Enya di Ciaterna mah loba danas (ganas) ceuk Indonesiana mah nanas lain nanah nyah...he.he.. pan kuring ngaliwatan Subang - Purwakarta
Dari: Gunawan Yusuf <[email protected]> Kepada: [email protected] Dikirim: Senin, 5 Desember 2011 14:35 Judul: Re: [kisunda] Usum Rambutan Euy! Kang Udin, di ciater mah oleh oleh anu khas teh danas, sok wae najan hejo tapi amis 2011/12/5 Sp Saprudin <[email protected]> >Kamari ulin ka Ciater, oleh-olehna ngaborong rambutan di Subang...... keur >ceuyah rambutan di Subang teh > > > >Dari: Ki Hasan <[email protected]> >Kepada: Ki Sunda <[email protected]> >Cc: Baraya Sunda <[email protected]> >Dikirim: Sabtu, 3 Desember 2011 7:56 >Judul: [kisunda] Usum Rambutan Euy! > > > > >Produksi Tahun Ini Cukup Bagus >Rambutan Subang Geser Dominasi Buah Impor >Jumat, 02/12/2011 - 17:23 > >DODO RIHANTO/"PRLM" >SEJUMLAH mobil milik tengkulak rambutan dari luar daerah berjajar di tepi >jalan Raya Subang-Kalijati, Jumat (2/12). Para tengkulak sengaja datang ke >Subang untuk memborong rambutan dan menjaul... >SUBANG, (PRLM).- Salah satu jenis buah lokal yang mampu bertahan atas serbuan >buah impor adalah rambutan. Bahkan buah asli Indonesia ini mampu menggeser >dominasi pasar buah impor di sejumlah sentra penjualan buah. >Salah satu sentra produksi buah rambutan berada di wilayah Kabupaten Subang. >Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan setempat 16 dari 30 >kecamatan di Kab. Subang terdapat areal perkebunan rambutan. >Hanya saja areal terbesar perkebunan buah berbentuk bundar dengan bulu-bulu >disekujur kulitnya itu hanya ada di tiga kecamatan yakni Purwadadi, Kalijati, >dan Cipeundeuy. Setiap musim rambutan tiba, warna merah dari buah rambutan >mendominasi wilayah tiga kecamatan itu. >Dari tiga kecamatan itu pula, buah rambutan menyebar ke pasar-pasar luar >daerah, seperti Bekasi, Bandung, Majalengka, Indramayu, Cirebon, bahkan hingga >ke Tegal dan Brebes Jawa Tengah. Selain dijual di pasar dan kios-kioas buah, >rambutan kerap dijajakan dengan cara berkeliling kampung. >Berdasarkan hasil pantauan “PRLM”, pada tahun 2011 ini produksi buah rambutan >di sejumlah sentra perkebunan tergolong bagus. Hampir semua pohon rambutan >berbuah lebat. >Hal tersebut membuat para pemilik kebun gembira. "Alhamdulillah, panen tahun >ini cukup bagus, tidak seperti tahun lalu yang gagal akibat cuaca buruk dan >serangan ulat bulu,” ujar salah seorang petani rambutan di Kamp. Ciputih, Desa >Kalijati Kaler, Kecamatan Kalijati, Engking Sarkim (60). >Patani yang memiliki 15 pohon rambutan ini mengatakan, dari setiap pohon >dirinya mampu menjaul buah rambutan Rp 350 ribu hingga Rp 500 ribu. Pendapatan >sebesar itu membuat pensiunan PNS tersebut mampu membeli barang-barang >lektronik yang diidamkannya. >Hal senada dikatakan Rahayu, pemilik kebun rambutan di Desa Dawuan Kaler, Kec. >Dawuan. Namun, Rahayu tidak menjual buah rambutan per pohon melainkan >memanennya terlebih dahulu dan mengikat buah rambutan baru kemudian menjualnya. >“Saya menjual buah rambutan Rp 4.500,- per gedeng (dua ikat-Red) kepada >pengepul. Lumayan lah pada musim rambutan tahun ini, biaya sekolah anak-anak >kami tertutup,” kata dia. >Dikatakan juga, rambutan asal Subang ada beberapa jenis yakni rambutan Lebak, >Binjai, Rapiah, dan Si Pelat. Dari ke mepat jenis itu yang paling banyak >ditanam petani adalah rambutan jenis Lebak. Kendati hargnya murah, pohon >rambutan Lebak burbauh sangat lebat dan rasanya cukup enak. >“Yang paling enakl adalah buah rambutan jenis Rapiah dan Si Pelat. Namun >rambutan jenis itu sulit tumbuh dan buahnya jarang, sehingga harganya mahal,” >kata Rahayu. >Rahayu maupun Engking mengaku tak pernah kesulitan memjual rambutan hasil >panennya. Sebab, setiap musim rambutan tiba, ratusan tengkulak dari luar >daerah datang ke Subang sambil memabwa mobil masing-masing. Mereka datang dari >wilayah Bandung, Cianjur, Bekasi, Majelengka, Indramayu, Cirebon dan Jawa >Tengah. Para petani dan pengepul cukup menumpuk ikatan rambutan di pinggir >jalan maka pemebli akan datang menghampiri mereka. >Burhan, salah seorang bandar rambutan asal Bekasi, mengaku setiap hari >mengangkut produksi rambutan asal Subang ke daerahnya. Di sana dia melempar >kembali buah rambutan dari Subang ke para penjual buah, tentunya dengan harga >yang lebih tinggi. >"Saya membeli rambutan dari petani atau pengepul Rp 4.500,- per gedeng. >Setibanyak di Bekasi rabutan itu saya jual lagi dengan harga Rp. 75.000 per >gedeng," kata Burhan. (A-106/A-147)*** >http://www.pikiran-rakyat.com/node/167802 > > >
