Beunang nyomot tina FB:

=====

"Pertanyaan apa itu?"

Ali Asani, Profesor di Harvard University, mengajar Bahasa dan Kebudayaan
Indo-Muslim.
Menuturkan: Saya mempunyai seorang mahasiswa pasca sarjana yang sedang
melakukan
riset literatur-literatur pasca-kolonialisme di jurusan sastra Inggris.
Suatu ketika dia datang
ke kantor saya untuk meminta bantuan menterjemahkan naskah-naskah
orientalisme.
Sesudahnya saya ditraktir makan malam.

Kami bicara banyak hal dan pembicaraan kami benar-benar menarik. Di
tengah-tengah
obrolan ketika makan malam itu tiba-tiba dia berkata, "Saya harap Anda tak
tersinggung
dengan pertanyaan saya yang satu ini." "Pertanyaan apa itu?", tanya saya
penasaran.
"Bagaimana mungkin seorang intelektual seperti Anda, yang tentu amat
rasional dan cerdas,
memeluk sebuah agama yang menganjurkan jihad, perang suci, dan terorisme?"

Kalau Anda buka kamus bahasa Arab, Anda tak akan menemukan kata-kata
"perang" maupun
"suci " di bawah definisi jihad. Istilah itu sendiri terbentuk dari
konsonan 'j', 'h', dan 'd'. Dan kalau
Anda tengok ke akar katanya, jihad berarti "bekerja keras" atau "berjuang."
Jadi kalau Anda
berusaha keras untuk bangun dari tempat tidur di subuh hari, itu adalah
jihad. Kalau Anda
berjuang keras menerobos badai salju untuk pergi kerja, itu juga merupakan
jihad.
Jadi, sesungguhnya istilah jihad mempunyai pengertian gramatikal khusus,
dan dalam
konteks keagamaan mempunyai pengertian tertentu.

Sayangnya, sering kali umat Islam menggunakannya secara salah. Mereka pakai
istilah jihad
secara gampang dikaitkan dengan kepentingan politik. Akibatnya sebuah
konsep relijius yang
sangat indah telah disalahartikan. Beberapa tahun terakhir ini, konsep
jihad telah diasosiasikan
dengan agama Islam secara negatif. Orang menyebut Perang Teluk berhubungan
dengan Islam.
Padahal tak ada kaitan apapun antara Perang Teluk dengan agama Islam.
Perang Teluk bukan
disebabkan persoalan agama, tetapi persoalan politik. Namun semua orang
tetap memandangnya
seolah-olah ada kepentingan agama di dalamnya. Mereka serta merta mengira
bahwa Islamlah
yang menyebabkan semua itu.

Pemahaman semacam itu bukan saja sangat naif, tetapi juga amat mencemarkan.
Pemahaman itu
menggambarkan seolah-olah Muslim tak sama dengan umat manusia lain, yang
juga dimotivasi
oleh kepentingan politik, ekonomi, dan masalah-masalah sosial. Banyak orang
mengira,
satu-satunya yang mendorong tindakan mereka adalah agama.

Kini saatnya untuk bertanya: Apa sih artinya menjadi seorang Muslim? Kalau
Anda pakai Islam
sebagai ideologi politik, maka menjadi perlu untuk mendefinisikan siapa
Muslim itu, bagaimana
perilaku Muslim dan juga yang bukan Muslim. Dan kalau analisis dan
pemahaman semacam ini
Anda teruskan, maka Anda mendekati bahaya menafsirkan Islam secara
bertentangan dengan
ajaran Islam yang mendasar.

Al-Quran menyebut bahwa tak ada paksaan dalam agama. Bagaimana mungkin
sebuah negara
atau pemerintahan menggunakan Islam sebagai ideologi politik dengan memaksa
rakyatnya
shalat lima waktu. Di Saudi Arabia, ada yang disebut "Polisi Agama". Anda
harus menutup toko
dan dagangan Anda untuk pergi shalat jika waktunya tiba. Itu bukan ajaran
Islam yang sesuai
dengan Al-Quran, melainkan Islam yang digunakan sebagai alat politik. Di
banyak tempat
di dunia Muslim, Anda temukan negara-negara yang mencoba mendefinisikan
siapa Muslim
dan siapa yang bukan Muslim, dan juga bagaimana perilaku yang Islami.
Tetapi, di negeri ini,
Amerika, Anda dapat menjadi seorang Muslim dan membicarakannya dengan
sesama Muslim,
tanpa ada seorang pun yang memaksa Anda untuk bergabung dengan kelompok
mana pun.
Inilah salah satu kehebatan Muslim di sini. Dalam beragama, Anda
membutuhkan dinamika,
dan saya kira inilah yang sedang terjadi di Amerika. Bagi kelompok imigran,
Islam masih
merupakan tradisi dan istilah yang relatif baru. Dan masyarakat terus
menerus melakukan
pembenahan, belajar mengorganisasi kemajemukan dalam Islam. Ada usaha untuk
lama-lama
menyadari bahwa untuk menjadi seorang Muslim, kita dapat melalui banyak
jalan,
tanpa harus menghakimi satu lama lain.

Jihad saya sendiri meliputi dua hal: pertama, memahami standar ganda
bagaimana Islam
digambarkan di Barat; dan kedua, perjuangan untuk membuat kaum Muslimin
memahami
bahwa ada banyak jalan untuk menjadi Muslim. Syahadat itu ibarat sebuah
tali yang menyatukan
biji-biji tasbih. Semuanya tergabung menjadi satu dengan tali itu. Meskipun
warnanya berbeda
satu sama lain, biji-biji itu tetap merupakan satu kesatuan.

American Jihad, Islam After Malcolm X Terbitan Bantam Doubleday, Dell
Publishing Group, Inc., New York

https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10150932175185724.765664.286042970723&type=1

Kirim email ke