Beunang nyalin ti blog baraya. Teuing saha.

=====
Tentang Maenpo Peupeuhan “Adung Rais”

April 5th, 2008 § 3 Comments

Maenpo adalah ilmu bela diri yang berasal dari daerah Cianjur, Jawa Barat.
Karena menonjolkan peran pukulan maka bela diri ini disebut Maenpo
Peupeuhan. Ilmu silat Maenpo ini diperkenalkan pertama kali pada pertengahan
abad ke-19 oleh pendekar pencak silat yang bernama Mohammad Kosim, atau yang
biasa dipanggil dengan sebutan Mama Sabandar. Beliau mengembangkan
cikal-bakal teknik dan jurus dasar yang kini digunakan dalam Perguruan
Maenpo Peupeuhan. Tidak sedikit yang datang ingin belajar dan menjadi murid
Mama Kosim, namun hanya beberapa orang saja yang bisa diterima. Alasan
utamanya adalah agar kemampuan beladiri ini tidak disalah gunakan.

Sepeninggal Mama Kosim, ilmu Maenpo-nya diteruskan oleh tokoh-tokoh maenpo,
diantaranya adalah, Rd. H. Enoh, Rd. H. Emod, Rd. H. Abdullah, Bapak Da’i,
Rd. Thoha, Bapak Acep Tarmedi, dan Abah salim. Para pewaris ilmu ini umumnya
masih sanak saudara, kerabat dekat, dan berlatar belakang santri serta masih
keturunan bangsawan Cianjur. Mereka bergiliran menurunkan ilmunya secara
turun-temurun.

Pada sekitar tahun 1940, Abah Salim mulai agak terbuka dan berani
memperkenalkan beladiri ini kepada masyarakat luas. Situasi perang pada masa
itu agaknya menjadi salah satu faktor kondusif munculnya para pendekar dari
berbagai aliran silat. Abah Salim merasa tertantang untuk ikut serta
memperkenalkan Maenpo Peupeuhan.

Usahanya tersebut kemudian diteruskan oleh putera beliau, yaitu Bapak Adung
Rais sekitar tahun 1970. Setelah merampungkan ilmu Maenpo yang ia pelajari
semenjak usia 19 tahun, ia kemudian mengibarkan bendera perguruan yang ia
namakan Babancong Siliwangi. Bapak Adung Rais menyumbangkan dua hal mendasar
yang sangat penting, yaitu unsur kecepatan dan penyaluran tenaga melalui
teknik pernafasan dalam setiap gerakan Maenpo Peupeuhan. Selain itu ia juga
membuat terobosan dengan memadukan seni Pencak Maenpo Peupeuhan dengan
kesenian tradisional Tembang Sunda Cianjuran yang lebih dikenal dengan nama
Kecapi Suling.

Mengapa diberi nama Maenpo Peupeuhan “Adung Rais” ? karena saat itu (sekitar
tahun 80-an) Maenpo Peupeuhan yang diajarkan oleh Pak Adung Rais (alm.) unik
dan berbeda dengan Maenpo Peupeuhan lainnya yang ada. Dan saat itu, yang
menyebut dan memberi nama Maenpo Peupeuhan Adung Rais bukan dari kalangan
dalam perguruan, tetapi seorang tokoh Bandung yang sangat terkenal dalam
membawa maenpo dari Cianjur ke Bandung, yaitu Gan Ema Bratakusumah.

Satu hal yang cukup banyak disalah pahami, banyak orang menyangka bahwa
Maenpo Peupeuhan adalah Maenpo yang keras. Padahal dalam kenyataannya,
pengaruh Madi dan Sahbandar yang lembut sangat kental dipakai, jadi tidak
hanya pengaruh Kari. Mungkin, yang menyebabkan orang-orang menyangka Maenpo
Peupeuhan itu keras adalah akibat pemberian latihan Napel dan Ibing yang
diberikan pada akhir pelajaran.

Saat ini, Bapak Mohammad Rafijen , putera ke tiga dari Bapak Adung Rais,
yang menjadi penerus aliran Maenpo Peupeuhan. Beliau berusaha untuk
meneruskan, mengembangkan, dan melestarikan Maenpo Peupeuhan dengan
memperkenalkannya ke tingkat nasional dan internasional.

———————————

Disadur dari tulisan kakak-kakak seperguruan gw, yang ditulis di
sahabatsilat.com

http://overkooled.wordpress.com/2008/04/05/tentang-maenpo-peupeuhan-adung-rais/

Kirim email ke