Lain Mang Irpan tong boroning jalan biasa nu kabanjiran dalah jembatan layang 
pasupati oge kabanjiran hahaha... Jadi satu satunya tah di Dunia "sungai" yang 
melayang ya di Bandung wkwkwk. 

Mamang sabenerna sudah ngingetan menjelang musim hujan teh... Ngimel ciiiik 
tatan-tatan/ siap sedia... Gorong-2, saluran air, drainase, solokan, ceeeeek 
pastikeun tidak ada yg mangpet wkwkwk. 

Atuda tidak ngagugu jadinya yaaah bagaimana kumaha akhirnya banjiiir dah 
hehehe. Jangan nyalahkeun ka cai atuh... Da hakekatnyah air mah mengalir ti 
luhur ka handap hehehe... Lamun kapempet nya ngajedog tah cai... Lila-2 
ngagenang jadi weh banjir hehehe.

Nuhuuuuuns,
Mang Kabayan
www.dkabayan.com
ti urang, ku urang, keur balarea

-----Original Message-----
From: Irpan Rispandi <[email protected]>
Sender: [email protected]
Date: Tue, 27 Dec 2011 15:23:24 
To: <[email protected]>
Reply-To: [email protected]
Cc: <[email protected]>
Subject: [kisunda] AMDAL

Kuring Curhat yeuh..
hampura teu disundakeun.

AMDAL

"Gunung kayuan, lamping awian, lebak sawahan, legok balongan jeung datar 
imahan. Gunung teu meunang dilebur lebak teu meunang diruksak. Ka cai 
jadi saleuwi ka darat jadi salebak. Sing runtut raut sauyunan sabobot 
sapihanéan
Mipit kudu amit ngala kudu ménta. Sing kacukcruk walunganana sing 
kapapay wahanganana. Nété tarajé nincak hambalan"

Untaian kalimat diatas merupakan sebuah hukum adat dari masyarakat adat 
Cibedug, yang ada di Kab. Lebak, Prov. Banten. Artinya kurang lebih 
demikian:
"Gunung tanamilah kayu, tebing tanamilah bambu, lembah jadikan sawah, 
lubang jadikan kolam, didataran dirikan rumah. Gunung tak boleh dilebur, 
lembah tak boleh dirusak. Hiduplah yang rukun antara sesama manusia. 
Kalau mau memetik atau mengambil hasil alam, haruslah minta ijin, tidak 
mencuri atau mengambil sembarangan. Jagalah sungai dari hulu sampai 
hilir. Jangan menginginkan jalan pintas, lakukanlah sesuai peraturannya."

Andai saja semua orang selalu menjaga perilakunya agar senantiasa 
selaras dengan alam, maka segala bencana (tak perlu) yang menimpa kita 
harusnya tidak pernah ada. Kalaupun bencana itu datang, seyogyanya 
berasal dari kehendak alam seperti gunung meletus atau gempa bumi. 
Adapun banjir, kebakaran hutan, dll, sebenarnya tidak perlu terjadi. 
Karena kesemuanya akibat tingkah laku manusia yang tidak lagi menjaga 
keselarasan dengan alam.

Ok, cukup dengan pidatonya ^_^. Sebenarnya saya hanya ingin 
mengungkapkan kekesalan saya karena terjebak banjir di Bandung. 
Ceritanya saya kemarin mudik. Pas kembali ke Jakarta, bis yang saya 
tumpangi terjebak kemacetan luar biasa di daerah Rancaekek, Bandung. 
Waktu tempuh Garut-Jakarta normalnya adalah 4-5jam. Namun akibat banjir 
kemarin, waktunya molor jadi 10 jam! Bis yang saya tumpangi stuck lebih 
dari 5 jam, karena jalanannya terendam banjir.

Karena jalanan digenangi air sampai sepaha orang dewasa, maka 
mobil-mobil kecil seperti sedan dan minibus, tidak  bisa lewat. 
Sebenarnya bis dan mobil besar lainya bisa lewat, namun karena jalannya 
tertutup mobil-mobil kecil, maka bis pun jadi tak bisa lewat. Jadilah 
kami menikmati 'wisata air'dulu selama 5 jam.^_^

Daerah yang banjir kemarin berada di kawasan industri, ada banyak pabrik 
yang berdiri disana. Dan berdasarkan percakapan antara supir bus dan 
penumpang yang sempat saya dengar, banjir di daerah ini merupakan hal 
biasa yang terjadi tiap tahun. Banjir akan melanda jika musim hujan datang.

Hal biasa? tiap tahun? ehm... tok..tok..tok...bapak walikotanya ada? 
Bagaimana bisa bencana kemanusiaan yang menghancurkan urat nadi 
kehidupan masyarakat (lebay ^_^) dibiarkan terus terjadi setiap tahun.

Saya jadi ingat sebuah akronim AMDAL = Analisis Mengenai Dampak 
Lingkungan. AMDAL ini dilakukan ketika sebuah usaha akan didirikan di 
suatu daerah. Sebelum sebuah usaha diijinkan beroperasi di suatu tempat, 
terlebih dahulu akan dilakukan analisa tentang dampak operasi usaha 
tersebut terhadap lingkungan sekitar. Jika dampaknya buruk bagi 
lingkungan, maka usaha tersebut tidak akan diijinkan beroperasi. 
Seharusnya. ^_^

Nah, untuk kejadian Annual Banjir of the World kemarin, dimana AMDALnya 
ya? dan yang lebih penting lagi, kenapa bisa jadi acara tahunan? 
Tidakkah pak walikota mengetahuinya. Tidakkah bapak Presiden Direktur 
Komisaris PT. UMR AJA mengetahui adanya 'wisata air' yang terjadi di 
halaman pabriknya? Gak mungkin kalau tidak tahu. Lha terus kenapa dibiarin?

Gunung teu meunang di lebur, lebak teu meunang diruksak. Kalau gunung 
rusak lembahnya rusak, banjirlah jadinya. Saya tidak tahu pasti seberapa 
jauh kerusakan gunung dan lembah yang terjadi di Bandung, namun kalau 
melihat banjir yang sedemikian, maka tentulah kerusakannya sudah parah. 
Dan kalau sudah terjadi bencana, maka yang menderita biasanya rakyat 
kecil, "nu teu mais teu meuleum" (yang nggak tau apa-apa). Bapak 
walikota, rumahnya biasanya di kawasan elit yang aman banjir, pemilik 
PT. UMR AJA juga pastinya gak tinggal di daerah rawan banjir lah. Jadi 
kalaupun terjadi banjir, bapak walikota aman dirumahnya, pak Pengusaha 
juga sama.

Satu hal lagi yang saya penasaran adalah, penduduk sekitar sana yang 
rumahnya selalu terendam banjir, mereka nggak protes apa? Atau sudah? 
Kalau sudah, kenapa masih banjir juga?

Sebagai pembayar pajak yang menggaji pemerintah, bukankah kita punya hak 
menuntut penyelesaian masalah banjir ini? "nggak mau tahu pokoknya itu 
masalah banjir harus selesai, lo mau bikin kanal kek, bikin waduk kek, 
mau lo minum juga terserah, yang penting gak ada banjir! kalo nggak, lo 
kagak gue kasi gaji lagi, mau?!"
he..he..he... mimpi.

Kirim email ke