Minyak awi? Eta meureun nyah mun meuleum awi sok aya ngabudah dina tungtung 
awi. Dilembur uing sok dipake ngolesan koreng panyakit koreng (ceda) sangkan 
leungit, oge jarawat atawa bisul

 

________________________________
 Dari: Irpan Rispandi <[email protected]>
Kepada: [email protected] 
Cc: [email protected] 
Dikirim: Selasa, 3 Januari 2012 15:28
Judul: [kisunda] Minyak Awi
 

 
   
 
tah...tah...tah... salah sahiji cara ngamangpaatkeun limbah awi.

hayu ah urang melak awi. ^_^

http://www.pikiran-rakyat.com/node/171648

BANDUNG, (PRLM).- Sejumlah masyarakat pemelihara pohon bambu di Bandung 
utara memperoleh banyak peningkatan pendapatan sejak lima bulan 
terakhir, seiring berkembangnya usaha produksi minyak bambu. Produksinya 
dilakukan memanfaatkan sisa tebangan bambu, yang dibakar lalu diambil 
tetesan minyaknya, yang sangat banyak dipesan sejumlah perajin olahan 
ikan di Kab. Indramayu.

Perajin minyak bambu asal Awiligar, Yayan, Selasa (3/1) menyebutkan, 
saat ini minyak bambu rata-rata digunakan untuk mengolesi masakan ikan, 
baik untuk diolah maupun ikan bakar. Para pengguna rata-rata menggunakan 
minyak bambu, untuk memunculkan aroma khas dari ikan-ikan yang diolesi 
minyak tersebut sehigga lebih menarik selera makan.

Menurut Yayan dan rekannya, Daud, oleh pembeli saat ini minyak bambu 
rata-rata dihargai sekitar Rp 500.000,00/kg. Harga jual tersebut dinilai 
memadai, karena untuk menghasilkan sekilo minyak bambu memang memerlukan 
banyak bambu, yang biasanya digunakan dari sisa-sisa tebangan atau 
potongan sisa bahan keperluan membuat saung, dll.

Karena berkembangnya usaha ini, kata mereka, banyak tunggul bekas 
tebangan pohon bambu kini banyak dicari oleh para perajin minyak bambu. 
Namun cara ini justru dinilai membantu pertumbuhan tunas-tunas bambu 
yang baru, sehingga antara peremajaan tanaman de
   
      

Kirim email ke