Senin, 12 September 2011Beras Impor akan Masuk Sampai Akhir Tahun

Pemerintah bersikukuh tetap mengimpor beras hingga akhir 2011, meski menurut
pengamat, impor bukan merupakan jalan keluar terbaik untuk menyelesaikan
masalah pangan dalam negeri.

Iris Gera | Jakarta
Foto: Angkor International LLC
Kebijakan impor beras, menurut para pengamat tidak akan menyelesaikan
masalah pangan di Indonesia (foto:dok).

Pengamat  pertanian dari Institut Pertanian Bogor atau IPB, Deddy Budiman
Hakim mengungkapkan ia tidak mengerti mengapa pemerintah Indonesia masih
mengimpor beras. Ia mengingatkan jika pemerintah tidak mulai membuat
perencanaan jangka panjang soal pengadaan beras maka pangan di dalam negeri
akan terus bermasalah karena beras merupakan makanan pokok masyarakat
Indonesia.

Ia juga mempertanyakan ketidakberdayaan pemerintah untuk mengajak masyarakat
agar melakukan diversifikasi pangan sehingga tidak terus bergantung pada
beras. Ia menilai untuk mencari jalan termudah maka pemerintah selalu
mengimpor padahal langkah tersebut tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

Pemberdayaan terhadap para petani harus segera dilakukan pemerintah agar
produksi beras meningkat sehingga impor tidak lagi dibutuhkan. “Penggunaan
pupuk kemudian benih berkualitas tinggi, irigasi disiapkan, irigasi
diserahkan kepada pemerintah daerah sehingga tidak ada koordinasi antara
pusat dan daerah”, ungkap Deddy Budiman.

Sementara itu, Indro Surono dari Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan
menilai kebijakan impor beras yang tidak pernah dihentikan pemerintah hanya
akan membuat petani lokal semakin terjepit karena hasil produksi mereka
tidak dihargai secara layak.

Pengembangan teknologi pertanian ditegaskannya harus segera diterapkan
kepada para petani agar mereka lebih produktif. “Bagaimana lebih banyak
membuka lapangan pekerjaan di sektor pertanian pedesaan dan juga mendorong
meningkatkan produksi pangan kita”, jelas Surono.

Indro Surono menambahkan apapun yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi
persoalan pangan namun pemerintah juga belum memiliki desain yang jelas maka
persoalan tersebut tidak akan pernah selesai. “Kita sendiri tidak memiliki
desain, strategi, komitmen, ya tidak jalan karena desainnya saja tidak jelas
kan?," katanya.

Dirut Perum Badan Urusan Logistik atau Bulog, Sutarto Alimoeso menegaskan
pemerintah sudah menandatangani kontrak dengan dua negara pengimpor beras
terbesar untuk Indonesia. Dari total rencana impor beras sebanyak 800 ribu
ton tahun ini, 200 ribu ton diantaranya sudah datang dan sisanya akan
dituntaskan hingga akhir tahun.

“Kita yang sudah tanda tangani 800, kontrak ya dari Vietnam 500 ribu ton
kemudian dari Thailand 300 ribu ton, realisasinya sampai dengan September
ini 200 ribu ton lebih, terus sampai dengan Desember ini”, ungkap Sutarto.

Kalangan pengamat juga menilai, kebijakan pemerintah mengimpor beras
bertolak belakang dengan semangat pemerintah ingin swasembada beras dalam
kurun waktu 5 hingga 10 tahun kedepan.

Seperti diungkapkan  Menteri Keuangan, Agus Martowardojo, pemerintah akan
mengelola fiskal dengan baik agar kebutuhan pangan terjaga. “Kita akan
mendukung pencapaian surplus berasminimal 10 juta ton per tahun dalam kurun
waktu 5 sampai 10 tahun”, ungkap Menteri Martowardoyo.

Hingga Juli 2011 pemerintah sudah mengeluarkan anggaran sebesar Rp 7 trilyun
untuk menyerap beras impor. Kebutuhan beras nasional  tahun ini diperkirakan
sebesar 33,5 juta ton sementara kemampuan produksi beras diperkirakan
sebesar  37,8 juta ton sehingga masih surplus namun pemerintah selalu
menegaskan impor dilakukan untuk cadangan stok.

      Temukan artikel ini di:
http://www.voanews.com/indonesian/news/Beras-Impor-akan-Masuk-Sampai-Akhir-Tahun-129651563.html

Kirim email ke