Eta kitu salah sahiji tujuan Mekah Mean Time ku ngadegkeun jam raksasa?
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Fri, 2 Sep 2011 00:59:45 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] Puasa - Nyaruakeun nu Beda, Ngabedakeun nu Sarua?

Almanak hijriah kuduna ngan aya hiji sadunya, kukitu urang kudu tempat anu 
bakal jadi patokan (gmt-na). 

Lamun carana siga ayeuna, saumur umur ge tetep beda ibarat embe jeung kuda 
(be-da). Ieu perkara elmu astronomi jeung komitmen/keputusan bersama.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: [email protected]
Sender: [email protected]
Date: Thu, 1 Sep 2011 16:44:12 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Subject: Re: [kisunda] Puasa - Nyaruakeun nu Beda, Ngabedakeun nu Sarua?

Pan geus nyoba teu narurut lin? Atuh mending bikeun we ka masing2 ormas pek 
bikeun ka masing2 fansna. MUI mere ka saha bae nu baluweng ku ormas. 
Pamarentah? Ngurus nu lain we lah THR, angkutan, lalin jste. 
Powered by Telkomsel BlackBerry®

-----Original Message-----
From: Ki Hasan <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Thu, 1 Sep 2011 23:58:56 
To: Ki Sunda<[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: Baraya Sunda<[email protected]>
Subject: [kisunda] Puasa - Nyaruakeun nu Beda, Ngabedakeun nu Sarua?

Naha mungkin ngimpi JK bakal didarenge ku nu resep beda pamadegan?

===
Kalla Sarankan Kriteria Hilal Disamakan
Kamis, 01 September 2011 | 13:20 WIB

*TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, punya
nasihat bagi Pemerintah agar ke depan, perbedaan Lebaran tak terjadi lagi.
Menurut dia, solusinya dengan mempersatukan kriteria derajat ketinggian
hilal atau bulan muda sebagai patokan hisab dan rukyat untuk menentukan awal
bulan.

"Dengan persatuan, semua organisasi Islam harus ikut ketentuan. Syarat Idul
Fitri kan sunah, tapi mempersatukan umat itu yang wajib," kata dia di
sela-sela *open house* di kediamannya, Kamis, 1 September 2011.

Kalla menjelaskan sebenarnya pada sidang isbat untuk menentukan 1 Syawal
1432 Hijriah kemarin, semua organisasi Islam menggunakan metode hisab, bukan
rukyat. Namun pada saat melakukan rukyat, ada sejumlah orang yang mengaku
melihat hilal. Padahal derajat ketinggian hilal saat itu kurang dari 2
derajat.

Nah, kesaksian orang-orang itu kemudian dianggap tidak sah. Di situlah
kemudian muncul perbedaan. Inti masalahnya, ia melanjutkan, hanya pada
kriteria ketinggian hilal. Dulu, Kalla mengaku pernah membicarakan masalah
derajat hilal ini kepada dua organisasi Islam terbesar, yakni Nahdlatul
Ulama (NU) dan Muhammadiyah.

Saat itu, ia usul agar derajat ketinggian diambil tengah-tengah, yakni
minimal 4 derajat, bukan 2 derajat seperti kesepakatan MABIM (Malaysia,
Indonesia, Brunei Darussalam, dan Singapura). "Tapi belum ada hasil,"
ujarnya.

Sebelumnya, dalam sidang isbat untuk menentukan Lebaran tahun ini, sempat
terjadi perdebatan. Pangkalnya adalah perbedaan metode yang digunakan setiap
organisasi Islam. Muhammadiyah, yang menggunakan metode hisab, menetapkan
Idul Fitri pada 30 Agustus 2011. Alasannya, hilal sudah muncul dengan
ketinggian di atas 0 derajat, yakni 1,38 derajat. Alasan itu didasarkan pada
hasil peneropongan Badan Hisab dan Rukyat Kementerian Agama.

Namun, organisasi lain, misalnya NU, memiliki pandangan lain. Selain hisab,
mereka juga menggunakan metode rukyat atau melihat hilal dengan mata
telanjang (*rukyatul hilal*). NU, yang pada sidang isbat kala itu juga
senada dengan organisasi-organisasi lain, seperti Persatuan Islam (Persis),
harus menunggu Lebaran hari berikutnya, 31 Agustus 2011.

Kalla menolak jika perbedaan itu karena dipolitisasi. Tidak ada campur
tangan politik pada masalah itu, karena itu murni perbedaan cara pandang.
Sebab itu, katanya, satu-satunya cara adalah menyamakan derajat ketinggian
hilal.

*MUHAMMAD TAUFIK*

*
http://ramadan.tempointeraktif.com/hg/kabar_lebaran_10/2011/09/01/brk,20110901-354264,id.html
*

Kirim email ke