Produksi Tahun Ini Cukup Bagus
Rambutan Subang Geser Dominasi Buah Impor

Jumat, 02/12/2011 - 17:23
 [image: DODO RIHANTO/"PRLM"]
DODO RIHANTO/"PRLM"
SEJUMLAH mobil milik tengkulak rambutan dari luar daerah berjajar di tepi
jalan Raya Subang-Kalijati, Jumat (2/12). Para tengkulak sengaja datang ke
Subang untuk memborong rambutan dan menjaul...

SUBANG, (PRLM).- Salah satu jenis buah lokal yang mampu bertahan atas
serbuan buah impor adalah rambutan. Bahkan buah asli Indonesia ini mampu
menggeser dominasi pasar buah impor di sejumlah sentra penjualan buah.

Salah satu sentra produksi buah rambutan berada di wilayah Kabupaten
Subang. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan setempat
16 dari 30 kecamatan di Kab. Subang terdapat areal perkebunan rambutan.

Hanya saja areal terbesar perkebunan buah berbentuk bundar dengan bulu-bulu
disekujur kulitnya itu hanya ada di tiga kecamatan yakni Purwadadi,
Kalijati, dan Cipeundeuy. Setiap musim rambutan tiba, warna merah dari buah
rambutan mendominasi wilayah tiga kecamatan itu.

Dari tiga kecamatan itu pula, buah rambutan menyebar ke pasar-pasar luar
daerah, seperti Bekasi, Bandung, Majalengka, Indramayu, Cirebon, bahkan
hingga ke Tegal dan Brebes Jawa Tengah. Selain dijual di pasar dan
kios-kioas buah, rambutan kerap dijajakan dengan cara berkeliling kampung.

Berdasarkan hasil pantauan “PRLM”, pada tahun 2011 ini produksi buah
rambutan di sejumlah sentra perkebunan tergolong bagus. Hampir semua pohon
rambutan berbuah lebat.

Hal tersebut membuat para pemilik kebun gembira. "Alhamdulillah, panen
tahun ini cukup bagus, tidak seperti tahun lalu yang gagal akibat cuaca
buruk dan serangan ulat bulu,” ujar salah seorang petani rambutan di Kamp.
Ciputih, Desa Kalijati Kaler, Kecamatan Kalijati, Engking Sarkim (60).

Patani yang memiliki 15 pohon rambutan ini mengatakan, dari setiap pohon
dirinya mampu menjaul buah rambutan Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu.
Pendapatan sebesar itu membuat pensiunan PNS tersebut mampu membeli
barang-barang lektronik yang diidamkannya.

Hal senada dikatakan Rahayu, pemilik kebun rambutan di Desa Dawuan Kaler,
Kec. Dawuan. Namun, Rahayu tidak menjual buah rambutan per pohon melainkan
memanennya terlebih dahulu dan mengikat buah rambutan baru kemudian
menjualnya.

“Saya menjual buah rambutan Rp 4.500,- per gedeng (dua ikat-Red) kepada
pengepul. Lumayan lah pada musim rambutan tahun ini, biaya sekolah
anak-anak kami tertutup,” kata dia.

Dikatakan juga, rambutan asal Subang ada beberapa jenis yakni rambutan
Lebak, Binjai, Rapiah, dan Si Pelat. Dari ke mepat jenis itu yang paling
banyak ditanam petani adalah rambutan jenis Lebak. Kendati hargnya murah,
pohon rambutan Lebak burbauh sangat lebat dan rasanya cukup enak.

“Yang paling enakl adalah buah rambutan jenis Rapiah dan Si Pelat. Namun
rambutan jenis itu sulit tumbuh dan buahnya jarang, sehingga harganya
mahal,” kata Rahayu.

Rahayu maupun Engking mengaku tak pernah kesulitan memjual rambutan hasil
panennya. Sebab, setiap musim rambutan tiba, ratusan tengkulak dari luar
daerah datang ke Subang sambil memabwa mobil masing-masing. Mereka datang
dari wilayah Bandung, Cianjur, Bekasi, Majelengka, Indramayu, Cirebon dan
Jawa Tengah. Para petani dan pengepul cukup menumpuk ikatan rambutan di
pinggir jalan maka pemebli akan datang menghampiri mereka.

Burhan, salah seorang bandar rambutan asal Bekasi, mengaku setiap hari
mengangkut produksi rambutan asal Subang ke daerahnya. Di sana dia melempar
kembali buah rambutan dari Subang ke para penjual buah, tentunya dengan
harga yang lebih tinggi.

"Saya membeli rambutan dari petani atau pengepul Rp 4.500,- per gedeng.
Setibanyak di Bekasi rabutan itu saya jual lagi dengan harga Rp. 75.000 per
gedeng," kata Burhan. (A-106/A-147)***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/167802

Kirim email ke