---------- Forwarded message ----------
From: Ahmad Dimyati2 <[email protected]>
Date: 2011/12/26
Subject: [Baraya_Sunda] Fwd: [mus-lim] Re: Perayaan Hari Agama Umat Lain
To: [email protected], [email protected]




Baraya sadaya. Nyanggakeun ieu dua pamanggih nu beda ngeunaan ucapan
Selamat Natal tea, nambihan curahan pendapat nua tos kapintonkeun
sateuacana. Ari ceuk pangrasa kuring mah, di nagara Bhineka Tunggal Ika mah
praktek beragama nu leuwih toleran jeung silih ajenan kudu diheulakeun
batan nu kaku jeung merekedeweng.

Baktos,

AD


Begin forwarded message:

*Date:* December 25, 2011 10:50:35 PM GMT+07:00*
Subject:* *[mus-lim] Re: Perayaan Hari Agama Umat Lain*
*Reply-To:*

skedar sharing tulisan dari Ust Ahmad Sarwat (founding Rumah Fiqh Indonesia)

------------


Biasanya ceramah-ceramah agama Islam yang terkait dengan agama Kristen
lebih sering mengutip surat Al-Baqarah ayat 120, yaitu tentang orang-orang
yahudi dan nasrani yang tidak akan ridha kepada umat Islam hingga umat
Islam ini ikut dengan millah mereka.
Ceramah model begini sudah saya sering dengar sejak masih duduk di SMP di
awal tahun 80-an. Dan biasanya habis mendengar ceramah model begini,
semangat anti Kristen saya berkobar-kobar. Kalau melihat orang Kristen,
saya mau gebukin saja.

Tapi hari ini ketika saya membuka surat Al-Maidah : 82-83, saya merasa agak
bingung, kenapa orang-orang nasrani di ayat ini disebutkan sebagai orang
yang paling dekat cintanya dengan kaum muslimin. Coba perhatikan terjemahan
ayat berikut :

Dan sesungguhnya kamu dapati yang paling dekat persabahatannya dengan
orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya kami
ini orang Nasrani". Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka
itu (orang-orang Nasrani) terdapat pendeta-pendeta dan rahib-rahib, (juga)
karena sesungguhnya mereka tidak menyombongkan diri.

Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul
(Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan
kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka
sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah
kami bersama orang-orang yang menjadi saksi. (QS. Al-Maidah : 82-83)

Karena itu saya coba teliti dan renungkan, kenapa ayat ini malah
menyebutkan kedekatan dan kecintaan orang-orang Kristen kepada umat Islam?

Bukankah selama ini kita lebih sering mendengar kisah tentang bentrokan
antara Islam dan Kristen?

Ambil contoh misalnya kasus mengeboman atau pembakaran gereja, atau
kerusuhan di Ambon beberapa tahun yang lalu. Semua itu menyisakan kesan
bahwa umat Islam dan Kristen agak jarang akur di negeri kita.

Apalagi kalau kita kaitkan dengan peristiwa 11 September di Amerika,
rasanya perang salib jilid dua nyaris terjadi. Dan perang salib aslinya di
masa lalu, juga mengesankan adanya permusuhan abadi antara Islam dan
Kristen.

Dan salah satu tujuan Belanda datang ke negeri kita, selain untuk merampas
negeri dan berkuasa, ternyata juga punya tujuan untuk menjadikan bangsa ini
menjadi bangsa Kristen.

Tetapi kenapa Al-Maidah 82-83 ini malah bicara tentang rasa cinta mereka
kepada umat Islam?

Bahkan Al-Quran memuji para pendeta dan rahib sebagai orang yang tidak
menyombongkan diri. Malah mereka itu ketika mendengar ayat Al-Quran, sampai
menitikkan air mata dan mengakui kebenarannya.

Lagi-lagi saya sempat mereka aneh dengan ayat Quran yang satu ini. Kok beda
banget ya dengan yang biasanya dibacakan oleh para ustadz tentang siasat
Kristen yang kita dengar selama ini?

Rupanya sejarah umat Kristiani di masa Rasulullah SAW memang jauh berbeda
dengan keadaannya sekarang ini, khususnya dalam hubungannya dengan umat
Islam di negeri kita. Di masa Rasulullah SAW, nyaris hampir semua kejadian
yang terkait dengan umat Kristiani, berlangsung dengan damai dan sangat
dekat.

Ambillah contoh misalnya ketika Pendeta Buhairah berupaya melindungi Nabi
SAW -yang saat itu masih kecil- dari ancaman pembunuhan oleh orang-orang
yahudi. Paman Nabi, Abu Thalib segera mematuhi anjuran Pendeta Buhairah
untuk pulang kembali ke Mekkah, demi keselamatan nyawa sang calon Nabi
terakhir.

