meunang ngorehan ti http://shabestan.net/id/pages/?cid=6844
mangga nyanggakeun... 

Puasa Asyura Propaganda Wahabiah
SHABESTAN — Hujjatul Islam wal Muslimin Muhammad Hadi Yusufi Gharawi salah 
seorang ahli sejarah Islam di Hauzah Ilmiah Qom mengupas masalah Asyura 
dalam agama Islam dan bahkan pra-Islam. Kali ini, tema yang menjadi 
acuan utama adalah puasa Asyura.Berikut ini adalah rincian pembahasan yang ia 
berikan kepada Kantor Berita Shabestan (KBS):

Ahli Sunah wal Jamaah dalam buku-buku referensi hadis tingkat satu 
mereka; yakni Shihah Sittah, khususnya Shahih Bukhari dan Shahih Muslim,
 menukil hadis dari Ibn Abbas, Abu Hurairah, Anas bin Malik, Mughirah 
bin Syu'bah, Abu Musa Asy'ari, dan bahkan dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan.
 Dalam hadis ini disebutkan masyarakat jahiliah selalu berpuasa pada 
hari Asyura.

Asyura berasal dari akar kata 'asyr yang berarti angkat 10. Akan tetapi,
 secara terminologis, asyura diartikan hari kesepuluh pada bulan pertama
 tahun Hijriah. Pada masa pra-Islam, bulan pertama Hijriah adalah bulan 
Muharam. Dan pada masa Islam, ketentuan ini pun tidak pernah dirubah. 
Al-Quran dan Hadis Nabawi saw juga tidak pernah melarang bahwa jangan 
sampai kita menjadikan bulan Muharam sebagai bulan pertama. 

Banyak pandangan dan pendapat dalam hal ini. Bangsa Arab pra-Islam, 
ketika ingin menggantikan tirai Ka'bah pada hari Asyura setelah jamaah 
haji kembali ke negara masing-masing, berpuasa terlebih dahulu. 
Seandainya pandangan ini bisa dibenarkan, puasa ini tidak bersifat 
komunal. Hanya sebagian orang yang melakukannya.

Kosa Kata "Asyura" Memiliki Akar Islami

Berdasarkan banyak riwayat, pada permulaan Rasulullah saw memasuki kota 
Madinah, bangsa Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Ketika Rasulullah 
bertanya alasannya, dijawab bahwa hari itu hari keselamatan Bani Isra'il
 dari cengkeraman Fir'aun dan mereka berhasil menyeberang sungai Nil. 
Untuk mensyukuri hari ini, mereka berpuasa.
Berlandaskan pada riwayat ini, Rasulullah saw menyaksikan bangsa Yahudi 
berpuasa pertama kali pada hari kesepuluh bulan Muharam.

Akan tetapi, jika kita merujuk kepada kamus Bahasa Arab, para ahli 
Bahasa Arab menegaskan bahwa Asyura memiliki akar Islami. Setelah 
peristiwa Karbala, tanggal 10 Muharam disebut dengan nama Asyura. Kosa 
kata ini tidak pernah digunakan oleh bangsa Arab pra-Islam.

Atas dasar ini, bangsa Arab jahiliah tidak pernah menggunakan kosa kata 
ini. Para ahli Bahasa Arab pun sepakat bahwa terminologi Asyura hanya 
digunakan pasca peristiwa Karbala. 

Sekarang, betulkah bahwa Rasulullah saw pernah memerintahkan supaya kita 
berpuasa pada hari Asyura?

Dalam nukilan-nukilan tersebut juga disebutkan, ketika Rasulullah saw 
mendengar bahwa bangsa Yahudi berpuasa pada hari Asyura, beliau 
bersabda, "Saya berkenaan dengan ritual syukuran lantaran keselamatan 
bangsa Yahudi ini lebih utama dibandingkan saudaraku, Musa bin Imran. 
Oleh karena itu, kita juga berpuasa pada hari ini."
Rasulullah saw sendiri berpuasa dan juga memerintahkan supaya seluruh Muslimin 
berpuasa.

