. Bekal
kemampuan aplikatif ini akan terus menjadi amal ibadah, ketika para santri
terjun ke tengah masyarakat.

Tradisi lain Pontren Nurul Anwar Cibabat adalah santap bersama baik pada
saat sahur maupun berbuka puasa. Nasi dan lauk-pauk disimpan di sebuah wadah
yang cukup besar. Kemudian, tanpa menggunakan piring, para santri pun duduk
berkeliling dan menikmati sajian sederhana itu bersama- sama dari wadah yang
sama.

"Tanggapan orang memang beragam. Namun itu salah satu cara kami menumbuhkan
kebersamaan di antara para santri," ujarnya. (*)

Penulis : Ricky Reynald Yulman
Editor : Darajat Arianto
http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/58972/Tanpa-Piring-Para-Santri-Pun-Sahur-dan-Berbuka

Kirim email ke