Contoh lain adalah ketika Nabi SAW diusir oleh warga Thaif dengan dilempari
batu, hingga beliau berdarah-darah. Ternyata yang menolong beliau SAW
adalah seorang penjaga kebun anggur yang beragama Kristen.

Contoh lainnya adalah kisah Isra' Nabi Muhammad SAW. Disebutkan dalam
banyak riwayat, bahwa sebelum beliau terbang ke langit di malam itu, beliau
SAW sempat shalat di masjid Al-Aqsha. Menarik untuk diteliti, bahwa masjid
Al-Aqsha yang saat itu disebutkan di dalam Al-Quran, pada hakikatnya masih
merupakan tempat ibadah orang-orang disana, khususnya yang beragama
Kristen. Meski pun Al-Quran menyebutnya sebagai masjid, namun pada
hakikatnya di saat itu tempat itu bukan masjid, melainkan tempat ibadah
Kristen. Tetapi Nabi SAW shalat di tempat itu.

Dan contoh yang paling jelas adalah kisah yang menjadi latar belakang ayat
di atas, yaitu kisah Raja Habasyah, An-Najasyi. Beliau itu seorang raja
dari sebuah kerajaan Kristen di benua Afrika. Namun Rasulullah SAW sengaja
mengutus kepadanya para shahabatnya yang minta perlindungan.

Bayangkan, Rasulullullah SAW memerintahkan beberapa orang shahabat untuk
datang menemui raja yang notabene beragama Kristen, untuk minta
perlindungan dalam masalah agama. Dan asyiknya, ternyata An-Najasyi
bersedia melindungi para shahabat nabi itu dari kejaran para pemuka
Quraisy, yang dipimpin Amr bin Al-Ash, yang saat itu masih kafir.

Sampai-sampai sang Raja Kristen itu bilang,"Wahai Amr, demi Allah, Aku
tidak akan menyerahkan mereka kepadamu, meski kamu memberi aku emas sebesar
gunung". Dan kepada para shahabat Nabi itu, justru sang raja Kristen itu
malah berkata,"Silahkan kamu tinggal di negeriku dengan aman dan damai,
sampai tuhan kalian memerintahkan kembali".

Yang jadi pertanyaan, kok bisa-bisanya raja Kristen malah melindungi umat
Islam dan menolak mentah-mentah permintaan para pemuka Quraisy untuk
menyerahkan mereka?

Ternyata, sang raja terpesona dengan ayat Al-Quran yang dibacakan sampai
beliau menitikkan air mata. Ternyata ayat yang dibaca adalah ayat tentang
kisah kelahiran Nabi Isa alaihissalam, yang sangat indah dan mulia, yaitu
surat Maryam.

Saya tidak bisa membayangkan, bagaimana seorang pendeta dan raja Kristen,
kok bisa sampai menangis terharu dan mengucurkan air mata ketika mendengar
ayat-ayat Al-Quran dibacakan, sampai-sampai dia rela memberikan
perlindungan kepada para shahabat yang dikejar-kejar itu.

Dan peristiwa itu malah diabadikan di dalam ayat Al-Quran yang turun
kemudian, sehingga tetap dibaca oleh bermilyar muslim hingga hari kiamat.

Bahkan bukan hanya sampai disitu. Sebagian riwayat yang sampai kepada kita
menyebutkan bahwa sang raja Kristen itu malah mengakui kerasulan Muhammad
SAW, sehingga ketika beliau wafat, Rasulullah SAW pun melakukan shalat
ghaib untuknya.

Kasus lainnya adalah ketika terjadi perang antara Romawi melawan Persia.
Tatkala romawi yang notabene beragama Kristen akhirnya memenangkan
peperangan, ternyata umat Islam ikut bergembira. Hal itu ditegaskan di
dalam surat Ar-Ruum di awal surat :

Telah dikalahkan bangsa Rumawi, di negeri yang terdekat dan mereka sesudah
dikalahkan itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah
urusan sebelum dan sesudah (mereka menang). Dan di hari (kemenangan bangsa
Rumawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman, karena pertolongan
Allah. (QS. Ar-Ruum : 2-5)

Orang Romawi bukan muslim, mereka pemeluk agama Kristen tulen. Tetapi
ketika mereka berhasil mengalahkan bangsa Persia dalam peperangan, kok
bisa-bisanya umat Islam di Madinah saat itu ikut berbahagia juga? Apa
hubungannya?

