Kuring Curhat yeuh..
hampura teu disundakeun.
AMDAL
"Gunung kayuan, lamping awian, lebak sawahan, legok balongan jeung datar
imahan. Gunung teu meunang dilebur lebak teu meunang diruksak. Ka cai
jadi saleuwi ka darat jadi salebak. Sing runtut raut sauyunan sabobot
sapihanéan
Mipit kudu amit ngala kudu ménta. Sing kacukcruk walunganana sing
kapapay wahanganana. Nété tarajé nincak hambalan"
Untaian kalimat diatas merupakan sebuah hukum adat dari masyarakat adat
Cibedug, yang ada di Kab. Lebak, Prov. Banten. Artinya kurang lebih
demikian:
"Gunung tanamilah kayu, tebing tanamilah bambu, lembah jadikan sawah,
lubang jadikan kolam, didataran dirikan rumah. Gunung tak boleh dilebur,
lembah tak boleh dirusak. Hiduplah yang rukun antara sesama manusia.
Kalau mau memetik atau mengambil hasil alam, haruslah minta ijin, tidak
mencuri atau mengambil sembarangan. Jagalah sungai dari hulu sampai
hilir. Jangan menginginkan jalan pintas, lakukanlah sesuai peraturannya."
Andai saja semua orang selalu menjaga perilakunya agar senantiasa
selaras dengan alam, maka segala bencana (tak perlu) yang menimpa kita
harusnya tidak pernah ada. Kalaupun bencana itu datang, seyogyanya
berasal dari kehendak alam seperti gunung meletus atau gempa bumi.
Adapun banjir, kebakaran hutan, dll, sebenarnya tidak perlu terjadi.
Karena kesemuanya akibat tingkah laku manusia yang tidak lagi menjaga
keselarasan dengan alam.
Ok, cukup dengan pidatonya ^_^. Sebenarnya saya hanya ingin
mengungkapkan kekesalan saya karena terjebak banjir di Bandung.
Ceritanya saya kemarin mudik. Pas kembali ke Jakarta, bis yang saya
tumpangi terjebak kemacetan luar biasa di daerah Rancaekek, Bandung.
Waktu tempuh Garut-Jakarta normalnya adalah 4-5jam. Namun akibat banjir
kemarin, waktunya molor jadi 10 jam! Bis yang saya tumpangi stuck lebih
dari 5 jam, karena jalanannya terendam banjir.
Karena jalanan digenangi air sampai sepaha orang dewasa, maka
mobil-mobil kecil seperti sedan dan minibus, tidak bisa lewat.
Sebenarnya bis dan mobil besar lainya bisa lewat, namun karena jalannya
tertutup mobil-mobil kecil, maka bis pun jadi tak bisa lewat. Jadilah
kami menikmati 'wisata air'dulu selama 5 jam.^_^
Daerah yang banjir kemarin berada di kawasan industri, ada banyak pabrik
yang berdiri disana. Dan berdasarkan percakapan antara supir bus dan
penumpang yang sempat saya dengar, banjir di daerah ini merupakan hal
biasa yang terjadi tiap tahun. Banjir akan melanda jika musim hujan datang.
Hal biasa? tiap tahun? ehm... tok..tok..tok...bapak walikotanya ada?
Bagaimana bisa bencana kemanusiaan yang menghancurkan urat nadi
kehidupan masyarakat (lebay ^_^) dibiarkan terus terjadi setiap tahun.
Saya jadi ingat sebuah akronim AMDAL = Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan. AMDAL ini dilakukan ketika sebuah usaha akan didirikan di
suatu daerah. Sebelum sebuah usaha diijinkan beroperasi di suatu tempat,
terlebih dahulu akan dilakukan analisa tentang dampak operasi usaha
tersebut terhadap lingkungan sekitar. Jika dampaknya buruk bagi
lingkungan, maka usaha tersebut tidak akan diijinkan beroperasi.
Seharusnya. ^_^
Nah, untuk kejadian Annual Banjir of the World kemarin, dimana AMDALnya
ya? dan yang lebih penting lagi, kenapa bisa jadi acara tahunan?
Tidakkah pak walikota mengetahuinya. Tidakkah bapak Presiden Direktur
Komisaris PT. UMR AJA mengetahui adanya 'wisata air' yang terjadi di
halaman pabriknya? Gak mungkin kalau tidak tahu. Lha terus kenapa dibiarin?
Gunung teu meunang di lebur, lebak teu meunang diruksak. Kalau gunung
rusak lembahnya rusak, banjirlah jadinya. Saya tidak tahu pasti seberapa
jauh kerusakan gunung dan lembah yang terjadi di Bandung, namun kalau
melihat banjir yang sedemikian, maka tentulah kerusakannya sudah parah.
Dan kalau sudah terjadi bencana, maka yang menderita biasanya rakyat
kecil, "nu teu mais teu meuleum" (yang nggak tau apa-apa). Bapak
walikota, rumahnya biasanya di kawasan elit yang aman banjir, pemilik
PT. UMR AJA juga pastinya gak tinggal di daerah rawan banjir lah. Jadi
kalaupun terjadi banjir, bapak walikota aman dirumahnya, pak Pengusaha
juga sama.
Satu hal lagi yang saya penasaran adalah, penduduk sekitar sana yang
rumahnya selalu terendam banjir, mereka nggak protes apa? Atau sudah?
Kalau sudah, kenapa masih banjir juga?
Sebagai pembayar pajak yang menggaji pemerintah, bukankah kita punya hak
menuntut penyelesaian masalah banjir ini? "nggak mau tahu pokoknya itu
masalah banjir harus selesai, lo mau bikin kanal kek, bikin waduk kek,
mau lo minum juga terserah, yang penting gak ada banjir! kalo nggak, lo
kagak gue kasi gaji lagi, mau?!"
he..he..he... mimpi.
------------------------------------
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
[email protected]
[email protected]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[email protected]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/