.ieu sambunganna ti Basmalah: Tinjauan Sufistik  (1) Oleh KH Jalaluddin Rakhmat
mangga diaos kanggo nu resep :-)
....
Basmalah: Tinjauan Sufistik  (2) Oleh KH Jalaluddin Rakhmat

Ada sebuah cerita di kalangan sufi. Pada suatu hari Junaid Al-Baghdadi
mikraj, naik ke langit. Pada perjalanannya, ketika sampai pada langit
pertama, ia melihat ada kumpulan malaikat sedang ruku’ dan zikir.
Junaid ditanya oleh para malaikat, “Hai Junaid, bergabunglah bersama
kami dengan berzikir mensucikan nama Tuhanmu.” Junaid menjawab,
“Tidak. Ajakan kalian tidak aku kehendaki.” Lalu ia naik ke tingkat
yang kedua. Ia melihat ada kumpulan orang sedang ruku’. Junaid diseru,
“Hai Junaid, bergabunglah bersama kami.” Junaid menjawab, “Tidak. Aku
tidak ingin bergabung dengan kalian.” Lalu ia naik ke tingkat ketiga.
Ia melihat ada sekelompok orang yang sedang sujud. Junaid diseru oleh
mereka untuk bergabung. Junaid menjawab, “Aku tidak ingin bergabung
denganmu.” Lalu sampailah ia pada suatu tempat yang lebih tinggi, yang
disebut Sidhratul Muntahâ. Pada tempat itu, ia mendengar perkataan,
“Apa yang kamu kehendaki, wahai Junaid?” Junaid berkata, “Aku
berkehendak supaya aku tidak mempunyai kehendak lagi.”
Inilah yang disebut sebagai puncak perjalanan tasawuf. Pada tingkat
ini, kalimat basmalah mempunyai kedudukan sama dengan kata kun. Jika
orang sudah sampai pada tingkat ini (mendahulukan kehendak Allah),
ucapannya adalah sebuah kebenaran.
Syekh Jawad Amuli menyebutkan contoh orang seperti ini adalah Abu Dzar
Al-Ghifari. Semua perkataan Abu Dzar adalah kebenaran. Rasulullah
bahkan pernah bersabda, “Di bawah naungan langit dan di atas permukaan
bumi ini tidak ada lidah yang lebih jujur selain lidah Abu Dzar.”
Mengapa Abu Dzar sampai pada tahap seperti itu? Karena, ia sudah
sampai pada tingkat tawakal kepada Allah; ia menyerahkan seluruh
kehendaknya hanya untuk Allah. Dalam kitab Nur Al-Tsaqalain
disebutkan: Sesungguhnya basmalah itu lebih dekat dengan nama Allah
yang Mahaagung daripada dekatnya hitam mata dengan putihnya. Basmalah
adalah nama agung bagi orang yang sudah mencapai derajat tertentu.
Allah: Antara Kasih Sayang dan Murka
Dalam basmalah itu terdapat asma-asma Allah yang menunjukkan sifat
jalâliyyah dan jamâliyyah. Asma-asma yang disebut dalam Basmallah
adalah Allah,Al-Rahmân, dan Al-Rahîm. Menurut Al-Razi, asma Allah
menunjukkan lafzh al-jalâlah. Allah adalah nama zat yang menunjukkan
kebesaran-Nya. Dengan kata Allah itu, ditunjukkanlah kekuasaan,
ke-Mahabesaran, dan ke-Mahatinggian Allah. Sesudah itu, Allah menyebut
Al-Rahman dan Al-Rahim. Dan itulah sifat jamâliyyah (sifat kasih
sayang). Allah hanya menggunakan satu nama untuk menggambarkan
kebesaran-Nya, yaitu kata Allah. Tapi untuk menggambarkan kasih
sayang-Nya, Allah menggunakan dua nama, yaitu Al-Rahman dan Al-Rahim.
Ini menunjukkan bahwa kasih sayang Allah jauh lebih besar, lebih
banyak, dan jauh lebih tinggi daripada ke-Mahakuasaan-Nya.
Kita tahu ada dua wajah Allah. Pertama, wajah Allah yang keras, yang
berat siksaan-Nya (Syadîd Al-’Iqâb). Inilah yang menunjukkan sifat
jalâliyyah. Kedua, wajah lain dari Allah yang Pengasih dan Penyayang;
wajah yang selalu siap mendengarkan keluhan dan penderitaan kita;
wajah yang setiap malam menunggu kita untuk datang berdialog
dengan-Nya; wajah yang selalu melimpahi setiap makhluk dengan
