KOmo lamun panggih jeung Luna hAyam mah, ulah dilewat kesempatan eat.
sugan we ....... ^_^

On 11/09/2011 09:22 AM, Ki Hasan wrote:

Kang Udin, tong poho salila ngatrok teh, mekel hp, kamera, nota, jeung pulpen nya. Catet tah naon wae nu kapanggih. Leuwih mantep deui mun dilengkepan ku fotona. Model kieu, mun panggih jeung hayam ajak ngobrol, sugan daekeun jadi fotomodel. Heug foto tah. Ngarah urang apal nu kumaha hayam borontok, carambang, jeung bulu hiris teh.


Wilujeng ngider, muga sing kagembol beubeunangan ladang ngaladogna nya.

2011/11/9 Sp Saprudin <[email protected] <mailto:[email protected]>>

    minggu payun kuring bade udarider bade icalan ngiriditkeun sendal
    jepit, kumargi kitu kuring salami dua minggu teu tiasa ngacaprak
    di ieu milis, ieu kuring nitip tulisan we sugan aya manfaatna
    Baktos,
    I. Saprudin
    ==========================================================================
    RITUAL AMAL DAN SOSIAL AMAL
    Ditulis oleh : I. Saprudin *)
    Firman Allah Swt.:
    "Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang
    baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan
    melipatgandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang lebih
    banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rizki) dan
    kepada-Nyalah kamu dikembalikan". (Q.S. Al Baqarah :245).
    "Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
    menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir
    benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir : seratus
    biji. Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa saja yang Dia
    kehendaki. Dan Allah Maha Luas karunia-Nya" (Q.S. Al Baqarah : 261).
    Kata amal dalam Al Qur'an dicantumkan lebih dari 400 kali,
    termasuk yang dirangkaikan dengan kata *ash-shaalihaat*. Sedang
    amal salih menurut pengertian yang telah diberikan para Ulama
    adalah perbuatan kebaikan yang mendatangkan manfaat bagi diri,
    keluarga, masyarakat dan seluruh ummat manusia, baik berupa
    perbuatan, sikap, prilaku, maupun ucapan. Ajaran Islam ternyata
    lebih banyak memperhatikan aspek kehidupan sosial daripada aspek
    kehidupan ritual. Tugas-tugas amal sosial ini mempunyai kedudukan
    yang sangat penting, sehingga kedudukannya lebih tinggi daripada
    amal ritual.
    Ayat Al Qur'an dan Hadits yang menyangkut kehidupan sosial
     jumlahnya lebih banyak ketimbang ibadah ritual. Ibadah yang
    mengandung segi kemasyarakatan diberi ganjaran lebih besar
    daripada ibadah yang bersifat per seorangan. Karena itu, Shalat
    jemaah lebih tinggi nilainya daripada shalat sendiri (mufarid).
    Bila urusan ibadah dilakukan tidak sempurna atau batal, karena
    tidak terpenuhinya salah satu syarat, maka kifaratnya ialah
    melakukan sesuatu yang berhubungan dengan muamalah. Misal puasa
    (shaum) tidak mampu dikerjakan, maka fidyah (memberi makan orang
    miskin) harus ditunaikan. Namun sebaliknya, bila orang tidak baik
    amal sosialnya, urusan ibadah tidak dapat menutupinya, sebagaimana
    dijelaskan dalam salah satu hadits "Dikatakan kepada Rasulallah
    Saw. seorang wanita puasa (shaum) siang hari, dan berdiri shalat
    di malam harti, tetapi ia selalu menyakiti tetangganya. Rasulallah
    Saw. menjawab "Perempuan itu di neraka". (HR. Ahmad).
    Dalam hadits lain disebutkan : "Tidak beriman kepadaku orang yang
    tidur kenyang, sementara tetangganya kelaparan".
    Dalam al Qur'an dinyatakan, orang-orang yang shalat akan celaka,
    bila ia menyakiti (menghardik) anak yatim, tidak memberi makan
    orang miskin, berbuat riya dalam amal dan tidak mau memberikan
    pertolongan.
    Tetapi aneh sekali dewasa ini, Ummat Islam lebih memperhatikan
    urusan amal ritual dari amal sosial. Dengan kata lain, Ummat Islam
    selama ini cenderung salah kaprah (keliru) mengartikan ibadah
    dengan membatasinya pada amal ritual. Betapa banyak Ummat Islam
    yang disibukkan dengan urusan amal ritual, tetapi mengabaikan
    urusan amal sosial (mengabaikan kemiskinan, kebodohan, kelaparan,
    kesengsaraan, dan kesulitan-kesulitan hidup yang diderita