Ayat ini juga menarik untuk dikaji lebih mendalam. Sebab selama ini stigma
yang masuk di benak kita umumnya menyebutkan bahwa Kristen itu musuh umat
Islam.

Dan paling mencengangkan adalah ayat kelima dari Surat Al-Maidah, yaitu :

Pada hari ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. Makanan (sembelihan)
orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal
pula bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini) wanita-wanita yang menjaga
kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang
menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu
(QS. Al-Maidah : 5)

Jelas sekali syariat Islam membolehkan umat Islam memakan makanan
(maksudnya hewan sembelihan) dari para ahli kitab, yaitu Yahudi dan
Kristen.

Dan jelas sekali juga, bahwa laki-laki dari umat Islam dihalalkan menikahi
wanita ahli kitab, yaitu yahudi dan Kristen.

Kedekatan Kristen di masa lalu dengan umat Islam semakin sempurna, ketika
para pemuka agama di Mesir malah meminta kepada Umar agar pasukannya segera
merambah negeri Mesir itu. Dan Umar pun mengirimkan panglima Amr bin Al-Ash
dan pasukannya.

Menarik sekali, ternyata kedatangannya pasukan ini malah disambut dengan
hangat oleh warga Mesir. Saat penaklukannya, tidak ada satu pun gereja di
Mesir yang dirobohkan, bahkan sebaliknya, banyak yang malah dibikin menjadi
bagus.

Dan warga Mesir perlahan tapi pasti kemudian mulai masuk Islam, hingga
sampai mereka pun berganti bahasa menjadi bahasa Arab. Orang-orang Kristen
yang tidak mau masuk Islam, tidak pernah dikucilkan, bahkan kebebasan
beragama mereka justru semakin dijamin. Sehingga meski tidak masuk Islam,
mereka sangat cinta dengan umat Islam, sampai-sampai mereka pun ikut
berbahasa Arab juga hingga hari ini.

Dan kisah kedekatan Kristen kepada umat Islam semakin sempurna dengan
diserahkannya kunci Baitul Maqdis dari pemimpin tertinggi Kristen di Baitul
Maqdis kepada khalifah Umar bin Al-Khattab.

Saking ingin menjaga perasaan umat Kristen, saat itu Umar sampai tidak tega
kalau harus shalat di dalam rumah ibadah mereka, masjid Al-Aqsha.

Beliau pun keluar ke halamannya, lalu melaksanakan shalat berjamaah disana.
Dan di tempat itulah kemudian dibangun satu bangunan lagi, yang kemudian
disebut dengan masjid Umar.

Kalau kita sering lihat gambar Masjid Al-Aqsha berwarna biru dan berkubah
keemasan, sebenarnya itu kurang tepat. Masjid itu bukan masjid Al-Aqsha
tetapi masjid Umar. Masjid Al-Aqsha ada di sebelahnya, masih satu halaman.

Sebenarnya secara fiqih, tidak ada salahnya bagi Umar untuk shalat di dalam
rumah ibadah Kristen itu. Namun kenapa beliau tidak melakukannya, konon
karena beliau tidak ingin menyakiti perasaan pemeluk Kristen di Baitul
Maqdis itu.

Seandainya umat Islam dan Kristen di Indonesia saat ini banyak membuka
lembar sejarah, betapa indahnya kedamaian dan toleransi antara keduanya di
masa turunnya wahyu, tentu kita tidak perlu berpecah-belah seperti sekarang
ini. Semangat masing-masing pihak bukan untuk saling melibas atau
menghabisi, tetapi saling mengormati dan menyayangi, persis seperti
gambaran Al-Quran.

Tapi kapan kira-kira hal itu akan terjadi lagi? Wallahu a'lam bishshawab.
Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung
Teruuusss...!
------------------------------
*From: *
*Date: *Sun, 25 Dec 2011 06:12:47 -0800 (PST)
*To:*
*ReplyTo: *
*Subject: *[mus-lim] Perayaan Hari Agama Umat Lain

Ada artikel tentang perayaan hari agama umat lain di web seperti berikut:
 <http://alhakim-bsd.com/islam/?p=116>http://alhakim-bsd.com/islam/?p=116
Informasinya, dari Masjid Al-Hakim BSD. Ada yang mau komentar?
Biasanya di milis mus-lim, teman beginian selalu rame. Sekarang sepi-sepi
saja.

