Mahad Al-Zaytun dari Dekat (1) Hari Minggu Saatnya Nonton Bareng Selasa, 3 Mei 2011 | 10:46 WIB
*SORE *itu, para santriwati Ma'had Al Zaytun terlihat duduk-duduk di tepi kolam ikan berbentuk segi empat yang mempunyai luas satu hektare. Kolam yang penuh dengan ikan mas dan nila tersebut terletak tepat di tengah pesantren seluas 1.200 hektare. Tak jauh dari situ, terdapat sebuah rumah yang menjadi tempat tinggal pemimpin Ma'had Al-Zaytun, Syekh AS Panji Gumilang, yang disebut Masiqoh. Sepelemparan batu dari kolam ikan, juga berdiri megah sebuah masjid yang diresmikan oleh Presiden BJ Habibie pada tahun 1999. Namun hingga kini, pembangunan Masjid Rahmatan Lil Alamin yang direncanakan bisa menampung 100 ribu orang itu belum beres juga. Tak terlihat ada aktivitas pembangunan. Hanya sebuah plang penanda masjid yang menyebutkan pembangunan akan selesai dalam 1.000 hari tegak menyambut. Di kanan kiri bangunan dibangun lorong-lorong jalan yang teduh dengan pohon jati. Lorong jalan ini didesain lengkap dengan rambu-rambu dan marka jalan. Mulai jalan satu arah, petunjuk lokasi, tempat parkir motor dan mobil, ada semua di sana. Santri perempuan dan santri laki-laki pun mempunyai jalur jalan kaki sendiri. Demikian juga halnya dengan jalur tamu dan tempat parkir tamu. Akan tetapi di beberapa lorong jalan, ada yang hanya diperbolehkan bagi santri perempuan dan ada lorong yang hanya diperbolehkan bagi santri laki-laki. Sebagai sarana transportasi, di sana dipergunakan sepeda sebagai alat utama. Berkeliling mengitari 1.200 hektare kawasan pendidikan Al-Zaytun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dari sekian tempat yang ada di Al-Zaytun, kolam ikan satu hektare itu merupakan kawasan favorit para santri untuk mengisi waktu. Seorang santri, Fitriami (12), mengaku sudah enam tahun menimba ilmu di Al-Zaytun. Setiap hari Sabtu merupakan jadwal santri mengaji di rumah Syekh Panji Gumilang. Ia terlihat semringah bersama dengan beberapa temannya menyambut hari Minggu. Pasalnya, hari Minggu merupakan waktu ia bisa menonton tayangan film yang disuguhkan dalam proyektor. Biasanya ia bersama-sama menonton film dengan teman seasrama. "Filmnya macem-macem, ada barat, Indonesia, dan kartun. Kami menonton di layar besar," kata santri asal Tegal ini saat ditemui Sabtu (30/4). Ia mengatakan, hari Minggu juga merupakan hari ketika ia bisa sedikit rileks dengan rutinitas sehari-hari. Pasalnya, di Ma'had Al-Zaytun, santri dilarang keras membawa barang elektronik seperti telepon seluler, radio, dan televisi. "Di sini barang-barang tersebut dilarang dibawa atau digunakan," ujarnya. Hal senada dikatakan oleh Syifa Azkia (12), santri asal Jakarta Timur, dan Siti Nurian (35), warga Jakarta Selatan. Keduanya juga terlihat duduk santai sambil menunggu santri lain untuk mengaji bersama di rumah Syekh. Dengan menaiki tujuh belas anak tangga mereka bergegas ketika mengetahui bahwa Syekh sudah siap untuk memberikan pengajaran. Tak lama beberapa santri pria yang mengenakan kemeja dan dasi menenteng kitab suci juga tiba dan menaiki belasan anak tangga untuk menuju kediaman Syekh. Di teras tempat belajar, mereka duduk di kursi kayu warna cokelat mengitari Syekh yang berada di depan tengah mereka. Beberapa nama disebut dan yang disebut maju