Bharatayudha dalam Perspektif Kesetaraan Gender
MINGGU, 16 OKTOBER 2011 | 17:16 WIB

*TEMPO Interaktif*, *Surakarta* - Dalam perang Bharatayuda, Resi Bisma
tewas oleh panah Hrusangkali yang dilontarkan Srikandi. Kematian manusia
setengah dewa itu membuat semua orang bersedih, baik dari kubu Pandawa dan
Kurawa. Namun Drupadi menyambutnya dengan tawa.

Demikian pertunjukan teater dengan latar belakang cerita wayang yang
digarap oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dalam Festival
Kesenian Indonesia VII di Solo, Sabtu malam, 15 Oktober 2011. Mereka
mencoba menafsir lakon Bharatayudha melalui isu kesetaraan gender.

Perang Bharatayudha yang berlangsung selama 18 hari itu diringkas menjadi
sebuah pertunjukan selama 30 menit. Mereka juga berusaha mengubah cerita
wayang itu agar lebih *‘ngepop’* dan segar. Beberapa percakapan diubah
dengan bahasa Indonesia agar mudah dipahami oleh penonton.

Pementasan teater berjudul *Karma di Ladang Kurusetra* itu dimulai dengan
cerita pertemuan antara Puntadewa dan Resi Bisma, sebelum pecah perang
Bharatayudha. Meski berada di pihak Kurawa, keluarga Pandawa sangat
menghormati pria yang dianggap bijaksana tersebut.

Cerita perang saudara itu berlanjut dengan kisah tewasnya Resi Bisma di
tangan Srikandi. Pertunjukan terus berlanjut dengan tewasnya Dursasana di
tangan Werkudara. Kematian dua tokoh Kurawa tersebut memang menjadi bagian
terpenting dalam garapan tersebut.

“Mereka berdua memiliki dosa besar terhadap perempuan,” kata Rano Sumarno,
sutradara dalam pertunjukan tersebut. Bisma pernah membunuh Dewi Amba yang
sangat mencintainya. Sedangkan Dursasana pernah melakukan pelecehan
terhadap Drupadi saat menang taruhan melawan Pandawa.

“Perang Bharatayudha ini menjadi hukum karma bagi mereka berdua,” kata
pengajar jurusan teater ISI Yogyakarta tersebut.

Penggarapan naskah *Karma di Ladang Kurusetra* ini memakan waktu dua bulan.
Dalam pementasan tersebut, Rano melibatkan pemain dari berbagai jurusan.
Seperti jurusan pedalangan, tari, karawitan, seni pertunjukan, hingga musik.

Tidak semua cerita berdasar pada pakem pewayangan. “Pakemnya, saat Bisma
gugur, semua orang bersedih,” kata Rano. Namun dirinya justru menghadirkan
sosok Drupadi yang menyambut gembira atas kematian tokoh yang memiliki dosa
terhadap perempuan itu.

Tata panggung dalam pertunjukan di Teater Besar ISI Surakarta itu
berlatarkan seni pertunjukan tradisional. Pemain yang telah menyelesaikan
adegan tidak keluar dari panggung, namun duduk bersama pemusik gamelan
dengan membelakangi penonton. Mereka memberikan sentuhan musik dengan warna
khas Sunda, Jawa, serta Bali.

*AHMAD RAFIQ*

http://www.tempointeraktif.com/hg/panggung/2011/10/16/brk,20111016-361655,id.html

Kirim email ke