Salam,

===============
Bagaimana Seorang Muslim Menyikapi Perayaan Hari Agama Umat
Lain<http://alhakim-bsd.com/islam/?p=116>
Tanggal Penulisan January 2, 2009 | Kategori
IBADAH<http://alhakim-bsd.com/islam/?cat=1>

*Risalah Ta’lim Ba’da Subuh, Sabtu 22 Dzulhijjah 1429H (20 Desember 2008)*
*Oleh Ustd. Habiburrahmanuddin*
*Bismillahirahmanirahim*
Alhamdulillah mari kita bersyukur kepada ALLAH  yang telah menjadikan Islam
sebagai agama dan syariat yang mengatur kehidupan kita dalam meniti langkah
kehidupan.
Shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, Rasulullah yang
telah mencontohkan kepada kita semua bagaimana menjalankan aturan ALLAH
dengan sebaik-baiknya karena kita mendapat model dan contoh dari manusia
yang mulia.
Seorang muslim yang sejak lahir ataupun yang memeluk Islam setelah dewasa,
maka ia berikrar dengan dua kalimat syahadat. Maka sejak saat itu ia
disebut muslim. Muslim adalah orang yang tunduk, khuduk, patuh dan taat
kepada ALLAH yaitu penyerahan total kepada ALLAH dan terhadap aturan-aturan
ALLAH.
Seorang muslim yang ber-aqidah Islam (aqidah = ikatan), maka ia tidak hanya
mengakui ALLAH sebagai illah yang disembah dan rob yang mengatur alam
tetapi juga mengakui ALLAH yang membuat aturan-aturan bagi manusia. Orang
yang ber-aqidah Islam, ia tidak bebas melainkan terikat pada aturan-aturan
ALLAH terutama yang bekaitan dengan aqidah.
Pada kesempatan ini mari kita membincangkan bagaimana seorang mukmin
menyikapi perayaan umat lain yang merayakan hari besar agamanya dan tahun
baru.
Dalam satu riwayat, Rasulullah pada suatu hari didatangi oleh utusan
orang-orang Makkah yang diantara mereka itu adalah al-Walid bin
al-Mughirah, Aswad bin Muthalib dan Umyyah bin Khalaf. Mereka menawarkan
titik temu persamaan agama antara Islam dengan agama orang-orang kafir pada
saat itu. Mereka menawarkan untuk memeluk dan menjalankan agama Islam pada
masa satu tahun dan pada tahun berikutnya berharap Rasulullah dan
pengikutnya untuk menjalankan agama mereka menyembah berhala.
Mereka mengatakan hal ini merupakan kerjasama yang saling menguntungkan
sehingga siapapun yang benar antara agama yang dibawa Rasulullah atau agama
mereka maka tidak ada yang dirugikan. Mereka berpendapat jika Islam yang
benar mereka tidak rugi karena telah pernah menjalankan agama Islam dan
demikian juga sebaliknya.
Tetapi tawaran itu serta merta ditolak dan dijawab oleh Rasulullah diawali
dengan kalimat “aku berlindung dari orang-orang yang menyekutukan ALLAH”.
Rasulullah tidak berstrategi ataupun berpolitik untuk tawaran ini. Padahal
posisi umat Islam pada saat itu dalam keadaan terjepit, diboikot
bertahun-tahun, disiksa dan dibantai oleh orang-orang kafir. Seandainya
Rasulullah berpolitik maka barangkali tidak mengapalah menerima tawaran
yang demikian siapa tahu berhasil menda’wahi orang-orang kafir itu sehingga
tahun berikutnya tidak harus menjalankan agama mereka. Tetapi Rasulullah
tidak menerimanya karena Allah menurunkan wahyu saat itu juga yaitu *Al-Quran
QS 109 :1-6 al-Kafirun* (orang-orang kafir). Surat ini disebut juga dengan
nama surat al-Muqossidah (penyembuh). Disebut penyembuh karena menyembuhkan
penyakit syirik sekecil apapun.
Surat ini diawali dengan kalimat “Qul”. Di dalam al-Quran kalimat “Qul”
terulang sebanyak 332 kali. Qul itu khittahnya kepada Rasulullah Muhammad
SAW namun tetap dicantumkan secara utuh dalam al-Quran. Maknanya adalah,
pertama ini adalah bukti bahwa Al-Quran itu asli tanpa pengurangan satu
hurufpun. Al-Quran itu bukan buatan Rasulullah melainkan dari ALLAH SWT dan
Rasulullah tidak menguranginya satu hurufpun.
Kedua, menurut ahli mufasir fungsi kalimat “Qul” adalah untuk menjelaskan
dengan sejelas-jelasnya dan menolak dengan setegas-tegasnya terhadap
persepsi keliru yang salah difahami oleh sebagian orang terhadap ajaran