anugerah-Nya, walaupun makhluk-Nya itu setiap saat bertambah
kemaksiatan dan kedurhakaan kepada-Nya. Itulah wajah yang dalam
istilah tasawuf disebut sebagai sifat-sifat jamâliyyah, yakni
sifat-sifat keindahan Allah.
Dalam basmalah ditunjukkan bahwa sifat jamâliyyah Allah lebih besar
daripada sifat jalâliyyah-Nya. Kasih sayang Allah jauh lebih besar
daripada kemurkaan-Nya. Dalam sebuah hadis Qudsi diriwayatkan: Aku
ingin murka melihat kemaksiatan yang dilakukan oleh makhluk-Ku. Tetapi
Aku melihat orang-orang tua yang ruku’ dan sujud, anak-anak yang
menyusu pada ibunya, dan binatang-binatang yang mencari makanan. Maka
berhentilah kemarahan-Ku. Jadi, kasih sayang Tuhan jauh lebih besar
daripada kemurkaan-Nya. Sehingga di dalam doa Kumayl, disebutkan Wahai
Zat yang lebih cepat rida-Nya. Tuhan memang murka juga. Tetapi
rida-Nya jauh lebih cepat.
Di majalah Ummat, saya membaca tulisan Bapak Alwi Shihab. Di
universitasnya, di Amerika Serikat, beliau menyaksikan orang-orang
kafir yang akhlaknya sangat bagus, yang mencurahkan perhatiannya
kepada ilmu dengan tidak memperhatikan hal-hal duniawi. Mereka masih
kafir. Lalu dalam pikiran beliau bergulat berbagai masalah: Bagaimana
orang kafir bisa begitu baik akhlaknya dan mengabdi kepada Allah?
Bagaimanakah (nasib) mereka di akhirat nanti? Yang menarik dari
kesimpulan Alwi Shihab adalah beliau menunjuk kepada besarnya kasih
sayang Allah swt.
Kalau kita memikirkan betapa besarnya kasih sayang Allah daripada
murka-Nya, maka besar dugaan kita, kasih sayang Allah tidak hanya
meliputi orang-orang Islam, tetapi juga orang-orang kafir. Ustad Alwi
Shihab menduga bahwa orang-orang saleh yang agamanya berlainan akan
mendapat limpahan kasih sayang Allah swt juga.
Sebagian ulama mengatakan bahwa azab Allah juga berarti percikan kasih
sayang-Nya. Dalam hidup ini, seringkali Allah memberikan pelajaran,
baik berupa ujian maupun azab, kepada kita. Sebetulnya itu adalah
percikan dari kasih sayang Allah. Siksaan dan ujian yang kita terima
dalam kehidupan ini, tetap berasal dari samudera kasih sayang Allah
swt.
Kita pernah menceritakan keluhan seorang sahabat kepada Nabi saw. Ia
mengeluh karena setelah masuk Islam dagangannya rugi dan tubuhnya
sering ditimpa penyakit. Ia berkata, “Ya Rasulallah, tubuhku sakit dan
hartaku hilang.” Lalu Nabi menjawab bahwa ujiannya itu adalah tanda
dari kasih sayang Allah, bukan tanda dari kemurkaan-Nya. Tak ada
baiknya seseorang yang tubuhnya tidak pernah sakit dan hartanya tidak
pernah rugi. Karena, apabila Allah mencintai seorang hamba, Allah akan
coba ia dengan berbagai ujian, Ujian adalah percikan kasih sayang
Allah. Begitu juga halnya dengan azab Allah yang Ia berikan pada hari
akhirat nanti, ia masih merupakan percikan dari rahmân rahîm-Nya.
Mungkin kita bisa memahami bahwa ujian-ujian yang Allah berikan kepada
kita di dunia adalah salah satu jalan guna mengangkat diri kita
menjadi orang yang lebih baik. Dan itu sudah merupakan sunatullâh.
Orang yang memiliki kualitas yang tinggi adalah orang-orang yang sudah
teruji berkali-kali. Seperti sebuah peribahasa di negeri Barat yang
menyatakan: Badailah yang membuat kuat bangsa Viking.



-- 
"dahulukan akhlak di atas fikih" (Jalaluddin Rakhmat)


------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke