Salam. Sampurasun, tah ieu buktos dakwah nu sae; ku buku murangkalih oge
geuning tiasa ka geuing kasadaran milari agama. Tapi uing mah sangsi kiwari
mah mun tuluy kawas di Purwakarta nu gampang ngaruksak, wah... bisa
areumbungeun asup ka Islam teh... :-)

---------- Pesan terusan ----------
Dari: sari safitri <[email protected]>
Tanggal: 21 September 2011 08:08
Subjek: [jalanrahmat] Masuk Islam Karena Baca Buku Anak-anak
Ke: jalanrahmat milis <[email protected]>, diskusi_fatimah <
[email protected]>


**


Masuk Islam Karena Baca Buku Anak-anak

Jakarta, *NU Online*
Niken Arumsari terharu ketika mendapat ucapan selamat dari Pengurus Besar
Nahdlatul Ulama. Ia baru saja membaca dua kalimah syahadat yang dituntun
ketua umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj disaksikan sejumlah pengurus PBNU di
lantai 3 gedung PBNU pada Selasa, (20/9) pukul 14.30.

Ternyata, tertariknya Niken ke dalam dekapan Islam yang rahmatan lil-alamin
ini bermula dari membaca buku. Dan uniknya, buku bacaan anak-anak.

“Mulanya sejak Maret 2011 lalu saya baca buku anak-anak di rumah baca
Al-Karimah, di Matraman. Buku anak-anak itu disajikan dalam bentuk komik,
bergambar, dan dengan bahasa sederhana. Di situ dijelasakan apa itu Islam,
tentang rukun iman, rukun Islam, solat dan lain-lain,” ungkapnya.

Selain itu, mulanya kedua orang tua Niken adalah muslim yang pindah agama
berdasar “panggilan” dan sukarela.

“Mulanya memang  kedua orang tua saya adalah muslim,” ungkap lulusan jurusan
Sosiologi universitas Indonesia (UI) ini. “Pada waktu SMA, ayah saya pindah
ke agama lain. Ketika saya tanyakan, ia bilang inilah panggilan Tuhan. Dan
ibu saya yang muslim, ikut agama ayah,” tambahnya.

“Begitulah saya sekarang, hampir tak bisa menjelaskan kenapa saya memilih
Islam. Ini juga panggilan. Sebab saya hampir tidak bisa menjalaskan,” ujar
perempuan kelahiran  1983 ini.

Tapi ini tak bisa di bilang “mistis” juga karena saya tahu Niken ini seorang
yang rasional,  dia seorang seorang peneliti, dia lulusan Sosiologi,” sela
ibu Adhi Ayoe Yanthi yang mendampingi Niken ke PBNU.  “Nah, Niken yang
rasional ini ketemu dengan teman-teman NU yang toleran,” tambah pengasuh
rumah baca al-Karimah ini.

Niken sudah mengenal NU sajak jadi seorang wartawati, ketika ia memeluk
agama minoritas. Dalam benaknya ia menyimpulkan NU itu ramah, toleran
terhadap agama lain. Dan, dalam pengamatannya, bagi warga nahdliyin, menjadi
Islam itu tidak harus menjadi orang Arab.

“NU itu ramah, toleran terhadap minoritas, ungkapnya. Dan terbukti ketika
saya bersentuhan dengan kalangan NU, misalnya Amral Dulmanan dan bu Adhi
Ayoe Yanthi ini. Mereka tak membedakan saya karena agamanya.”

“Saya pernah mengikuti pengajian di komunitas selain NU. Ustadznya
memberikan keterangan bahwa seorang isteri yang tidak mentaati suaminya,
maka ia seperti monyet. Selain itu, mereka juga bilang kedua orang tua saya
kafir, padahal mereka tetap dalam kepercayaannya. Saya tidak suka! Berbeda
dengan NU seperti yang dijelaskan kiai Said tadi, dia bilang Islam
menghormati agama-agama sebelumnya, menghormati Nabi Isa, dan agama-agama
lainnya,” pungkasnya.


http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/1/34000/Warta/Masuk_Islam_Karena_Baca_Buku_Anak_anak.html

 



-- 
=> www.ahmadsahidin.wordpress.com

Kirim email ke