ke tengah untuk mengaji pada giliran pertama. Sayup-sayup terdengar, Panji Gumilang sedang mengajar tajwid. Dina (35), seorang wali santri yang kebetulan sedang mengunjungi anaknya, mengatakan, setelah masuk di Al-Zaytun anaknya memang terlihat berkembang pesat dalam hal pelajaran. "Saya tahu Al-Zaytun dari saudara. Banyak yang sudah tamat. Jadi, biar bagus pelajarannya, saya masukkan ke sini," katanya. Abu Sabit Nurdin, seorang pengajar Al-Zaytun, mengatakan saat ini Al-Zaytun sudah memiliki 10 ribu santri. "Pendidikan mulai dari PAUD hingga universitas terbuka," ujarnya. Ia mengatakan, dari total luas pesantren 1.200 hektare, seluas seribu hektare dikembangkan untuk pertanian dan peternakan. Salah satunya adalah pengembangbiakan Koshi Hikari, padi yang 1 kilonya seharga seratus ribu rupiah. Pohon jati yang saat awal berdiri Al-Zaytun menjadi primadona, menurut Syekh Panji Gumilang, tidak akan dipanen. Karena, penghuni Al-Zaytun membutuhkan udara segar yang bisa dihasilkan pohon jati. "Kita tidak akan memanen, kita hanya akan memanen oksigennya saja," ujarnya. (*) Penulis : Ferri Amiril Mukminin,Ida Romlah Editor : Darajat Arianto http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/48341/Hari-Minggu-Saatnya-Nonton-Bareng- ============ Mahad Al-Zaytun dari Dekat (2) Mengaji, Santri Putra Wajib Pakai Dasi Rabu, 4 Mei 2011 | 10:17 WIB *ADA *pemandangan berbeda ketika *Tribun* berkunjung ke Ma'had Al-Zaytun di Desa Mekar Jaya, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Sabtu (30/4). Ketika itu, kami baru saja mewawancarai Pemimpin Al-Zaytun, Syeykh Abdus Salam Panji Gumilang. Ketika kami keluar dari pintu gerbang rumah Panji Gumilang, kami menemukan sejumlah santri putri tengah duduk di pinggir kolam ikan. Mereka membawa Al-Quran di tangan. "Mau mengaji ya?" tanya Hanafi, guide kami dalam kunjungan itu kepada santri putri. Hanafi sudah bekerja di Al-Zaytun selama sepuluh tahun. Para santri putri pun mengangguk serentak. Tak lama, rombongan santri putra tiba di depan kolam ikan yang berada tepat di pintu rumah Panji Gumilang. Mereka berpakaian rapi, dengan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana panjang. Sama seperti santri putri, santri putra juga membawa Al-Qur'an di tangannya. Warna dan corak Al-Quran mereka sama, bersampul emas dengan ukuran cukup lebar. "Mereka santri kelas 7. Ya setara kelas 1 SMP atau artinya pemula untuk program pendidikan tingkat menengah (SMP dan SMA) yang ada di Al-Zaytun," kata Hanafi. Meski pemula, kata Hanafi, tidak sedikit di antara para santri itu merupakan santri lama. Mereka sudah bertahun-tahun belajar di Al-Zaytun, karena mulai masuk sejak pendidikan tingkat dasar (setara SD). Pakaian yang dikenakan santri putra memang agak berbeda. Bukannya baju koko, melainkan sebuah kemeja. Bahkan tak sedikit di antara santri, hanya mengenakan kemeja lengan pendek atau di atas sikut. "Memang begitu kalau sedang mengaji. Santri menggunakan kemeja, bukan baju koko," ujar Hanafi yang asal Jakarta tersebut. Baju koko, kata Hanafi justru digunakan ketika para santri bersekolah. Mereka wajib mengenakan seragam koko yang telah ditentukan pihak pesantren. Sementara untuk mengaji, harus menggunakan kemeja. Alasannya, kata Hanafi, mengaji masuk kategori pendidikan