The Quran a Biography: Serial Buku yang Mengguncang Dunia
 
Judul              : The Quran a Biography: Serial Buku yang Mengguncang Dunia
Penulis            : Bruce Lawrence
Penerbit          : Semesta Insiprasi (Imprint Salamadani)
Terbit           : November 2008 
Tebal              : 172+xii halaman
Harga             : 48.000
 
“Segala puji hanya bagi Allah, Tuhan segala sistem ilmu pengetahuan” (QS 
al-Fatihah: 2)
 
ANDA mungkin kaget atau juga tidak kaget. Jika Anda terbiasa membaca terjemahan 
Al-Quran surah Al-Fatihah ayat “alhamdulillahirabbil `alamin”, yang biasanya 
diartikan:  “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” menjadi “Segala puji 
hanya bagi Allah, Tuhan segala sistem ilmu pengetahuan.” Mungkin heran. Mungkin 
juga tidak aneh. Namun, yang jelas bahwa itu terjemahan yang tidak biasa. 
 
Salahkah? Saya belum berani menyebutkan benar atau salah karena saya sendiri 
tidak punya kemampuan dalam ilmu-ilmu Al-Quran maupun tafsir, apalagi urusan 
bahasa Arab. Sangat jauh dari mampu atau piawai. 
 
Terjemahan surah Al-Fatihah ayat 2 tersebut saya temukan dalam buku“The Quran a 
Biography: Serial Buku yang Mengguncang Dunia” karya Bruce Lawrence, 
diterbitkan Penerbit Salamadani Bandung, 2008 (hal.130). Terjemahan tersebut 
dikemukakan oleh W.D Mohammed, seorang aktivis Muslim Amerika berkulit hitam. 
Tampaknya W.D Mohammed punya alasan dibalik penerjemahannya itu. 
 
Saya selaku  pembaca  hanya menangkap bahwa: W.D.Mohammed tampaknya ingin 
memposisikan bahwa Tuhan dapat hadir dalam peradaban Barat, yang karena saking 
science-oreinted kadang tidak dipedulikan. Tuhan dalam sains dan khazanah 
keilmuan Barat tidak mendapat tempat; karena doktrin teologi kadang dianggap 
bertentangan, dan bahkan menghalangi kemajuan sains. Sebagai seorang misionaris 
Islam di negeri sekular, W.D Mohammed berupaya untuk menjelaskan pada 
masyarakatnya bahwa Allah itu pemilik ilmu, sumber ilmu pengetahuan dan sangat 
menghargai mereka yang bergelut dalam ilmu pengetahuan. Mungkin karena 
keberaniannya dalam menafsirkan ayat Allah itu, penulis Lawrence memasukkan 
W.D.Mohammed selaku penafsir Al-Quran kontemporer.
 
Menurut Lawrence, pada masa sekarang ini setidaknya ada dua bentuk penafsiran 
dan pemahaman orang terhadap Al-Quran: penafsiran yang literalis (harfiah) yang 
diwakili kaum fundamentalis seperti Osama bin Laden, dan penafsiran yang 
kontekstual seperti W.D Mohammed.  Penafsiran yang literalis dianggapnya tidak 
bersahabat dengan dunia karena mereka beserta pengikutnya telah membuat batas 
pemisah: Islam dan kafir. Mereka yang tidak setuju dengan penegakkaan syariat 
Islam yang harfiah dan pembentukan negara Islam, berada dalam garis “kafir” dan 
harus diperangi. Gerakan radikalisme agama dan sejumlah teror yang 
mengatasnamakan agama terlahir dari paradigma di atas. Sedangkan model kedua, 
dinilainya bisa kompromi dengan peradaban Barat karena dilandaskan pada 
nilai-nilai universal, bercorak inklusif, mengusung khazanah ilmu dan kemajuan 
peradaban. Manakah yang benar? Anda sendiri yang bisa menjawabnya. 
 
Selain membahas masalah penafsiran Al-Quran kontemporer dan fungsinya untuk 
umat Islam sekarang ini, Lawrence juga mengulas tentang upaya para ulama 
seperti Imam Ja`far Ah-Shadiq, Abu Ja`far Ath-Thabari, Ibnu Arabi, Jalaluddin 
Rumi, Muhammad Iqbal, W.D.Mohammed, dan Osama bin Laden, dalam memahami kitab 
Umat Islam tersebut. 
 
Bahkan, pada bagian awal buku, Lawrence menyuguhkan ulasan tentang sosok Nabi 
Muhammad saw dalam berbagai profesi seperti pedagang, pembawa risalah Ilahi, 
ahli strategi dan perang, organisatoris, juga tentang Isra Mi`raj. 
 
Tampaknya buku yang komplet menyajikan pemahaman Al-Quran dari masa klasik 
hingga kontemporer, seperti buku“The Quran a Biography: Serial Buku yang 
Mengguncang Dunia” karya Bruce Lawrence ini sangat sedikit dipasaran. Apalagi 
yang dikaji dan diulas oleh orang luar Islam atau non-Muslim. Dari orang luar 
biasanya kita akan mengetahui borok dan kelemahan, bahkan kelebihannya. Akan 
tetapi, saya sebagai umat Islam yakin dengan “haqqul-yaqin” bahwa Al-Quran itu 
kitab suci paripurna. Sementara hasil kajian orang Barat,termasuk buku ini bisa 
kita dudukan dalam konteks wacana ilmiah saja. [AHMAD SAHIDIN, alumni jurusan 
sejarah peradaban Islam UIN Bandung]
 
 
 
 
       
=> http://albanduni.wordpress.com

Kirim email ke