Assalamualaikum wr wb Saya belum melihat tanggapan ini dibawah
Zen ________________________________ From: Mohammad zen <[email protected]> To: "[email protected]" <[email protected]> Sent: Friday, February 17, 2012 9:51 PM Subject: [JARKOM PERSIS] attaubah 100: Assabiqunalawwalun (kang deni jeung parakanca) Assalamualaikum Ahsantum, melanjutkan pembahasan yang diaplod di blog Kang deni. Untuk surat Attaubah 100 sebenarnya sudah dijawab dalam tulisan ana, cuman akang tidak menyanggah dalam masalah hubungan maaninya dan hubungan i’rabnya. Oke lah saya ulang : Akang menuliskan surat Attaubah dengan terjemahan depag وَ السَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهاجِرينَ وَ الْأَنْصارِ وَ الَّذينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَ رَضُوا عَنْهُ وَ أَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْري تَحْتَهَا الْأَنْهارُ خالِدينَ فيها أَبَداً ذلِكَ الْفَوْزُ الْعَظيمُ 100. orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. Zen Menjawab : Ok lah kita merujuk kepada terjemahan depag dulu menurut Akang Deni , saya mengalah dulu deh , dengan makna assabiquna = makan zaman, walaupun saya pribadi tidak setuju berdasarkan qarinah quran yang akan dijelaskan selanjutny, oke lah kita ke terjemahan, tapi saya melihat terjemahannya saja tidak menunjukkan seluruh “orang- orang yang terdahulu “ bahkan ditambah lagi “orang-orang yang pertama masuk islam” . 1. Jadi secara makna bahasa Indonesia saja orang2 terdahulu tidak menunjukkan seluruh, sebab kalau ingin menunjukkan seluruh maka harus ada kata “SELURUH orang-orang terdahulu”, ditambah kata “SELURUH”, tetapi kalau ditambah kata ‘SELURUH’ dalam kalau dimisalkan ( fil fardh), maka maknanya akan tidak menentu dan tak jelas, sebab terdahulu adalah makna nisbah zamaniah, yakni dulu dan sekarang dan akan datang, kalau dipakau kata ‘seluruh’ dari mana ngitung ‘terdahulu’ teh hehe... tak ada penjelas yang menjelaskan hal batas dari sejak kapan, betul. Hal ini mustahil, oleh sebab itu Quran yang penuh dengan keindahan maani dan balaghah, tepat sekali tidak menyatakan ‘seluruh’ sehingga maknanya selain seluruh adalah sebagian, karena quran bermaksud ingin menunjukkan sebagian dengan tanpa kata ‘seluruh’ kalau dalam bahasa arabnamah menunjukkan kata yang tidak ditunjukkan kammiahnya (jumlahnya) maka maknanya muhhmalah , dan yang muhmal berfaedah juzi ( sebagian). sebenarnya banyak sekali yang menunjukkan sebgian dari ayat ini , misalnya dari alif lamnya, qaidah maani dan balaghah dll, saya cukupkan saja demikian meh bisa kapahami. 2. Kalaupun saya mengalah lagi untuk keduakalinya menurut pandangan Kang deni, tanpa dalil yang pertama diatas, tapi justru dengan jelas ayat tersebut tidak menunjukkan seluruh sahabat dari muhajirin dan anshar, sebab ada keterangan “terdahulu lagi masuk islam” jadi yang belakangan masuk islam dari mereka bukanlah mereka yang dijamin dapat surga, seperti , Muawiyah, atau maaf abu hurairah dll masih banyak lagi sahabat nabi yang belakangan masuk islam. 3. ah udah cape ngalah terus nah ini dali dari saya tanpa ‘mengalah” seperti yang telah ditulis sebelumnya hehe... 1. Maksud dari Assabiquuna al-awwaluun (ayat attaubah 100) di dalam kitab sunipun berbeda2 tafsirannya tidak menyebutkan seluruh sahabat : 2. Dalam berbagai macam kitab tafsir terjadi perbedaan pendapat dalam makna assbiquunalawaluun dinisbatkan kepada Almuhajirin dan Al-Anshar seperti dalam Ad-Durul Mantsur tafsir Aljalalain, tafsir Qurthubi mengatakan bahwa mereka assabiqunal awwalun adalah yang mengalami shalat dua kiblat dan ahli perang badar atau yang berbaiat baiatul Ridwan ada juga yang mengatakan sahabat yang sebelum hijrah[1] , Az-Zamaksyari dalam kitabnya Al-kasyaf yang menyebutkan bahwa assbiquual awwaluun untuk seluruh umat nabi. Oleh sebab itu tidak ada kesepakatan dari tafsir-tafsir mereka dan dalil-dalil yang ada serta tidak menunjukkan keadilan sahabat seluruhnya dari lafadh ayat ini, karena tidak ada yang menafsirkan seluruh sahabat adil dengan ayat tersebut, bahkan yang menafsirkan orang-orang yang pertama masuk Islampun berbeda-beda di kalangan ahlussunnah. 