Rada aneh oge panalungtikan teh, Batawi bisa teu keuna nya? Hehehe

====

Aceh, Jawa Barat dan Banten Rawan Terorisme
RABU, 05 OKTOBER 2011 | 23:52 WIB
Besar<http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/10/05/brk,20111005-360084,id.html#>
 
Kecil<http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/10/05/brk,20111005-360084,id.html#>
 
Normal<http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/10/05/brk,20111005-360084,id.html#>
[image: foto]

ANTARA/Arief Priyono

*TEMPO Interaktif*, *Jakarta* - Setidaknya ada tiga provinsi yang ternyata
dinilai paling rawan terhadap aksi terorisme dan menjadi lahan subur
radikalisme. Ketiga daerah itu, menurut  Ketua lembaga swadaya masyarakat
Lazuardi Birru Dhyah Madya Ruth adalah Nanggroe Aceh Darussalam, Jawa Barat,
dan Banten.

Ini adalah hasil survey nasional Lazuardi Birru tentang Indeks Kerentanan
Radikalisme dan Terorisme di Indonesia yang dilakukan di 33 provinsi selama
Juni-Juli lalu. Aceh menempati posisi tertinggi 56,8 disusul Jawa Barat dan
Banten yang memiliki indeks kerentana yang sama sebesar yakni 46,6.

“Indeks ini menunjukkan tingkat partisipasi, dukungan, dan penerimaan
masyarakat terhadap radikalisme sosial keagamaan di daerah tersebut,”jelas
Dhyah dalam keterangan persnya di gedung Jakarta Media Centre, Rabu 5
Oktober 2011.

Tingginya angka indeks Aceh, kata Dhyah, antara lain disebabkan karena
memang provinsi itu menggunakan hukum Islam. Sedangkan untuk Jawa Barat
terkait dengan aspek historis dimana Jawa Barat merupakan basis bagi gerakan
Negara Islam Indonesia Kartosuwiryo. “Itu juga diperkuat dari catatan jumlah
pelaku bom bunuh diri yang kebanyakan berasal dari Jawa Barat,”paparnya.

Berdasarkan hasil survey pula diketemukan dukungan muslim Jawa Barat
memiliki dukungan tinggi atas penggunaan kekerasan untuk kepentingan agama.
“Ini paralel dengan mereka yang memandang jihad seagai pengorbanan nyawa
(35,4 persen), dan sebagai tindakan mengangkat senjata (50,6 persen),”jelas
Dhyah.

Sikap toleransi terhadap non-muslim juga sangat minim di Jawa Barat. Angka
itu, kata Dhyah lagi, menunjukkan bahwa tindakan radikal yang
mengatasnamakan agama masih rawan terjadi di Jawa Barat. “Mereka cukup
resisten dengan orang di luar ajarannya, meski tidak ekstrim,”ungkapnya.

Ia melanjutkan, masyarakat Jawa Barat juga banyak yang tergabung dalam
beberapa organisasi agama. Hal itu menunjukkan adanya tingkat kerentanan
mereka terhadap tindakan radikal yang cukup tinggi. “Dan ini terbkti dengan
banyaknya peristiwa radikal dan terorisme yang terjadi maupun dilakukan oleh
masyarakat Jawa Barat,”pungkanya.

Adapun berbagai macam usaha harus dilakukan untuk meminamilisir tindakan itu
melalui proses deradikalisasi dengan kerjasama berbagai pihak. “Dukungan
dari masyarakat, pemerintah untuk jalankan deradikalisasi harus terus
dilakukan,”tandasnya.

RIRIN AGUSTIA

http://www.tempointeraktif.com/hg/politik/2011/10/05/brk,20111005-360084,id.html

Kirim email ke