tambahan atau akrab disebut ekstrakurikuler. Dengan begitu, pakaian pun bebas, hanya harus kemeja. Sementara bagi santri putri adalah pakaian tangan panjang dengan bawahan berupa rok. Bukan saja kemeja, penampilan santri putra ketika harus mengaji juga terkesan necis. Sebab para santri putra itu semuanya memakai dasi panjang, layaknya dasi yang kerap digunakan para eksekutif. Tentang dasi ini, lagi-lagi Hanafi mengatakan aturan di AlZaytun memang seperti itu. "Setiap santri putra harus memakai kemeja lengkap dengan dasi saat mengaji seperti ini," katanya. Bukan saja santri putra, pengajar dan pengurus yayasan di Ma'had Al-Zaytun juga berpakaian kemeja lengkap dengan dasi. Semua berpakaian rapi, layaknya karyawan sebuah perusahaan. Demikian juga dengan pemimpin mereka, Panji Gumilang yang mengenakan kemeja yang dimasukkan ke dalam celana panjang. Namun Panji tidak melengkapi kemejanya dengan dasi. Tentang kegiatan mengaji, Hanafi mengatakan, bagi santri kelas 7 dilakukan setiap bada Ashar. Dengan bimbingan langsung Panji Gumilang, para santri mengaji di teras rumah pemimpin mereka. "Bagi kelas 7 hanya mengaji biasa, sesuai tajwidnya karena mereka masuk kategori pemula. Sementara bagi santri yang sudah kelas tinggi ada tahfiz atau hafalan Al-Quran," kata Hanafi. Hanafi mengatakan, Sabtu merupakan hari libur bagi santri Al-Zaytun. Karena itu, ketika *Tribun *berkunjung pun tidak ditemukan santri yang tengah belajar formal. Semua hanya mengikuti kegiatan tambahan seperti mengaji, olahraga dan kegiatan ekstrakurikuler lain. Menurut Hanafi, pada hari libur itu para santri diberi kebebasan melakukan kegiatan sesuai minat dan bakat. Terlihat sejumlah santri berpakaian lengkap Pramuka sedang berlatih. Demikian juga santri yang berminat olahraga, ada yang bermain tenis ada pula yang latihan bela diri. *(*) * Penulis : Ida Romlah,Ferri Amiril Mukminin Editor : Darajat Arianto http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/48499/Mengaji-Santri-Putra-Wajib-Pakai-Dasi ===== Mahad Al-Zaytun Dari Dekat (3-Habis) Mereka Bilang, Pesantren Ini Milik Umat Jumat, 6 Mei 2011 | 15:30 WIB *KEMEGAHAN *Ma'had Al-Zaytun Indramayu tidak diragukan lagi. Gedung-gedung bertingkat dengan arsitektur modern berdiri di lahan seluas 1.200 hektare. Bahkan, sebuah masjid besar segera selesai pembangunannya, dengan empat menara yang memiliki ketinggian 250 meter. Kemegahan tersebut kerap mengundang tanya, dari mana sumber dana pembangunan pesantren yang disebut-sebut merupakan terbesar dan termegah se-Asia Tenggara itu? Siapakah gerangan pemilik modalnya? apakah dari kocek Syekh Abdus Salam Panji Gumilang sendiri, sang pemimpin mereka? Ketika Tribun bertanya tentang hal itu, guide Hanafi menjawab bahwa pondok pesantren Al-Zaytun adalah milik umat dan bangsa Indonesia. Pesantren tersebut bukan milik Panji Gumilang, juga pengurus Yayasan Pesantren Indonesia (YPI) yang menaunginya. "Syekh hanya diberi kepercayaan untuk memimpin pesantren ini," kata Hanafi, pekan lalu. Menurut Hanafi, sebelum Al-Zaytun berdiri, ada sejumlah pihak yang menginginkan di Indonesia berdiri lembaga pendidikan dengan konsep pendidikan yang menggabungkan ilmu pengetahuan umum dan agama. Karena itu tercetuslah sebuah pondok pesantren Ma'had Al-Zaytun. "Dananya