Kisah Bocah tak Memiliki Anus Dhea (6) Ngamen untuk Obati Ayahnya Senin, 09/01/2012 - 21:19 [image: CECEP SA/"PRLM"] CECEP SA/"PRLM" DHEA (6) senantiasa ikut ngamen bersama teman-temannya untuk mengumpulkan dana di alun-alun Kota Tasikmalaya, guna kesembuhan dirinya dan ayahnya yang kini terbaring di RSUD Tasikmalaya.*
PRLM -- Wajah Syahdhea (6), atau sering dipanggil Dhea, nampak sedikit ceria ketika ikut ngamen bersama Teater "Bolon" di Alun-alun Tasikmalaya. Dengan lincahnya jari jemari Dhea berirama menabuh gendang. Namun di balik keceriaannya itu terselip rasa sedih yang sangat mendalam. Bahkan kepedihannya senantiasa terasa ketika ia harus buang air besar, yang harus dilakukan melalui saluran kencing, karena ia tak memiliki anus. Anak tunggal dari pasangan Mamat (40) dan Ny. Siti (26), bukan tidak ada niat dari orangtuanya untuk melakukan operasi, melainkan karena tidak ada biaya, maka upaya penyembuhannya terhenti. Sekali ia pernah dioperasi dan dibuatkan saluran untuk buang air besar, namun setelah beberapa saluran itu menutup kembali, karena tidak melakukan kontrol. Akibat kemiskinan yang dialami keluarganya, Dhea harus berjuang dengan mengamen di pinggir jalan untuk mengumpulkan dana guna biaya operasi dirinya, dan ayahnya yang kini terbaring di RSUD Tasikmalaya. Sementara ayahnya harus menjalani perawatan di RSUD Tasikmalaya, karena menderita penyakit kanker stadium empat. Beruntung, dengan dibantu oleh teman-temannya sesama anak jalanan, Dhea bisa ikut mengumpulkan dana untuk biaya operasi tersebut. Anak semata wayang yang tinggal di tempat kumuh penampungan sampah pasar di Cikurubuk Kota Tasikmalaya itu sempat ditemukan Pimpinan Taeter "Bolon", Amang, ketika sedang melakukan bhakti sosial. Sehingg Dhea dititipkan di Yayasan Pendidikan Islam Buninagara Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya. Bocah malang itu sejak dilahirkan tidak mempunyai anus, tangisan yang disertai rasa sakit harus dirasakan oleh Dhea, setiap kali ingin buang air besar. Tidak hanya sampai di sana saja, kondisi orangtuanya yang miskin juga membuat Dhea harus bisa menerima kenyataan hidup yang pahit. Setelah ayahnya dirawat di RSUD, serta ibunya mengurus ayahnya di rumah sakit, penghidupan Dhea semakin menyedihkan, serta hidup terlunta-lunta di jalanan, untuk dapat bertahan hidup. Namun, kesedihannya sedikit terobati karena banyak teman-teman sesama anak jalanan yang peduli terhadapnya. Mereka membantu mengumpulkan dana dengan cara mengamen di pinggir jalan. Dengan dibantu sejumlah anak jalanan, yang tergabung dalam teater "Bolon", Dhea mempunyai harapan untuk bisa dioperasi dan hidup seperti anak normal lainya. Menurut Pimpinan teater "Bolon", Amang, Senin (9/1), pihaknya terketuk hatinya untuk menolong Dhea dan keluarganya. Sehingga ia memutuskan untuk ngamen di jalan guna meringankan penderitaan Dhea. "Bukan tidak ada niat kami untuk minta bantuan kepada Pemerintah Kota setempat, melainkan hingga saat ini belum ada perhatiannya, kendati upaya ke arah sudah dilakukan. Dari dua kali ngamen di dua tempat, kami baru mengumpulkan dana dari para dermawan sekitar 4 juta. Diharapkan dalam sebulan ini bisa terkumpul dana Rp 30 juta, supaya Dhea bisa dioperasi," kata Amang. (Cecep SA/das/"PRLM")*** http://www.pikiran-rakyat.com/node/172418
