Pelajar Cenderung Menganggap Bahasa Sunda Lebih Sulit dari Bahasa Inggris [Unpad.ac.id, 22/09/2011] Masyarakat Sunda tidak akan mengenal dengan baik kebudayaannya apabila tidak memahami bahasanya, yaitu bahasa Sunda. Demikian salah satu pandangan yang menggema dalam Kongres Bahasa Sunda IX yang berlangsung pada Juli 2011 lalu di Bogor, Jawa Barat. Terkait hal tersebut muncul pertanyaan, apakah pengajaran bahasa Sunda di sekolah-sekolah sudah berhasil menumbuhkan rasa di tengah siswanya dalam mengembangkan bahasa Sunda? Menjawab hal ini, lebih dari 120 guru tingkat SD hingga SMA se-Jawa Barat berkumpul di Unpad, berdiskusi dan bersama-sama menjawab sejumlah persoalan.
Suasana Lokakarya Kurikulum Basa Sunda Perwakilan Guru Se-Jawa Barat di Kampus Unpad (Foto: Tedi Yusup)* “*Aya humandeuar ti masarakat, pangpangna ti kolot anu nyakolakeun budakna, pajar pangajaran Basa Sunda di sakola teh dianggap pangajaran anu hese nepikeun ka jadi bangbuluh* (Terdengar dari masyarakat, dari orang tua yang menyekolahkan anaknya, pelajaran Bahasa Sunda di sekolah dianggap pelajaran yang sulit),” jelas salah satu perwakilan dari Majelis Guru Mata Pelajaran (MGMP) Basa Sunda Kota Tasikmalaya, dalam acara “Lokakarya Kurikulum Basa Sunda Perwakilan Guru Se-Jawa Barat” di Ruang Serba Guna (RSG) , Gedung 2 Kampus Unpad, Jln. Dipati Ukur No.35 Bandung, Kamis (22/09). Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, pun menyempatkan diri hadir di lokakarya tersebut. Persoalan lainnya terdengar dari Purwakarta Jawa Barat. Dalam makalahnya, A. Yogaswara, S.S., M.Pd (MGMP Basa Sunda Purwakarta) menyampaikan bahwa kekurangan guru Bahasa dan Sastra Sunda di sekolah-sekolah tidak memiliki kompetensi yang memadai dalam pengajaran ini. Ini disebabkan karena kebanyakan, pimpinan sekolah main hanya tunjuk guru untuk mengajar Bahasa Sunda. Sementara tidak mengerti apa yang harus diajarkan. “*Murid leuwih loba dititah ngeusian LKS ti batan narima pangajaran Basa Sunda* (Murid lebih banyak diperintahkan mengisi LKS daripada menerima pelajarannya),” jelas A. Yogaswara yang juga alumni Fakultas Sastra, Unpad ini. Untuk menjawab persoalan ini, Ia kemudian menyarankan bahwa dalam mengajarkan bahasa sunda, lebih baik menerapkan aspek pengalaman bahasa daripada teori bahasa. Sama halnya yang terjadi di Kota Cirebon. Guru SMP Negeri I Kota Cirebon Ani Supriatni, S.Pd menyampaikan bahwa satu hal yang terlihat dari pola pikir para siswa SMP di Kota Cirebon, bahwa siswa lebih memilih belajar bahasa Inggris daripada belajar bahasa Sunda. Hal ini disebabkan karena menganggap Bahasa Sunda ketinggalan jaman. Berebda dengan bahasa Inggris. “Bahkan, para siswa menganggap bahasa Inggris itu lebih gampang serta lebih modern. Salah satu contohnya adalah ketika menggunakan media komputer. Bahasanya pake bahasa Inggris. Jadi siswa lebih ingin belajar bahasa Inggris karena menganggap lebih penting,” lengkap Ani. Dari berbagai persoalan-persoalan yang terjadi. Ani kemudian mengatakan bahwa sebenarnya hal tersebut tidak lepas dari kurikulum yang digunakan. Dalam lokakarya ini, masih banyak persoalan-persoalan yang muncul yang kemudian didiskusikan bersama. Ratusan guru-guru ini dikelompokan menjadi 7 kelompok yang membahas sekumpulan makalah. Kelompok, di bagi sesuai tingkat sekolah, yaitu SD, SMP, dan SMA. Terdapat 35 makalah yang didiskusikan di masing-masing kelompok. Diskusi di masing-masing kelompok, dilanjutkan dengan pleno. Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, ketika ditemui di sela-sela acara, menyampaikan, kegiatan ini berawal dari kongres bahasa Sunda di Bogor, dimana Unpad ingin memfasilitasi guru-guru bahasa Sunda untuk membahas sejumlah persoalan, baik itu kurikulum, bahan ajar, metoda pengajaran, sampai pada evaluasi. “Pada dasarnya, Unpad mencoba memfasilitasi para guru-guru Bahasa Sunda dari sekolah-sekolah di Jawa Barat. Mudah-mudahan pengajaran bahasa Sunda di sekolah berjalan lancar,” kata Rektor. Tujuan dari lokakarya ini, tambahnya diharapkan dapat merangkum apa saja persoalan yang terjadi di lapangan, berupa kesulitan-kesulitan apa saja yang dihadapi para guru. Hasilnya nanti, bisa saja diteruskan melalui rekomendasi kepada pihak terkait, seperti ke Diknas. Kurikulumnya sendiri dapat bekerjasama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). “Unpad hanya memfasilitasi. Semua diserahkan kepada para guru. Semoga hasil lokakarya ini dapat menjawab segala persoalan, terutama kebutuhan para siswa dalam pengajaran Bahasa Sunda,” tutup Rektor. * Laporan oleh: Lydia Okva Anjelia http://www.unpad.ac.id/archives/46477
