Tah manggih deui geuning masjid nu percara kana tuah basa Sunda: Masjid Sang Cipta Rasa, Cirebon
=== Mengolah Rasa di Masjid Sang Cipta Rasa RABU, 24 AGUSTUS 2011 | 09:02 WIB Besar<http://www.tempo.co/hg/pernik_lebaran_10/2011/08/24/brk,20110824-353298,id.html#> Kecil<http://www.tempo.co/hg/pernik_lebaran_10/2011/08/24/brk,20110824-353298,id.html#> Normal<http://www.tempo.co/hg/pernik_lebaran_10/2011/08/24/brk,20110824-353298,id.html#> [image: foto] <http://image.tempointeraktif.com/?id=56221&width=490> Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan, Cirebon. Tempo/Tony Hartawan - *TEMPO Interaktif*, Rahayu, 54 tahun, tampak khusyuk dalam wiridnya di dalam mihrab Masjid Sang Cipta Rasa. Satu per satu butiran tasbih di tangannya bergulir. Kata-kata pujian kepada Allah diucapkan dengan penuh takzim. Seusai zikir, dia keluar dari mihrab. Dari Semarang, Rahayu bersama suami sengaja datang ke Cirebon hanya untuk melewatkan malam 10 hari terakhir Ramadan sekaligus mencari keberkahan Lailatul Qadar. Ritual iktikaf itu dilakukannya sejak 15 tahun silam. "Kebetulan kami berdua bekerja sebagai guru sehingga tak mengganggu jadwal kerja karena pada Ramadan ini sekolah sedang libur," ucap Rahayu kepada* Tempo*, Ahad lalu. Pada malam-malam ganjil Ramadan, Rahayu dan suaminya memilih iktikaf di Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid Agung Keraton Kasepuhan. Sedangkan pada malam-malam genap, ia memilih iktikaf di masjid di Astana Gunung Sembung, di samping lokasi pemakaman Sunan Gunung Jati dan keluarganya, serta di masjid di kawasan Pesantren Benda. "Dengan iktikaf, kami jadi lebih tenang. Apa lagi, sih, yang dicari dari hidup ini selain ketenangan?" ujar Rahayu. Malam itu, Masjid Sang Cipta Rasa penuh pada 10 terakhir Ramadan. Pengunjungnya tidak hanya berasal dari Cirebon, tapi juga dari sejumlah daerah lain. Suasana di luar masjid pun tampak ramai pada malam hari. Pedagang turut menyemarakkan suasana iktikaf. Mereka juga ketiban rezeki dari pengunjung. "Lumayanlah, lebih ramai dari hari-hari biasa," kata Herman, seorang pedagang makanan di depan Masjid Sang Cipta Rasa. Bahkan, pengurus masjid sampai harus menggilir umat yang hendak iktikaf di dalam mihrab. "Maksimal dua jam melakukan iktikaf di dalam mihrab," kata Mahmud, pengurus Masjid Sang Cipta Rasa. Menurut Mahmud, jika tidak dibatasi, mihrab yang ukurannya kecil akan sangat penuh oleh umat. Mihrab merupakan bangunan utama Masjid Sang Cipta Rasa yang dibangun oleh para wali. Untuk memasukinya, pengunjung harus menunduk karena ukuran pintu lebih pendek dari biasanya. Mahmud menjelaskan, sebagian besar umat percaya bahwa masjid itu merupakan tempat mengolah rasa. "Di sini kita berupaya untuk berinteraksi dengan Sang Maha Pencipta," kata Mahmud. Masjid Agung Sang Cipta Rasa terletak di sebelah barat Alun-alun Sangkalabuana atau 100 meter arah laut Keraton Kasepuhan Cirebon. Menurut Pangeran Wangsakerta dalam catatan sejarah berjudul Pustaka Nagara Kretabhumi yang disusun pada 1694, Masjid Sang Cipta Rasa atau Masjid Agung Kasepuhan didirikan Walisongo yang diprakarsai oleh Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah. Namun, banyak versi yang menceritakan awal dibangunnya masjid ini. Menurut catatan Keraton Kasepuhan, yang mengacu pada *Candrasengkala,**"waspada penembahe yuning ratu"*. Kalimat ini bermakna 2241 alias 1422 Saka, sezaman dengan 1500 Masehi. Menurut Kretabhumi, masjid dibangun pada 1489 Masehi. Pemimpin pembangunan masjid ini adalah Sunan Kalijaga. Ia melibatkan 500 tenaga kerja dari Cirebon, Demak, dan Majapahit. Sunan Kalijaga dibantu oleh Raden Sepat, arsitek dari Majapahit. *IVANSYAH* * http://www.tempo.co/hg/pernik_lebaran_10/2011/08/24/brk,20110824-353298,id.html *