Islam terutama yang berkaitan dengan aqidah.
Dalam kaitan bahasan kali ini, masih ada orang yang beranggapan sekedar
mengucapkan selamat terhadap perayaan umat lain tidak mengapa. Padahal
sudah jelas dalam surat al-Kafirun ayat pertama disebutkan “Qul (katakan ya
Muhammad) wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kalian
sembah”.
[image: Surat AlKafiruun]
Ayat ke 2 dan 4 pada dasarnya sama tetapi redaksinya berbeda. Ayat ke 4
dikatakan “aku bukanlah penyembah apa yang engkau sembah”.
Ayat ke 3 dan 5 sama persis dan ini bukan mubazir kata tetapi sebagai
li-ta’qid (penegasan) sekaligus menunjukkan konsistensi jawaban Rasulullah
atas tawaran orang-orang kafir.
Jika dipahami dalam bahasa arab, maka jelas sekali perbedaan pada
pengulangan ayat tersebut. Pada ayat ke-2 disebutkan Laa a’budu maa
ta’budun.    Kalimat yang digunakan untuk menyangkal persepsi keliru orang
kafir itu adalah fi’il mudhorik yang berarti kata kerja dalam bentuk
sekarang , masa akan datang dan seterusnya.
Maka terjemahan dari ayat ke-dua adalah “aku tidak akan menyembah apa yang
kalian sembah hari ini, dan apa yang akan kalian sembah nanti dan terus
menerus yang kalian sembah tidak akan aku sembah”.
Sedangkan makna ayat ke-4 walaa ana aa’bidumma abattum menggunakan kata
aa’bid yaitu isim fa’il yang fungsinya untuk menunjukkan dawam artinya
terus menerus, selamanya tetap begitu. “Aku selamanya bukanlah penyembah
apa yang kalian sembah”. Lalu kalimat maa’abattum menggunakan  fi’il madhi
untuk menunjukkan masa lampau.   Jadi arti ayat ke-4 jika dirincikan adalah
“aku bukanlah penyembah apa yang dulu pernah kalian sembah”.
Ayat 3 dan 5 yang sama persis menurut ahli mufasir perbedaannya ada pada
lafaz maa.  Pada ayat ke-3 lafaz maa dari kalimat maa a’bud artinya apa
saja yang kalian sembah. Sedangkan lafaz maa pada maa a’bud ayat ke-5
adalah kata jadian yang artinya cara aku menyembah.  Jadi artinya “kalian
tidak akan pernah ikut cara ku menyembah”.
Maka dengan ini sulit untuk mencari celah persamaan antar agama. Karena
semua telah ditutup dengan menyebutkan waktunya, apa yang sembah dan cara
menyembahnya. Kemudian surat ini ditutup dengan Lakum diinukum waliyadin.
“Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Kalimat ini sesungguhnya menyalahi
kaidah bahasa karena kata kerja didahulukan sedangkan subjek diakhirkan.
Namun hal ini menunjukkan kekhususan /sensitifitas yang bila di sentuh maka
akan melanggar.
Sekaligus ini menunjukkan sebuah pernyataan yang jujur bahwa umat Islam
mengakui adanya agama diluar Islam tetapi bukan berarti mengakui
kebenarannya. Umat Islam tidak akan mengganggu orang-orang non-muslim yang
merayakan hari besar agamanya. Sebab jika menggangu atau menyakiti umat
lain maka seorang muslim akan melanggar ayat ini. Tetapi ingat lanjutannya
adalah waliyadin yang ini juga sensitif, yang maknanya adalah kami juga
memiliki identitas dan eksistensi agama Islam sehingga umat lain juga tidak
boleh mengajak-ajak untuk mengikuti mereka.
Maka bagi kita umat Islam yang mengikuti perayaan agama non muslim
sekalipun hanya dengan mengucapkan selamat saja maka itu juga melanggar
ketentuan ALLAH. Maka sikap yang paling baik adalah jangan pernah menggangu
mereka dalam perayaan ibadah mereka sekecil apapun dan sekaligus jangan
pernah tersentuh sekecil apapun untuk mengikutinya.
Maka inilah yang dimaksud dengan kalimat “Qul” katakanlah dan jelaskanlah
kepada mereka tentang aqidah ini. Pada hakikatnya aqidah beridah itu tidak
bisa menurut akal manusia apalagi jika ingin berstrategi hanya untuk meraih
simpati orang-orang non muslim.
Demikianlah sikap yang semestinya dilakukan oleh umat Islam tekait perkara
aqidah dan ibadah dalam menyikapi hari perayaan agama umat lain.
*
Wallahualam bi shawab.*




Kirim email ke