    saudara-saudara se Islam).
    Betapa banyak kaum Muslimin yang kaya harta (bro di juru, bro di
    panto, ngalayah di tengah imah, beteng gendut pinuh podot, otak
    dage jiga kebo sontoloyo). Banyak uangnya, bahkan berkali-kali
    menunaikan haji, sementara disekitar rumahnya banyak anak-anak
    yang tidak bisa masuk sekolah karena tidak punya uang. Atau banyak
    anak-anak yang kurang gizi (gizi buruk), dan kelaparan. Betapa
    mudahnya jutaan bahkan milyaran uang dihabiskan untuk acara-acara
    (upacara keagamaan), berlomba-lomba membangun Masjid megah, disaat
    ribuan anak Islam tidak bisa melanjutkan sekolah, ribuan orang tua
    masih harus menanggung beban mencari nafkah, ribuan orang sakit
    menggelepar, sekarat menunggu maut karena tidak mampu membayar
    biaya rumah sakit, dan bahkan di saat ribuan Ummat islam terpaksa
    menjual iman dan keyakinannya kepada tangan-tangan kaum lain yang
    dianggap "belai kasih".
    URGENSI AMAL SOSIAL
    Islam sebagai agama, selain bersifat pribadi dan amal ritual,
    Islam juga bersifat amal sosial dan intelektual. Pada Aspek yang
    terakhir terasa kehilangan penekanan pada saat ini. Padahal
    mulanya justru sebaliknya yang terjadi, agama ini lebih bersifat
    sosial dan intelektual ketimbang pribadi dan ritual.
    Islam datang untuk mengubah yang lebih baik, seperti dicerminkan
    dengan tingkat ketaatan yang tinggi kepada Allah, pemahaman
    tentang syariat secara benar, dan terlepasnya ummat dari beban
    kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan, dan berbagai macam
    belenggu yang memasung kebebasan mereka. Untuk itu perlu segera
    ditumbuh kembangkan berbagai amal sosial sebagai bagian dari upaya
    pemberdayaan ummat. Betapa banyak nash-nash yang mengingatkan akan
    kewajiban beramal sosial, sebagaimana dalam surat Ali Imran ayat
    92 yang berbunyi artinya : "Kamu sekali-kali belum sampai kepada
    suatu kebajikan sebelum kamu menafkahkan sebagaian harta yang kamu
    cintai".
    Rasulallah Saw. bersabda : "Siapa saja yang membebaskan seorang
    mukmin dari kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari
    kesulitan di hari kiamat. Siapa saja memudahkan orang yang
    kesusahan di dunia, Allah akan memudahkannya di dunia dan di
    akhirat. Sesungguhnya Allah senantiasa menolong orang selama
    orang itu selalu menolong orang lain". (HR. Bukhari, Muslim).
    Pengertian amal tidak terbatas pada masalah amal ritual saja,
    tetapi menyangkut semua aspek kehidupan manusia. Mulai dari
    bekerja mencari nafkah untuk memenuhi hajat hidup diri dan
    keluarganya, hingga tatanan membangun kehidupan berbangsa dan
    bernegara yang berkeadialn sesuai denagn kehendak Allah Swt. juga
    merupakan amal salih. Menyantuni yatim piatu, dan terlantar,
    mengembangkan ekonomi ummat, menyemarakkan kegiatan pendidikan,
    bea siswa bagi kaum lemah (dhuafa), memperjuangkan keadilan,
    membantu mengobati orang sakit, melindungi orang-orang yang
    teraniaya dan lain sebagainya adalah amal salih, yaitu amal
    sosial. Dengan demikian, cakupan amal salih ini luas sekali, yang
    bisa dikerjakan oleh siapa saja sesuai dengan peran dan profesi
    serta kemampuan masing-masing.
    Orang-orang berilmu dapat mengoptimalkan pengetahuannya untuk
    melakukan amal intelektual, seperti menyampaikan kebenaran,
    memberikan fatwa yang lurus, dan berijtihad untuk kemaslahatan
    ummat. Secara sederhana dapat dikemukakan, amal ritual lebih
    merupakan urusan antara seorang hamba dan Allah (habluminallah);
    sedangkan amal sosial adalah urusan antara hamba dan hamba Allah
    yang lain (habluminannas), sebagai wujud dari ukhuwah Islamiyah,
    sebagaimana dijelaskan oleh Rasulallah Saw. : "Perumpamaan kaum
    mukminin dalam hal jalinan kasih sayang, kecintaan, dan
    persaudaraan, ibarat satu tubuh, yang bila salah satu anggotnya
    mengeluh karena sakit, maka seluruh anggota lainnya berjaga
    semalaman dan menanggung panas karena demam" (HR. Bukhari, Muslim).
    Wallahu'alam bishawab
    *) Pengurus Islamic Modern Daar El Kutub Bayah - Lebak, Banten





Kirim email ke