salam. tah ieu, aya bahan obrolkeuneun deui. sugan payu. mangga geura diaos.


----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: ahsa <[email protected]>
Kepada: "[email protected]" <[email protected]> 
Dikirim: Jumat, 9 Desember 2011 11:28
Judul: [jalanrahmat] Trs: [Lovers-of-Ahlul-Bayt] Bagaimana Nasib pembunuh 
Sayyidina Husein as.
 

 





----- Pesan yang Diteruskan -----
Dari: "Yushidarma, Dhani" <[email protected]>
Kepada: [email protected]
Cc: 
Dikirim: Jumat, 9 Desember 2011 10:51
Judul: [Lovers-of-Ahlul-Bayt] Bagaimana Nasib pembunuh Sayyidina Husein as.


Ada kawan baru dikantor yg masih awam tentang ahlul bayt mengirimkan email 
dibawah. Insya Allah akan disambung melalui obrolan.

Salam,
Dhani
*----------------------* 
 
Bagaimana Nasib Pembunuh Sayidina Husain?
Peringatan Asyura memang telah berlalu, namun hikmah dari peristiwa tersebut 
akan selalu kekal sepanjang zaman. Di antara hikmah tersebut dapat kita baca 
dari sabda Sayidina Husain yang terbukti kebenarannya. Perhatikan baik-baik 
ucapan Sayidina Husain berikut,
 “Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan kemaksiatan kepada Allah, 
maka dia akan semakin jauh dari apa yang diharapkannya dan semakin cepat kepada 
apa yang dikhawatirkannya.”
Kita mulai kisah pembunuh Sayidina Husain dari awal. Sebelum ditugaskan di 
Karbala, 
Umar bin Saad [panglima perang pasukan Yazid, putra Saad bin Abi Waqash] sudah 
mendapat perintah untuk pergi ke sebuah daerah di Persia, dan menjadi gubernur 
di sana. Namun, Ibnu Ziad memberikan tawaran lain, yakni membunuh Sayidina 
Husain. Tawar menawar antara Umar dan Ibnu Ziad pun terjadi.
Umar bin Saad bimbang. Anaknya menceritakan bahwa Umar berkata, “Apakah aku 
akan pergi ke Karbala dan membunuh Husain? Jika aku melakukan itu, maka aku 
akan mendapatkan kekuasaan dan harta, serta dunia akan bergegas kepadaku. Akan 
tetapi di akhirat aku akan mendapat neraka Jahannam dan siksa Allah. Adapun 
jika aku tidak pergi ke Karbala, maka bagiku akhirat, kemuliaan surga, keridhaan
 Allah, namun aku tidak mendapatkan dunia.”
Hubb ad-dunyâ(kecintaan kepada dunia) seolah merasukinya, dan ia berkata, “Di 
sana ada akhirat. Jika begitu, sekarang kita pergi ke Karbala dan membunuh 
Husain, lalu kita kembali ke Ray dan memegang kekuasaan di sana, dan setelah 
itu baru kita bertaubat.”Di tengah pertempuran Karbala, Sayidina Husain 
berulang kali mengingatkan Umar atas apa yang akan dilakukannya. Sayidina 
Husain berharap agar manusia ini masih dapat memperoleh hidayah dari Allah. 
Sayidina Husain menawarkan segala yang Umar inginkan. Ketika Umar mengatakan, 
“Aku ingin memerintah di Ray.” Imam Husain berkata, “Aku harap engkau tidak 
memakan gandum dari daerah Ray, karena mereka akan memenggal kepalamu di tempat 
tidurmu.”
Singkatnya, Umar menolak tawaran Imam. Pembantaian di Karbala berakhir. Umar 
telah membunuh Sayidina Husain, sang cucu Nabi, dan menjalankan perintah Ibnu 
Ziad dan Yazid. Mari kita mengingat kembali ucapan
 suci Imam Husain, “Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan 
kemaksiatan kepada Allah, maka dia akan semakin jauh dari apa yang 
diharapkannya dan semakin cepat kepada apa yang dikhawatirkannya.”
Umar bin Saad melapor dan berkata kepada Ibnu Ziyad, “Aku telah siap untuk 
berangkat ke Ray.” Ibnu Ziyad berkata, “Aku mendengar bahwa engkau melakukan 
pertemuan khusus dengan Imam Husain. Apa pentingnya engkau melakukan pertemuan 
dengan musuh?!” Umar menjawab, “Itu tidak penting. Aku telah menjalankan 
perintahmu untuk membunuh Husain dan telah aku kirim ke Syam. Sekarang, setelah 
semua ini, apa yang engkau inginkan?”
Ibnu Ziad berkata, “Seharusnya engkau tidak melakukan pertemuan dengan Husain. 
Berikan kepadaku surat perjanjian mengenai kekuasaan Ray.” Ibnu Ziyad 
mengambilnya dan merobek-robek serta membuangnya. Umar berkata, “Wahai Ibnu 
Ziyad, engkau telah menghancurkanku.” Setelah kejadian ini, Umar selalu 
membacakan
 ayat: 
“Rugilah ia di dunia dan di akhirat, yang demikian itu adalah kerugian yang 
nyata” (QS. Al-Hajj : 11).
Umar mulai menjadi gila. Istri dan anak-anaknya jengkel. Mereka berkata, 
