Buat Apa Shalat?
Oleh AHMAD SAHIDIN
 
AWAL 2008 silam saya dipinjami buku shalat yang judulnya cukup provokatif: 
“Buat Apa Shalat?”  Melihat judul di kavernya saja membuat saya penasaran untuk 
membuka dan membaca isi atau kupasan yang terdapat di dalam buku yang ditulis 
seorang doktor, yang juga intelektual Muslim. Haidar Bagir namanya. Menurut 
informasi, buku yang diterbitkan Mizan ini kabarnya termasuk best-seller.   
 
Para pegiat buku dan pembaca buku-buku filsafat Islam atau tasawuf, saya kira 
pasti mengenal sosok Haidar Bagir. Bila tidak mengetahui, ya sebaiknya mencari 
tahu di internet atau kepada mereka yang bergelut dalam dunia penerbitan. 
 
Buku yang memiliki anak judul ”Kecuali Jika Anda Hendak Mendapatkan Kebahagiaan 
dan Pencerahan Hidup” ini di dalamnya menguraikan tentang pentingnya memahami 
makna hakiki dibalik shalat seperti ruh (batin) shalat, yang bisa melahirkan 
kebahagiaan dan pencerahan hidup dan aplikasi sosialnya.
 
Intinya, dalam buku ini—seperti yang tertulis di punggung buku—“sebagai jawaban 
atas kebutuhan eksistensial dan intelektual manusia modern akan kebahagiaan dan 
pencerahan hidup.” 
 
Menarik dan sangat substantif, terutama bahasan tentang ruh shalat yang di 
dalamnya menguraikan fungsi shalat dan shalat yang hakiki. Dalam bagian ini 
penulisnya, dengan argumen yang mudah dicerna nan cerdas, menegaskan bahwa 
ibadah shalat tidak bisa digantikan dengan meditasi atau ritual-ritual lainnya; 
karena di dalam shalat itu terkandung pencerahan. Juga memandu kita bagaimana 
meresapi ruh shalat melalui pemaknaan dan pengkhayatan para tokoh sufi dan 
filosof seperti Al-Hujwiri, Ibn Arabi, Abu Thalib Al-Makki, Jalaluddin Rumi, 
Imam Ghazali, Ibn Al-Qayyim Al-Jawjiyah, Syah Waliyullah Al-Dihlawi, Ibn Sina, 
dan Ayatullah Khomeini. Buku ini bagi saya—mengutip endorsement 
Prof.Dr.Komaruddin Hidayat, Rektor UIN Jakarta, “lain daripada yang lain, 
mencerahkan dan transformatif.” 
 
Begitulah memang isi buku tersebut. Menawarkan sebuah pencerahan dan berupaya 
memikatnya. Tertarik atau tidak, jatuh pada pembaca. Mengikuti anjuran dalam 
buku itu atau tidak, kembali ke pembaca. 
 
Kehadiran buku yang mengulas aspek esoteris Islam memang cukup langka; apalagi 
buku yang berkaitan dengan aktivitas yang diulang-ulang (lima kali sehari). 
Meski memang sudah sering dilakukan, tapi jujur saja dengan buku itu saya dapat 
wawasan baru—pencerahan. Karena selama ini, saat saya melakukan kewajiban 
shalat baru sekadar aspek eksoteris (lahiriah shalat). Aspek esoterik atau 
pengkhayatan terhadap isi atau makna tiap gerakan dan bacaan shalat serta 
posisi hati atau jiwa saat berkomunikasi dengan Allah Ta`ala, belum saya 
dapatkan. Belum saya rasakan nikmatnya. Mengapa? Jawabannya: saya masih belajar 
dan termasuk “awam” dalam urusan agama. 
 
Inti buku yang saya baca itu bahwa ibadah shalat tidak sekadar menjalani 
rutinitas atau kewajiban semata, tapi merupakan sebuah bentuk penyaksian 
(musyahadah) atas keagungan dan kebesaran Allah; sehingga dengan itu ia mampu 
membaca atau melihat-Nya (mukasyafah) karena hijab atau tabir yang menutup 
kesadarannya telah dibuka-Nya. Biasanya, mereka yang tergolong Nabi dan Rasul 
serta para wali Allah yang bisa merasakannya. Imam Ali bin Abu Thalib tidak 
merasakan sakit saat dicabut panah yang menusuk di badannya dalam shalat. Atau 
Imam Ali Zainal Abidin yang gemetaran ketika wudhu dan mencucurkan air mata 
dalam sujudnya. Juga kisah lainnya.
 
Mengalami, merasakan, dan menikmati “suasana berdua-duaan” dengan Allah melalui 
shalat, merupakan aspek yang perlu dan harus dihadirkan dalam setiap shalat. 
Bahkan, dalam setiap gerak, langkah, dengus nafas, kedipan mata, atau aliran 
darah, sangat harus dihadirkan. Dengan apa? Tentunya dengan zikir dan 
mengaplikasikan nilai-nilai Ilahiyah dalam keseharian kita. Ini yang saya 
dapati dari buku tersebut.    
 
Tapi buku memang sebuah buku. Hanya sebuah panduan semata, karena untuk 
aplikasi mendapatkan kebahagiaan dan pencerahan dari ibadah mahdhah tersebut 
tidak semudah yang digambarkan dalam buku. 
 
Jujur saja bahwa saya mengalami masalah dalam urusan shalat. Hingga saat ini 
saya masih mengganggap dan merasakan bahwa shalat saya masih terbatas 
menggugurkan kewajiban. Inginnya sih meningkat pada tingkat kebutuhan. Tapi 
sangat sulit dan belum terwujud. 
 
Dalam shalat kadang pikiran saya melayang, melanglangbuana, bahkan menemukan 
yang sebelumnya saya cari-cari karena hilang atau lupa. Mulut dan bibir saya 
memang membaca takbir, tasbih, tahmid, surat al-fatihah, dan bacaan lainnya; 
tetapi pikiran tak tentu, hingga lupa jumlah rakaat yang sudah saya selesaikan. 
Kadang juga membaca surat al-fatihah saat tasyahud awal; bacaan ruku dibaca 
saat tahiyat akhir. Jika sedang kacau begitu, saya langsung membaca bacaan yang 
harus dibaca saat gerakan itu. Bila dalam tasyahud tiba-tiba saja mengalir 
bacaan rukuk, saya buru-buru istghfar dan langsung membaca bacaan tasyahud. 
Kejadian itu sering, bahkan dalam setiap shalat. Tidak hanya shalat munfarid, 
saat berjamaah pun demikian. Kejadian tersebut hingga kini masih terus 
berlangsung—meskipun sudah mencoba mengikuti panduan shalat khusyuk yang 
pelatihannya berharga jutaan.
 
Meskipun saya mengalami masalah dalam shalat, tapi tidak menyurutkan dalam 
upaya mencari solusi atau meningkatkan pemahaman tentang shalat.
 
 
AHMAD SAHIDIN, alumni jJurusan Sejarah dan Peradaban Islam Fakultas Adab dan 
Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
=> http://albanduni.wordpress.com

Kirim email ke