Akan tetapi, pertanyaan yang muncul sekarang adalah kapankah Rasulullah saw 
memerintahkan puasa ini?

Dari sisi historis, Rasulullah saw sampai ke Madinah pada tanggal 12 
Rabi'ul Awal. Tahun 1 Hijriah berlalu, sedangkan puasa bulan Ramadhan 
belum diwajibkan. Puasa bulan Ramadhan baru diwajibkan pada tahun 2 
Hijriah. Untuk itu, antara bulan Ramadhan tahun lalu dan tahun setelah 
itu hanya dipisah oleh satu Asyura. Pada Asyura tahun lalu, Rasulullah 
baru memasuki kota Madinah dan menyaksikan puasa yang dilakukan oleh 
bangsa Yahudi. Setelah itu hingga Asyura tahun berikut, puasa bulan 
Ramadhan telah diwajibkan. Dengan ini, kapankah Rasulullah memerintahkan
 puasa Asyura?
Ini adalah sebuah pertanyaan yang hingga kini belum terjawab oleh para pembesar 
Ahli Sunah.

Hadis Palsu tentang Asyura
Dalam referensi hadis di kalangan Ahli Sunah, masa kekhalifalhan 
Mu'awiyah bin Abu Sufyan juga disebut-sebut. Padahal, peristiwa Asyura 
tidak terjadi pada masa ia masih berkuasa. Tema Asyura dilontarkan ke 
permukaan para masa kekhalifahan Yazid dan pasca syahadah Imam Husain 
as.

Banyak oknum sejarah yang ingin memburamkan masalah Asyura dan 
menyingkirkan peristiwa kesyahidan Imam Husain as dari arena sejarah. 
Mereka ingin memberikan sebuah nilai kultus kepada Asyura dengan 
memalsukan aneka ragam hadis yang meeggambarkan bahwa Asyura adalah 
sebuah hari raya yang seyogyanya harus dimeriahkan. Kandungan-kandungan 
hadis-hadis tersebut antara lain adalah hari tobat Nabi Adam diterima, 
hari keselamatan bahtera Nabi Nuh as dari sergapan topan, hari 
keselamatan Nabi Ibrahim as dari api Namrud, dan hari Bani Isra'il 
menyeberangi sungai Nil.

Propaganda Wahabiah

Ahli Sunah wal Jamaah menyadari bahwa Asyura adalah hari kesyahidan Imam
 Husain as dan para sahabatnya. Para pengikut Syiah secara umum 
menyatakan bahwa hari ini adalah hari duka. Oleh karena itu, mereka 
tidak menemukan sebuah faktor untuk menempelkan label "kultus" kepada 
hari ini.

Akan tetapi, dalam masalah ini, para pengikut Wahabiah menganggap diri 
mereka lebih beragama dibandingkan dengan para pengikut mazhab yang 
lain. Untuk itu, semangat memusuhi Syiah telah mendorong mereka untuk 
menempelkan label "kultus" kepada hari Asyura.

Dari satu yang lain, mazhab-mazhab Islam yang lain tidak memiliki 
pendorong untuk menentang acara duka untuk Imam Husain dan juga tidak 
memiliki alasan untuk membidahkannya. Akan tetapi, Wahabiah memfatwakan 
hal ini sebagai sebuah bidah dan haram.

Untuk itu, karena Wahabiah menyatakan bahwa acara duka seperti itu 
adalah sebuah bidah, maka mereka lebih menonjolkan sikap Umawi yang 
pernah dilakukan dalam sejarah. Membentangkan kegembiraan dan meluapkan 
kebahagiaan pada hari Asyura adalah sebuah sunah Bani Umaiyah, lantaran 
mereka telah memanangkan perang melawan Imam Husain as.

Kirim email ke