"Mastodon dan Burung Kondor" Siap Dipentaskan
Hidupkan Kembali Kampus sebagai Pusat Kebudayaan

 Jumat, 06/01/2012 - 10:49

PRLM -- "Perubahan kebudayaan yang lebih berakar dalam, justru lebih
lancar, apabila dimulai dari luar lembaga pemerintahan; perubahan mode
pakaian, perubahan moral pergaulan antara laki-laki dan wanita, perubahan
tata cara dalam agama, perubahan dalam metode pendidikan. Gerakan-gerakan
semangat perjuangan, toh selalu dimulai di luar pemerintahan, dan semua itu
tidak perlu terjadi dengan kekerasan. Konflik-konflik memang ada, tetapi
bukanlah justru menjadi tugas para intelektual, dan para abdi masyarakat di
pemerintahan untuk mencegah jangan sampai konflik-konflik ini menjurus ke
arah kekerasan."

Itulah salah satu petikan pernyataan yang disampaikan Jose Karosta, pelaku
utama dalam naskah drama "Mastodon dan Burung Kondor" yang akan dipentaskan
Ken Zuraida Project, di Graha Sanusi Hardjadinata, Unpad, Jln. Dipati Ukur
No. 35 Bandung, pada Kamis-Jumat (12-13/1).

Naskah karya WS Rendra ini disutradarai Ken Zuraida dengan mengandalkan
hanya tiag orang pemain teater dan selebihnya pekerja teater bukan berlatar
belakang teater. Namun demikian, Ken Zuraida bersama Rektor Unpad Ganjar
Kurnia dan Erik Satya Watdhana (eksekutif produser), dalam keterangannya
kepada media di Executive Lounge Unpad, Jumat (6/1) yakin, bahwa pementasan
ini merupakan hasil kerja maksimal atas interpretasinya terhadap naskah
yang pernah dipentaskan di Bandung pada tahun 1973 lampau.

Pementasan ini tidak hanya dikerjakan dengan serius tetapi juga akan
berbeda dengan pementasan sebelumnya. Pengerjaan produksi dilakukan oleh 60
orang tim artistik dengan aktor utama Totenk Mahdasi Tatang, Awan Sanwani,
Cahyo Harimurti, Joebert G. Mogot, dan Maryam Supraba. Latihan dilakukan
intensif di Bengkel teater Rendra, Depok dengan sentuhan musik dari Lawe
yang memberi unsur-unsur etnik kesundaan.

Ken mengatakan, pementasan "Mastodon dan Burung Kondor" telah dilakukan
sebelumnya di Jakarta dan Surabaya. Harkat pertunjukkan di Unpad, Bandung
adalah supporting para alumni Unpad dan didedikasikan untuk memberi makna
pada gagasan "Kampus sebagai Pusat Kebudayaan".

Urgensinya yang lain, kata Ken, untuk mengingatkan kepada semua elemen
masyarakat tanpa terkecuali, bahwa kondisi negara hingga hari ini dalam
beberapa hal, tidak lebih baik dari kondisi tahun 1970-an.

"Kebudayaan Indonesia yang cemerlang karena berbasis adat dan kesenian
tradisi seperti tiarap dan tengkurap, terlindas oleh gebyar enkulturasi
budaya kekinian yang instan dan populis. Unpad ternyata telah menjadi
kampus yang begitu peduli dengan kebudayaan, sehingga pemerntasan ini pun
merupakan dedikasi Ken Zuraida Project untuk Unpad," ujarnya.

Sementara itu, Ganjar Kurnia mengatakan, Unpad sebagai lembaga pendidikan
bertanggungjawab untuk menjadikan kebudayaan sebagai bagian dan proses
pendidikan. Pendidikan tidak melulu harus melulu memikirkan kemajuan
teknologi dan ilmu pengetahuan tetapi juga kebudayaan secara keseluruhan.

Mementaskan naskah "Mastodon dan Burung Kondor" kata Ganjar sangat mewakili
Indonesia kekinian, walaupun naskah ini dipentaskan pertama kali WS Rendra
pada tahun 1973. "Saya hafal betul apa yang dipesankan naskah ini. Bahkan
lagunya juga hafal," ujar Ganjar seraya menyanyikan petikan lagu dalam
pementasan itu.

Ganjar memaparkan, "Mastodon dan Burung Kondor" adalah salah satu karya
drama masterpiece Rendra yang ditulis dalam rentang tahun 1971-1973.
Pertama kali dipentaskan oleh Bengkel Teater pada tahun 1973. Salah satunya
di Bandung, namun karena dilarang dipentaskan di kampus, akhirnya
dipentaskan di Gedung Merdeka.

"Coba saja nanti saksikan, semua pesan dari Mastodon ini tidak jauh berbeda
dengan keadaan negara kita saat ini. Pada waktu itu Indonesia memanas
karena kasus Malari. Namun k
arena naskah ini begitu interpretatif atau terbuka untuk diinterpretasi,
maka kapan pun akan tetap menjadi tontonan menarik," ujarnya.
(Eriyanti/"PRLM")***

http://www.pikiran-rakyat.com/node/172141

Kirim email ke