Beu, uyang ge ngimpor keneh geuning nya.

====
Selasa, 20 September 2011Meski Diprotes, Garam Impor Tetap Masuk ke
Indonesia

Wakil Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) mengatakan,
butuh koordinasi antar kementerian agar posisi petani garam tidak semakin
sulit.

Iris Gera | Jakarta
Foto: ASSOCIATED PRESS
Para petani garam lokal merasa terpukul dengan membanjirnya garam impor yang
membuat pendapatan mereka turun drastis (foto: dok).

Di Jakarta, hari Selasa (20/9), Wakil Ketua GINSI Erwin Taufan berpendapat,
seharusnya antara kementerian kelautan dan perikanan, kementerian
perdagangan serta kementerian perindustrian bisa saling koordinasi dengan
baik soal kebijakan impor garam yang akhir-akhir dibicarakan banyak
kalangan. Menurutnya perlu data akurat soal stok garam nasional saat ini
agar pemerintah memiliki satu suara sebelum meyimpulkan dibutuhkannya atau
tidak kebijakan impor garam.

“Berada untuk kepentingan secara nasional, secara umum, kalau memang
importasi itu salah bukan berarti mendidiknya itu dengan cara memberangus.
Kan sayang juga, kenapa nggak misalnya disita oleh negara, (dan) dipakai
untuk kepentingan nasional,” ujar Erwin Taufan.

Erwin Taufan menambahkan perselisihan beberapa kementerian terkait kebijakan
impor garam juga pada kenyataannya belum mampu mengubah nasib para petani
garam.

“Ini kan pemerintah semua, lucu kadang-kadang kita ini, itu peraturan untuk
kuota dan peraturan untuk importasi itu ada di industri dan perdagangan,
kenapa sih mereka ini tidak duduk bersama, berbagi, kenapa musti
ribut-ribut?,” ujar Erwin Taufan lagi.

Erwin Taufan menambahkan, jika (pemerintah) ingin membantu petani garam,
yang paling dibutuhkan adalah peningkatan teknologi pengolahan garam agar
hasil yang didapat mampu bersaing dengan garam impor. Ia mengingatkan dana
untuk memberdayakan petani garam sudah dianggarkan pemerintah yang
seharusnya sampai ke pihak petani garam.

“Yang menjadi soal kualitas petani punya itu jelek karena dia masih
tradisional masih di pasir tidak di keramik atau yang seharusnya dia belum
boleh dipanen, dia di panen karena takut nanti tergerus hujan atau ombak ,
jadi masih muda dan bentuknya jadi coklat, konsumen kan milih yang terbaik
nih, kalau dia dapat yang putih dan bersih, bagaimana caranya meningkatkan
kualitas para petani dan bagaimana caranya memberikan masukan kepada petani
‘ini lho yang benar’, kan ada tuh dana dari pemerintah dan itu pun tidak
tepat sasaran,” kata Erwin lagi.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad kembali
menyampaikan protes karena garam impor tetap datang ke Indonesia terutama
dari India dan Australia.

Fadel mengatakan, “impor garam sebulan sebelumnya dan dua bulan waktu panen,
sekarang orang lagi panen sebagian tapi impor begini banyak membuat harga
itu hancur, kalau harga itu hancur, rendah, garam-garam rakyat tidak mampu
diserap dengan harga pemerintah, tidak benar garam-garam disini tidak
produksi tapi tidak mampu menyerap dengan harga itu, saya bilang ada sesuatu
yang salah.”

Kementerian perdagangan dalam siaran pers yang dikeluarkan beberapa waktu
lalu menegaskan Indonesia masih akan mengimpor garam agar kebutuhan nasional
sebesar 1,4 juta ton terpenuhi. Kementerian perdagangan yang mendapat
dukungan dari kementerian perindustrian khawatir jika musim penghujan tiba
maka produksi garam akan turun drastis sehingga impor dibutukan.

Sementara itu untuk menekan maraknya garam impor masuk ke Indonesia,
kementerian kelautan dan perikanan berencana menambah anggaran untuk
pengembangan usaha garam rakyat tahun ini dari Rp 96 milyar menjadi sekitar
Rp 150 milyar.

Dari anggaran tersebut Rp 76 milyar diantaranya dalam bentuk bantuan
langsung masyarakat yang ditargetkan mampu menjangkau sekitar 15 ribu
petambak garam. Sisa anggaran untuk berbagai kegiatan agar produksi garam
rakyat dapat terus meningkat.


      Temukan artikel ini di:
http://www.voanews.com/indonesian/news/Meski-Diprotes-Garam-Impor-Tetap-Masuk-ke-Indonesia-130248458.html

Kirim email ke