Posisi Tawar Indonesia Rendah, Thailand Batalkan Ekspor Beras
KAMIS, 29 SEPTEMBER 2011 | 15:56 WIB

*TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Komisi Pertanian Dewan Perwakilan Rakyat
menyatakan pembatalan ekspor 300 ribu ton beras Thailand ke Indonesia harus
menjadi pembelajaran bagi pemerintah. Pemerintah dalam hal ini Bulog diminta
harus bisa memaksimalkan penyerapan gabah dan beras petani.

Anggota Komisi Pertanian DPR Rofi’ Munawar mengatakan pembatalan penjualan
beras ke Indonesia tersebut menunjukkan bahwa Thailand tengah memproteksi
pangan bagi petani dalam kebijakannya. “Tapi pembatalan itu juga menunjukkan
rendahnya posisi tawar Pemerintah Indonesia,” kata Rofi’, Kamis, 29
September 2011.

Sebelumnya Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra beralasan tidak mau
menjual berasnya ke Indonesia karena harga penawaran beras oleh Indonesia
terlalu rendah. Ditambah dengan rencana pemerintahan baru Thailand membeli
beras petani lokal seharga 15.000 baht atau US$ 481 per Oktober mendatang
atau lebih tinggi ketimbang harga pasar 8.000 baht selama Agustus membuat
petani menahan stok berasnya.

Proses jual-beli beras dengan Indonesia yang disepakati pada Agustus lalu
menyebutkan harga beras pecahan 15 persen US$ 550 per ton dengan pola
penyerahan *cost & freight* (C&F) atau US$ 515 per ton dengan pola *free on
board* (FOB). Dalam perhitungan awal, Bulog harus mengeluarkan anggaran
sebesar Rp 1,2 triliun untuk mengimpor 300 ribu ton beras.

“Momentum ini menjadi peringatan yang sangat penting bagi pemerintah guna
memperbaiki konsep ketahanan pangan yang selama ini ada serta kembali
bertumpu pada kekuatan pangan nasional,” ujar Rofi’ yang merupakan politikus
dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera.

Menurut dia, pembatalan itu harus menjadi pelajaran berharga bagi Bulog
bahwa kebijakan perberasan tidak dapat bergantung pada skema impor.
“Kejadian ini tidak boleh terulang kembali karena dapat mengancam ketahanan
pangan nasional,” katanya.

Sebagai catatan, Bulog juga telah menandatangani kontrak impor dengan
Vietnam sebesar 900 ribu ton dengan realisasinya baru sekitar 300 ribu ton.

Rofi’ meminta Pemerintah Indonesia tidak begitu saja bergantung dan menuruti
harga yang ditetapkan Thailand. Alasannya, dengan revisi harga, Bulog
sebenarnya lebih baik menggunakan anggarannya untuk membeli gabah dan beras
petani.

Kebijakan fleksibilitas penyerapan beras petani oleh Bulog sudah diperkuat
melalui Inpres Nomor 8 Tahun 2011. Inpres tersebut mengamanatkan kepada
Bulog untuk dapat menyerap beras petani semaksimal mungkin dengan tingkat
fleksibilitas harga yang memperhatikan harga pasar sesuai dengan data Badan
Pusat Statistik.

*ROSALINA*

*
http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/09/29/brk,20110929-359015,id.html
*

Kirim email ke