dari para donatur yang mau berinfak. Kami pengurus dan karyawan hanya menjalankan amanah tersebut," kata Hanafi. Hanafi tidak mau membeberkan siapa donatur dimaksud. Hanya menurutnya, para donatur bukan saja berasal dari umat Islam, melainkan juga ada dari nonmuslim. "Siapapun yang mau menyumbang demi kebaikan agama Islam, mengapa harus kami tolak," kata dia. Apalagi, kata Hanafi, Al-Zaytun terbuka bagi siapa saja. Bahkan tak sedikit tamu dari luar negeri berkunjung ke pondok pesantren tersebut. Sebab Al-Zaytun memiliki moto sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi serta pengembangan budaya keagamaan. "Sebagai lembaga pendidikan yang mengembangkan budaya toleransi, saya punya jiwa toleran. Dan seorang yang berjiwa toleran itu tidak akan pernah sakit hati atau rugi dikatakan jelek oleh orang lain. Silakan orang mau bilang apa," demikian Panji Gumilang, ketika mengobrol dengan Tribun, Sabtu (30/4). Bukan saja dana, Hanafi juga membeberkan bahwa maket pembangunan dan arsitektur Al-Zaytun juga berasal dari pihak lain. Namun siapa dia, lagi-lagi Hanafi enggan mengatakan. Meski sumber pembangunan pesantren berasal dari donatur, kemajuannya sangat pesat. Tengok saja sejak pertama dibangun pada 1996, Al-Zaytun sudah memiliki sejumlah fasilitas gedung. Selain itu ada pula area penunjang kegiatan santri, seperti area pertanian dan tanaman pangan, peternakan, perikanan, dan layanan kesehatan. Tidak ketinggalan, Al-Zaytun juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan masyarakat sekitar dengan dibangunnya sejumlah fasilitas umum berupa masjid, pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM), saluran irigasi pertanian warga, dan sebagainya. Ma'had Al-Zaytun menyelenggarakan pendidikan mulai usia dini hingga perguruan tinggi. Tercatat saat ini kurang-lebih 1.000 santri bermukim di pesantren tersebut. Mereka berasal dari berbagai daerah, bahkan negara, seperti Malaysia, Singapura, dan dari benuar Afrika. Setiap santri wajib tinggal di dalam asrama. Mereka tidak diperkenankan pulang, kecuali jika sedang libur semester. Biasanya, para orang tua santri lah yang kerap mengunjungi pesantren untuk menjenguk anaknya. Untuk bisa menjadi santri Al-Zaytun, setiap orang harus mendaftarkan diri terlebih dulu. Mereka juga wajib mengikuti tes tulis dan lisan serta pemeriksaan kesehatan hingga benar-benar dinyatakan diterima sebagai santri. Jika sudah demikian, proses akad dilakukan. Akad biasanya dilakukan di depan notaris, sambil menyempurnakan administrasi berupa penyerahan dana pendidikan. Besaran dana pendidikan memang tergolong tinggi. Pada tahun ajaran 2007 misalnya, dana administrasi mencapai Rp 1.250.000. Selain itu, santri baru juga wajib menyerahkan dana pendidikan sebesar 3.500 dollar Amerika. Dana pendidikan tersebut bisa dibayar langsung, bisa juga dicicil. Karena akad dilakukan di depan notaris, santri baru juga diharuskan membayar notaris atau materai senilai Rp 50.000. Pihak Al-Zaytun mengklaim, bahwa dana tersebut untuk enam tahun masa pendidikan di Al-Zaytun, termasuk biaya makan, seragam, dan asrama. Sementara SPP, uang gedung dan bangku tidak ada pungutan lagi. (*) Editor : Darajat Arianto http://jabar.tribunnews.com/read/artikel/48898/Mereka-Bilang-Pesantren-Ini-Milik-Umat