“Engkau menyebabkan kesengsaraan kami. Karena perbuatan kejimu, kami tidak bisa 
pergi ke luar rumah.” Setiap Umar melewati jalan-jalan kota, anak-anak 
melemparinya dengan batu dan mendapat hinaan dari orang-orang di sana.
Kemudian datang periode Mukhtar, khalifah Umayyah lainnya. Istri Umar bin Saad 
adalah saudari Mukhtar. Karena itu, istri Umar mendapat surat jaminan 
keselamatan bagi suaminya. Mukhtar tahu bahwa Umar telah melakukan kejahatan 
besar di Karbala. Karenanya surat jaminan itu berbunyi: “
Umar ibn Saad fî amân mâ lam yuhdits hadatsan (Umar bin Sa’ad dalam keadaan 
aman selama tidak menciptakan suatu perkara).”
Mukhtar bangkit dengan dalih menuntut darah Karbala dan demi mengobati hati 
pengikut Imam Ali. Dalam sebuah majelis,
 Mukhtar memerintahkan anak buahnya untuk menyembelih dua putera Umar bin Sa’d. 
Umar berkata, “Sungguh, pemandangan ini sangat menyakitkan aku.” Mukhtar 
berkata, “Ketika engkau memenggal kepada 
Ali Akbar di hadapan Imam Husain, apakah tindakan itu tidak menyakitkan?”
Mukhtar balik ke rumah dan memanggil dua pengawalnya. Mukhtar berkata, “Pergi 
dan bawa Umar ke hadapanku. Kalian harus berhati-hati. Jika Umar berkata akan 
mengambil baju, sungguh dia akan menipumu karena dia sangat licik. Maka 
bunuhlah di sana.”
Kedua pengawal Mukhtar mendatangai Umar yang sedang tidur dan berkata, “Mukhtar 
menginginkan engkau wahai Umar!” Umar berkata, “Mukhtar telah memberikanku 
surat jaminan keamanan.” Umar menunjukkan surat itu. Pengawal mendapatkan 
kalimat 
’Umar ibn Sa’ad fî amân mâ lam yuhdits hadatsan dan berkata, “Kalimat ini 
mempunyai dua makna. Makna pertama selama tidak melakukan perkara maka aman. 
Sedangkan makna
 kedua selama tidak buang air maka aman.” Kalimat 
mâ lam yuhdits hadatsan berasal dari kata 
hadats (buang air).
Umar berkata, “Mukhtar tidak menginginkan makna yang kedua.” Pengawal itu 
berkata, “Kami memahaminya demikian.” Lalu Umar berkata, “Ambilkan bajuku.” 
Pada saat Umar berkata seperti itulah kedua pengawal itu memenggal leher Umar 
bin Saad. Anak Umar yang melihat kejadian itu juga ikut dibunuh.
Imam Husain sudah berusaha menasehati Umar dan ucapan Imam terbukti dengan 
benar. “Barang siapa berusaha mencapai suatu urusan dengan kemaksiatan kepada 
Allah, maka dia akan semakin jauh dari apa yang diharapkannya dan semakin cepat 
kepada apa yang dikhawatirkannya.” Wallahualam.
Sumber: Jihâd A-NafsNasib Pembunuh Pembantaian Karbala yang Lain
Syimr bin Ziljausyan bernama asli Syurahbil bin Qurath Adz-Dzahabi Al-Kilabi, 
salah satu pelaku paling keji di Karbala. Suatu ketika setelah salat ia berdoa, 
“Ya Allah, Engkau
 tahu bahwa aku termasuk orang yang mulia, karena itu ampunilah aku.” Seseorang 
berkata kepadanya, “Bagaimana Allah akan mengampunimu, padahal engkau ikut 
membunuh cucu tercinta Rasulullah!”
Syimr menjawab, “Apa yang dapat kami lakukan? Ketika para pemimpin 
memerintahkan kami, tak ada lagi yang dapat kami lakukan selain mematuhinya. 
Bila kami menentang, nasib kami lebih buruk dari keledai-keledai itu.”
Sama seperti nasib Umar bin Saad, 
Mukhtar melakukan pembalasan terhadap para pembunuh di Karbala. Syimr pun 
dikejar sampai ke daerah Kiltaniah, 
Khuzistan. Di sana ia bertemu dengan pasukan Mukhtar. Syimr yang belum sempat 
berpakaian, segera menyerang. Abu Amrah berhasil membunuh Syimr; jasadnya 
dibuang dan menjadi santapan anjing liar.
Harmalah bin Kahil Al-Asadi yang membunuh Ali Akbar bin Husain. Ia juga dibunuh 
oleh pasukan Mukhtar. Mukhtar mengatakan kepadanya, “Celakalah engkau! Tidak 
cukupkah apa yang kau lakukan hingga
 tega membunuh seorang bayi dan menyembelihnya? Tidakkah kau tahu dia adalah 
cucu Rasulullah?!” Beberapa riwayat menyebutkan ia menjadi sasaran tembak panah 
pasukan Mukhtar.
Riwayat lain mengatakan bahwa Mukhtar berkata, “Syukur kepada Allah yang 
memberi aku kesempatan menuntut balas darimu!” Mukhtar memerintahkan untuk 
memotong kedua tangan dan kakinya, kemudian pedang panas ditempelkan ke leher 
Harmalah hingga putus. 

------------------------------------

Yahoo! Groups Links






Kirim email ke