Resep nu paling akhir sikuring mah... Baseuh... Kusen panto mihrob pendek kitu teh inget baheula pas ulin ka Pesantren di Gasol Cianjur. Malahan hateup kobong oge dijieun pendek. Cenah ngarah handap asor wae, ngan sok waas ningali kobong kitu teh.. Powered by Telkomsel BlackBerry®
-----Original Message----- From: Ahmad Sahidin <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Tue, 27 Sep 2011 12:31:38 To: <[email protected]> Reply-To: [email protected] Subject: Re: [kisunda] Masjid - Masjid Sang Cipta Rasa, Cirebon Sampurasun... Heueuh... ayeuna mah masigit di alun2 kota bandung oge ngaranna jadi Masjid Raya Bandung.... jeung eta wangunanna oge jiga masigit timur tengah. Padahal mah masigit nu wangunan samodel masigit demak nu baheula janten wangunan masigit raya teh ceuk kuring langkung merenah. ah... teuing atuh.... ais pangampih kiwari mah jigana teu merhatikeun nu kitu. Nu peunting mah seubeuh.... weuteuh... jeung baseuh... Pada tanggal 27/09/11, Ki Hasan <[email protected]> menulis: > Tah manggih deui geuning masjid nu percara kana tuah basa Sunda: Masjid Sang > Cipta Rasa, Cirebon > > === > Mengolah Rasa di Masjid Sang Cipta Rasa > RABU, 24 AGUSTUS 2011 | 09:02 WIB > Besar<http://www.tempo.co/hg/pernik_lebaran_10/2011/08/24/brk,20110824-353298,id.html#> > Kecil<http://www.tempo.co/hg/pernik_lebaran_10/2011/08/24/brk,20110824-353298,id.html#> > Normal<http://www.tempo.co/hg/pernik_lebaran_10/2011/08/24/brk,20110824-353298,id.html#> > [image: foto] <http://image.tempointeraktif.com/?id=56221&width=490> > > Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan, Cirebon. Tempo/Tony Hartawan > > > > - > > > *TEMPO Interaktif*, Rahayu, 54 tahun, tampak khusyuk dalam wiridnya di dalam > mihrab Masjid Sang Cipta Rasa. Satu per satu butiran tasbih di tangannya > bergulir. Kata-kata pujian kepada Allah diucapkan dengan penuh takzim. > > Seusai zikir, dia keluar dari mihrab. Dari Semarang, Rahayu bersama suami > sengaja datang ke Cirebon hanya untuk melewatkan malam 10 hari terakhir > Ramadan sekaligus mencari keberkahan Lailatul Qadar. Ritual iktikaf itu > dilakukannya sejak 15 tahun silam. > > "Kebetulan kami berdua bekerja sebagai guru sehingga tak mengganggu jadwal > kerja karena pada Ramadan ini sekolah sedang libur," ucap Rahayu kepada* > Tempo*, Ahad lalu. > > Pada malam-malam ganjil Ramadan, Rahayu dan suaminya memilih iktikaf di > Masjid Agung Sang Cipta Rasa, Masjid Agung Keraton Kasepuhan. Sedangkan pada > malam-malam genap, ia memilih iktikaf di masjid di Astana Gunung Sembung, di > samping lokasi pemakaman Sunan Gunung Jati dan keluarganya, serta di masjid > di kawasan Pesantren Benda. > > "Dengan iktikaf, kami jadi lebih tenang. Apa lagi, sih, yang dicari dari > hidup ini selain ketenangan?" ujar Rahayu. > > Malam itu, Masjid Sang Cipta Rasa penuh pada 10 terakhir Ramadan. > Pengunjungnya tidak hanya berasal dari Cirebon, tapi juga dari sejumlah > daerah lain. > > Suasana di luar masjid pun tampak ramai pada malam hari. Pedagang turut > menyemarakkan suasana iktikaf. Mereka juga ketiban rezeki dari pengunjung. > "Lumayanlah, lebih ramai dari hari-hari biasa," kata Herman, seorang > pedagang makanan di depan Masjid Sang Cipta Rasa. > > Bahkan, pengurus masjid sampai harus menggilir umat yang hendak iktikaf di > dalam mihrab. "Maksimal dua jam melakukan iktikaf di dalam mihrab," kata > Mahmud, pengurus Masjid Sang Cipta Rasa. > > Menurut Mahmud, jika tidak dibatasi, mihrab yang ukurannya kecil akan sangat > penuh oleh umat. Mihrab merupakan bangunan utama Masjid Sang Cipta Rasa yang > dibangun oleh para wali. Untuk memasukinya, pengunjung harus menunduk karena > ukuran pintu lebih pendek dari biasanya. > > Mahmud menjelaskan, sebagian besar umat percaya bahwa masjid itu merupakan > tempat mengolah rasa. "Di sini kita berupaya untuk berinteraksi dengan Sang > Maha Pencipta," kata Mahmud. > > Masjid Agung Sang Cipta Rasa terletak di sebelah barat Alun-alun > Sangkalabuana atau 100 meter arah laut Keraton Kasepuhan Cirebon. Menurut > Pangeran Wangsakerta dalam catatan sejarah berjudul Pustaka Nagara > Kretabhumi yang disusun pada 1694, Masjid Sang Cipta Rasa atau Masjid Agung > Kasepuhan didirikan Walisongo yang diprakarsai oleh Sunan Gunung Jati atau > Syarif Hidayatullah. > > Namun, banyak versi yang menceritakan awal dibangunnya masjid ini. Menurut > catatan Keraton Kasepuhan, yang mengacu pada *Candrasengkala,**"waspada > penembahe yuning ratu"*. Kalimat ini bermakna 2241 alias 1422 Saka, sezaman > dengan 1500 Masehi. Menurut Kretabhumi, masjid dibangun pada 1489 Masehi. > > Pemimpin pembangunan masjid ini adalah Sunan Kalijaga. Ia melibatkan 500 > tenaga kerja dari Cirebon, Demak, dan Majapahit. Sunan Kalijaga dibantu oleh > Raden Sepat, arsitek dari Majapahit. > > *IVANSYAH* > > * > http://www.tempo.co/hg/pernik_lebaran_10/2011/08/24/brk,20110824-353298,id.html > * > -- => www.ahmadsahidin.wordpress.com
