Matakna ceuk kolot lamun hirup teh ulah tanggung-2 kudu jelaaaaaaaas jeung polooooooos. Maksudna ku jelas teh rek bener-bener sakalian mun rek jahat ge ulah tanggung-tanggung jahaaaat sakalian. Kitu oge kudu polos... Naha Polos Bodas atawa poloooos hideuuung hehehehe. Sarua polosna pan wkwkwk.
Ciiiik dina itung-2an kaekonomian korupsi 35jt mah rugiiiiiiiii... Tapi lamun korupsi 3,5Trilyun... Taaah untuuuuuung wkwkwk. Pan anggaran APBN teh 1000 trilyun leuwih lin... Pernah maca di media Ceu Kokom alias komisi teh ceunah umumna 2,5%-5% lin? berarti duit anu biasa di koruuuup keur Ceu Kokom weh berarti pan sekitar 25 - 50 Trilyun liiiiin?? Kumaha lamun bocorna 30%nya? Tah lamun rek korupsi ulaaaah tangguuuung 1 trilyun weh kakara ngareunah... Biaya hukum kabayar... Biaya LSM jeung Media kabayar... Jeung biaya Pencitraan supaya katempo Religius jeung Agamis oge Kabayaaar, Bisa oge kurupsi berjamaah alias kabehan kasawer hehehe. Pan ari kabeh kacipratan mah meureun aman lin? Ari korupsi ngan puluhan atawa ratusan juta mah kagoooook teu break epen wkwkwkwk. Matakna hiruuuup mah ulah tanggung kudu JELAS jeung POLOS wkwkwkwk. Nuhuuuuuns, Mang Kabayan www.dkabayan.com ti urang, ku urang, keur balarea -----Original Message----- From: Ki Hasan <[email protected]> Sender: [email protected] Date: Sat, 5 Nov 2011 07:16:01 To: Ki Sunda<[email protected]> Reply-To: [email protected] Cc: Baraya Sunda<[email protected]>; Urang Sunda<[email protected]> Subject: [Baraya_Sunda] Hukum "Buluan"? Korupsi Rp 35 Juta, Kepala Sekolah Didenda Rp 200 Juta JUM'AT, 04 NOVEMBER 2011 | 14:32 WIB *TEMPO Interaktif*, *Bandar Lampung *- Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Tanjungkarang, Bandar Lampung, memvonis Haidir, terdakwa korupsi dana Bantuan Operasional Sekolah Rp 35 juta dengan penjara satu tahun empat bulan dan denda Rp 200 juta, Jumat, 4 November 2011. Vonis itu membuat mantan Kepala Sekolah Dasar Brathayuda, Blambangan Umpu, Way Kanan itu terkejut. “Saya tidak akan banding meskipun putusan majelis hakim terasa tidak adil,” kata Haidir seusai mendegarkan putusan hakim di Pengadilan Negeri Tanjungkarang, Jumat, 4 November 2011. Hakim Tipikor yang diketuai Ida Ratnawati menjatuhkan hukuman lebih ringan dari tuntutan jaksa yang menuntut 2 tahun dan denda Rp 200 juta. Terdakwa dinilai terbukti melakukan tindak pidana korupsi dengan cara menyelewengkan dana BOS mulai tahun 2005 hingga 2010. “Terdakwa terbukti secara sah dan meyakinkan telah merugikan negara Rp 35 juta,” kata Ida Ratnawati yang beberapa pekan lalu membebaskan Bupati Lampung Timur Satono, terdakwa korupsi Rp 119 milyar itu. Majelis hakim yang terdiri dari Ida Ratnawati, Sri Suharini, dan Surisno itu menilai, Haidir menyelewengkan dana BOS untuk SD Brathayuda, Blambangan Umpu, Way Kanan. Terdakwa mengalihkan sebagian dana BOS itu untuk membiayai berbagai kegiatan sekolah, seperti kemah, lomba olahraga, dan menyambut kunjungan pejabat. “Dia sangat jujur. Semua administrasi itu dicatat secara rinci kemana dana itu digunakan. Terdakwa tidak tahu kalau itu menyalahi aturan penggunaan dana BOS,” kata Eka Hamdani, kuasa hukum terdakwa. Selain dituding menilep dana BOS, Haidir juga didakwa menyalahgunakan wewenang dengan memotong gaji ke-13 milik tujuh orang guru di SD Brathayuda. Masing-masing sebesar Rp 60 ribu. “Semuanya untuk menutupi kegiatan sekolah. Dana BOS sering terlambat sehingga sebagai kepala sekolah, terdakwa harus kreatif mencari sumber dana untuk menutupi biaya kegiatan belajar-mengajar,” ujarnya. Eka mengaku heran dengan vonis hakim yang dinilai janggal itu. Dia mengaku hukuman yang dijatuhkan majelis hakim terlalu berat karena di persidangan tidak ditemukan kerugian negara. “Semua penggunaan dana Rp 35 juta itu ada rincian laporan dan bukti pembayaran. Terdakwa tidak memperkaya diri sendiri,” katanya. Dia menilai denda sebesar Rp 200 juta subsider satu bulan penjara tidak sebanding dengan kerugian negara yang didakwakan jaksa penuntut umum. “Tapi kami tidak bisa berbuat banyak karena terdakwa menerima putusan itu dan tidak mau mengajukan banding,” katanya. Haidir, 50 tahun, yang telah semperempat abad menjadi guru itu pun berkomentar pendek. “Biar saja. Demi ketenangan orang Way Kanan,” kata dia berlinang air mata sambil mengaku menjadi korban politik karena dia berkirim pesan pendek bernada menyindir kepada calon bupati yang memenangkan pemilihan kepala daerah setempat. *NURROHMAN ARRAZIE* http://www.tempointeraktif.com/hg/nusa_lainnya/2011/11/04/brk,20111104-364905,id.html
