"Dan Kami hamparkan bumi. Kami pancangkan gunung-gunung. Kami tumbuhkan 
diatasnya segala sesuatu dengan berimbang. Dan Kami sediakan disana berbagai 
sumber kehidupan untukmu. Begitu juga bagi mereka yang rezekinya bukan menjadi 
tanggung jawabmu" (Al-Hijr : 19-20)
 
Nyimak ayat Al Qur'an di luhur ngagambarkeun konsep ekosistem dan 
sustainabilitas. Dina kalimat akhir ayat di luhur, eces pisan yen jalma 
kiwari boga tanggung jawab moral pikeun generasi anu bakal datang. " 
................rezeki bagi mereka yang bukan tanggung jawabmu". Ieu ngandung 
harti jalma kiwari kudu nitenan generasi anu bakal datang (anak incu jeung 
putu) anu henteu langsung ngarupakeun tanggung jawab jalma kiwari.
 
Dikaitkeun kana masalah kanyataan perpanganan Indonesia, anu mana Indonesia 
katelah nagara agraris anu notabene pikeun panghirupan tatanen kuduna mah 
Indonesia teh kaasup salah sahiji nagara produksi beas panggedena di kawasan 
Asia. Jadi mun galagatna kieu bae saterusna, ngandung harti yen jalma Indonesia 
henteu karunyaeun ka anak incu jeung putu, sabab ngurusan perpanganan 
bae kiwari henteu aja juntrunganna. Aya masalah naon dina sektor Pertanian 
nagara urang? Sawahna ngadadak ngahiyang???????? 
Nagara agraris, tapi urusan kejo kudu meuli ka nagara batur, naon bekeul anu 
baris diturunkeun ka anak incu, jeung putu teh.................Jalan Tol, Mall ?
 
 

________________________________
Dari: Ki Hasan <[email protected]>
Kepada: Ki Sunda <[email protected]>
Cc: Baraya Sunda <[email protected]>; Urang Sunda 
<[email protected]>
Dikirim: Jumat, 30 September 2011 4:13
Judul: [kisunda] "Garuda Dijejek Gajah"?


  
TEMPO Interaktif, Jakarta - Komisi Pertanian Dewan Perwakilan Rakyat menyatakan 
pembatalan ekspor 300 ribu ton beras Thailand ke Indonesia harus menjadi 
pembelajaran bagi pemerintah. Pemerintah dalam hal ini Bulog diminta harus bisa 
memaksimalkan penyerapan gabah dan beras petani.

Anggota Komisi Pertanian DPR Rofi’ Munawar mengatakan pembatalan penjualan 
beras ke Indonesia tersebut menunjukkan bahwa Thailand tengah memproteksi 
pangan bagi petani dalam kebijakannya. “Tapi pembatalan itu juga menunjukkan 
rendahnya posisi tawar Pemerintah Indonesia,” kata Rofi’, Kamis, 29 September 
2011.

Sebelumnya Perdana Menteri Thailand Yingluck Shinawatra beralasan tidak mau 
menjual berasnya ke Indonesia karena harga penawaran beras oleh Indonesia 
terlalu rendah. Ditambah dengan rencana pemerintahan baru Thailand membeli 
beras petani lokal seharga 15.000 baht atau US$ 481 per Oktober mendatang atau 
lebih tinggi ketimbang harga pasar 8.000 baht selama Agustus membuat petani 
menahan stok berasnya.

Proses jual-beli beras dengan Indonesia yang disepakati pada Agustus lalu 
menyebutkan harga beras pecahan 15 persen US$ 550 per ton dengan pola 
penyerahan cost & freight (C&F) atau US$ 515 per ton dengan pola free on 
board (FOB). Dalam perhitungan awal, Bulog harus mengeluarkan anggaran sebesar 
Rp 1,2 triliun untuk mengimpor 300 ribu ton beras.

“Momentum ini menjadi peringatan yang sangat penting bagi pemerintah guna 
memperbaiki konsep ketahanan pangan yang selama ini ada serta kembali bertumpu 
pada kekuatan pangan nasional,” ujar Rofi’ yang merupakan politikus dari Fraksi 
Partai Keadilan Sejahtera.

Menurut dia, pembatalan itu harus menjadi pelajaran berharga bagi Bulog bahwa 
kebijakan perberasan tidak dapat bergantung pada skema impor. “Kejadian ini 
tidak boleh terulang kembali karena dapat mengancam ketahanan pangan nasional,” 
katanya.

Sebagai catatan, Bulog juga telah menandatangani kontrak impor dengan Vietnam 
sebesar 900 ribu ton dengan realisasinya baru sekitar 300 ribu ton.

Rofi’ meminta Pemerintah Indonesia tidak begitu saja bergantung dan menuruti 
harga yang ditetapkan Thailand. Alasannya, dengan revisi harga, Bulog 
sebenarnya lebih baik menggunakan anggarannya untuk membeli gabah dan beras 
petani.

Kebijakan fleksibilitas penyerapan beras petani oleh Bulog sudah diperkuat 
melalui Inpres Nomor 8 Tahun 2011. Inpres tersebut mengamanatkan kepada Bulog 
untuk dapat menyerap beras petani semaksimal mungkin dengan tingkat 
fleksibilitas harga yang memperhatikan harga pasar sesuai dengan data Badan 
Pusat Statistik.

ROSALINA
http://www.tempointeraktif.com/hg/bisnis/2011/09/29/brk,20110929-359015,id.html
Posisi Tawar Indonesia Rendah, Thailand Batalkan Ekspor Beras  
KAMIS, 29 SEPTEMBER 2011 | 15:56 WIB

Kirim email ke