3. Sekarang bagaimana kita melihat makna assabiquunq al awwaluun, kemungkinannya ada dua makna : - Makna assabiquuna alawwaluun adalah yang dihubungkan dengan zaman, artinya orang-orang yang pertama kali beriman (yang diyakini sebagian ahlussunnah) - Makna kedua adalah tidak dihubungkan dengan zaman , tapi orang yang lebih unggul dan lebih makrifat dalam masalah iman. (yang diyakini syiah dan sebagian mazhab lainnya) 4. Dalil makna mana yang mendekati kebenaran menurut dzahir ayatnya : a. Kalau kita menghubungkan ke “zaman” tidak ada keterangan padanya kepastian zaman kapan seperti yang ada dalam tafsir kitab ahlussunnah di atas, oleh sebab itu zaman tidak menjadi parameter. b. “atba’uhum bi ihsan” ....”alitba’” sesuai kalau disifatkan ke “Ass-abiq” bukan ke “al-awwal”, karena tidak ada maknanya apabila “ awwal “ lalu “itba’” , oleh sebab itu yang betul adalah” assabiq(terdahulu)” lalu “itba” (diikuti) c. Maksud dari “assaqib” adalah terdahulu dalam derajat iman (maksudnya) adalah lebih tinggi tingkatan iman seperti di ayat 1 surat al-hasry ربنا اغفر لنا و لإخواننا الذين سبقونا بالإيمان" Disana bisa dipahami dari kalimat : “assabaquuna biliiman”(lebih dulu dalam iman) Jadi bukan assabiquna bizzaman ( yang lebih dahulu dari masa/waktunya) d. Dan setelah itu ditegaskan dengan kalimah “al-awwaluun” artinya orang yang lebih unggul derajat keimanannya. e. Anda bisa melihat tafsir ayat dengan ayat seperti yang ada diatas, dan juga bisa dipahami juga dengan tafsir dengan surat alwaqiah ayat 10, karena setiap ayat bisa menjelaskan ayat lainnya (tafsir quran bilquran) وَ السَّابِقُونَ السَّابِقُونَ Di ayat sebelumnya menceritakan golongan kiri dan kanan, lalu di ayat ini dijelaskan mengenai assabiquuna kepada masalah iman dan taqwa, jadi bukan dengan masalah zaman. f. Bisa juga anda melihat surat alfathir ayat 35: ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتابَ الَّذينَ اصْطَفَيْنا مِنْ عِبادِنا فَمِنْهُمْ ظالِمٌ لِنَفْسِهِ وَ مِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَ مِنْهُمْ سابِقٌ بِالْخَيْراتِ بِإِذْنِ اللهِ ذلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبيرُ Disana digunakan “sabiq bilkhair” lebih dahulu (derajat) kebaikan Jadi tidak ada maksud assabiquna bizzaman g. Oleh sebab itu yang inti dari ayat tersebut adalah pada masalah kualitas imannya, bukan pada masalah lebih dulu dalam zaman (waktu), seperti janji Allah Swt itulah untuk orang beriman lihat ayat berikut ini : وعد الله المؤمنين والمؤمنات جنات تجري من تحتها الأنهار Allah menjanjikan bagi orang “mukminin dan mukminat syurga yang mengalir dibawahnya sungai”(attaubah 72) h. Sehingga janji Allah Swt disini bukan masalah siapa lebih dulu , tapi siapa yang lebih baik dan unggul dalam masalah iman. 5. Makna Al itba’ biihsan a. Seperti yang pernah dikatakan diatas bahwa it’ba tadi dihubungkan ke assabiq bukan ke alawwal, b. Dan “ihsan” disini bukanlah sebagai muqaranil lil itba’ maksudnya menjadi sifat bagi itba’ tapi justru “ihsan” disini menjadi qaid dengan makna “fi”, atau mengikuti pada “amalan kebaikan”, karena “al-itba’” disini sering diqaidkan dengan “pengikut syaithan”, “pengikut ahlul kitab” , pengikut 2 lainnya, oleh sebab itu kewajiban dari ayat tersebut adalah mengikuti pada kebaikan seperti dalam ayat berikut (azzumar :18) الذين يستمعون القول فيتبعون أحسنه أولئك الذين هداهم الله Orang-orang yang mendengarkan qaul dan mengikuti kebaikannya (yatba’uuna ahsanahu) , merekalah yang Allah telah beri petunjuk kepada mereka. c. Jadi Atba bil ihsan disini lawannya adalah “itba bi saiiah (mengikuti pada keburukannya) 6. Makan “minal muhajirin walanshar” a. Minal muhajirin wal anshar adalah tab’idhiyyah(sebagian) (penjelasannya sudah pernah dijelaskan diatas) bukan bayaniah karena tidak memenuhi syarat bagi bayaniah d. Hal ini sesuai dengan ayat-ayat lainnya karena justru sebagian dari muhajirin wal anshar itu sendiri ada yang munafiq dan lain sebagainya , seperti di dalam ayat setelahnya. Maka oleh sebab itu tidak bisa kita katakan seluruh muhajir wa anshar, pertama tidak sesuai dengan kaidah bahasa, kedua tidak sesuai dengan ayat2 lainnya. Kesimpulan maka : 1. hadits syiah yang didalilkan oleh kang DN dengan kata “jami” tanpa melihat sanad dan lainnya maka kita bisa memahami bahwa jami disini untuk Assabiquuna alawaaluun.Artinya seluruh orang-orang yang tingkatan kualitas imannya lebih unggul tanpa melupakan “min” tabiidhiyyah dari muhajir dan anshar, jadi bukanlah seluruh muhajir dan anshar , karena ini tidak sesuai dengan kaidah bahasa yang ada. 2. “Radhiallu anhum waradhu anhu” bermakna Allah ridha kepada tiga golongan yang ada di atas: Zen ________________________________ [1]Ad-Durul Mantsur 3:270, Tafsir Al-Qurthubi 17:119; Tafsir Al-Jalalain 1:258 [Non-text portions of this message have been removed]
