3 - 4 wengi kapengker aya acara Biography Ahmadinejad, lengkep aya komentator 
ahli ti amrik, inggris oge al jazeerah. Berimbang lengkep ngagambarkeun 
ahmadinejad, iran jeung syiah, utamana kaitan iran-amrik. Tangtuna indo - amrik 
bogasajarah sorangan.
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: MRachmat Rawyani <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Sun, 28 Aug 2011 19:59:34 
To: [email protected]<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] Poltik IndoAmerika

Kedah sing atos-atos dina nyaring informasi. Siga anu logis, tapi eusina 
gedebul, gede bohongna.
Kumargi seuseurna urang teh dina ngaluarkeun tulisan, lebih banyak karena 
persangkaan (negatif). Terkadang fakta-fakta anu teu valid atanapi saeutik 
dihubung-hubungkeun ku cara pola pikir induktif sareng deduktif, jadi hiji 
kasimpulan/kacindekan anu (saolah-olah) bener.
Pan aya hadisna, kaseuseuranana urang teh sok berprasangka goreng.

mrachmatrawyani



________________________________
From: "[email protected]" <[email protected]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, August 27, 2011 9:38 AM
Subject: Re: [kisunda] Poltik IndoAmerika


  
Lain presiden mah keur rariweuh ngurus internal? Hanjakal menlu nu urang sunda 
tulen teu milu milis kisunda.
Powered by Telkomsel BlackBerry®
________________________________

From:  Mohammad zen <[email protected]> 
Sender:  [email protected] 
Date: Sat, 27 Aug 2011 09:16:14 -0700 (PDT)
To: [email protected]<[email protected]>; 
[email protected]<[email protected]>
ReplyTo:  [email protected] 
Subject: [kisunda] Poltik IndoAmerika
  
http://islamtimes.org/vdcdf90n.yt0sz6pl2y.html




Infiltrasi Asing di Indonesia
Skandal Politik IndoAmerika; Dulang Suriah, Tangan Jakarta, Wajah Papua
Islam Times-  Islam Times –Jakarta ikut memainkan politik karet gelang 
Amerika Serikat di Suriah. Nama pemerintah memang bisa baik. Tapi mereka 
mungkin lupa kalau Amerika bukan ‘trench mate’,  kawan separit, yang 
amanah. Toh, tak ada yang bisa menjamin kalau perlawanan bersenjata yang 
disponsori asing seperti di Suriah saat ini, tak terulang di Papua 
suatu hari nanti.


Islam Times – Pekan lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta 
Kementrian Luar Negeri memanggil pulang duta besar dari Damaskus, 
Suriah. Pemanggilan untuk “konsultasi” sekaligus antisipasi “hal-hal 
yang tidak diinginkan”, kata Kementrian singkat. Tapi bahkan dari yang 
sedikit dan terkesan misleading itu, seolah istri duta di sana tak bisa 
lagi ke salon karena peluru beterbangan di seantero Damaskus, orang 
dengan mudah menebak kalau Jakarta telah bergeser jauh dari poros 
politik bebas aktif yang diamanatkan undang-undang dan, ironisnya, 
justru sedang memberi angin pada proyek penggulingan rezim sebuah negara
 berdaulat. 

Dalam lima bulan terakhir, Amerika Serikat – dengan 
dukungan Turki, Arab Saudi dan Uni Eropa – memang mengencangkan karet 
gelang tekanan pada rezim Bashar Assad. Mereka menggalang dukungan dari 
sana sini dan intinya ingin Assad berhenti keras kepala. Mereka ingin 
Suriah melepas dukungan pada Iran, Hizbullah dan Hamas; trio perlawanan 
yang sukses mengandaskan mimpi hegemoni Amerika di Timur Tengah. 

Sejauh
 ini, mereka masih di atas angin. Musim Semi Revolusi Arab memuat mereka
 punya ruang manuver untuk memproyeksikan pemberontakan kawanan 
bersenjata di pinggiran Suriah, yang notabene mereka biaya sepenuhnya, 
sebagai “gerakan pro reformasi yang damai” dan rezim Assad yang mengirim
 tentara untuk memadamkan pemberontakan itu --persis seperti Jakarta 
mengirim tentara untuk menghentikan kawanan bersenjata di Papua --dengan
 mudahnya mereka cap sebagai tiran, haus darah, pelanggar hak asasi, 
barbar dan biadab. 

“Assad harus pergi!” Itu kata Barack Obama, 
Presiden Amerika, yang dari lagak dan nada bicaranya mengesankan Suriah 
telah kocar kacir akibat ‘perlawanan rakyat’ – meski faktanya yang 
memberontak hanya sejumlah provinsi di pinggiran negeri. 

Di 
Jakarta, sebagian kalangan mulai merasa kalau haluan IndoAmerika dalam 
politik luar negeri Presiden Susilo sebagai sesuatu yang mencengangkan, 
tak ubahnya pendadakan di medan terbuka. 

Tidakkah di bulan-bulan
 yang lalu, presiden sendiri yang memberi restu ke seorang pangeran Arab
 Saudi yang datang ke Jakarta untuk mencari dukungan invasi Arab Saudi 
ke Bahrain; sebuah langkah kuda yang bertujuan menyokong tahta keropos 
Dinasti Al-Khalifa sekaligus memberangus jutaan demonstran yang menuntut
 perubahan politik hanya dengan modal takbir dan shalawat? Nah, jika 
presiden bisa mentolerir langkah brutal pasukan militer Saudi di 
Bahrain, kanapa pula presiden perlu ‘tersumbing’ saat Damaskus mengirim 
militer untuk menjawab pemberotakan bersenjata yang telah menewaskan 
ratusan polisi dan tentara Suriah?

Okelah jika yang jadi 
kepedulian presiden adalah “gelombang kekerasan sipil”, 1.700 orang yang
 mati sejauh ini, kabarnya, dan laku rezim yang keras seperti yang 
ditudingkan pejabat Eropa. Tapi jika memang itu sebabnya, kenapa pula 
kita di Jakarta sini tak pernah mendengar Kementrian Luar Negeri menarik
 duta besar dari Amerika, Inggris, Eropa, dan Australia mengingat mereka
 semua menginvasi Afghanistan dan Irak dalam satu dekade terakhir dan 
sebab itu ada dua juta orang penduduk sipil yang mati? 

Di luar 
semua itu, tidakkah kita perlu berpikir kalau ada kemungkinan 
tangan-tangan sing mengencangkan gendang perlawanan kelompok bersenjata 
di Papua, dan Jakarta akhirnya terjepit di hadapan Amerika, persis 
seperti Suriah saat ini? 

Maka benarlah kata pepatah: dia yang menepuk air ke dulang, terpecik ke muka 
sendiri. *** [Islam Times/K-014]
 

Kirim email ke