salam. ieu aya info sawala di UIN bandung manawi aya nu resep...

Sunan Gunung Djati-Judul di atas merupakan tema persentasi yang dibawakan oleh 
Dr. Yasraf Amir Piliang seorang dosen ITB yang juga merupakan pakar 
postmodernisme Indonesia. Ia di undang hadir dalam Diskusi Tematik Bulanan 
Fakultas Ushuluddin Sunan Gunung Djati Bandung hari rabu 7 Maret 2012. Sebagai 
Pembanding hadir pula narasumber lain yang berasal dari kampus UIN sendiri 
yaitu Dr Nurrohman  yang penelitian dan tulisan-tulisannya banyak yang membahas 
radikalisme terutama dalam kacamata Agama.

Diskusi ini dihadiri tidak kurang dari 80 orang peserta yang terdiri dari dosen 
dan mahasiswa. Ruangan fakultas Ushuluddin yang memakai gedung Cafetaria 
ternyata tidak mampu menampung peserta, sehingga belasan orang duduk di luar 
ruangan diskusi. Proses renovasi dan pembangunan kampus membuat proses belajar 
mengajar menjadi tidak nyaman, namun tidak menyurutkan semangat untuk terus 
belajar.

Pukul 10 tepat acara diskusi dimulai. Pembicara pertama yaitu Yasraf 
menjelaskan bahwa saat ini radikalisme agama sudah direduksi pengertiannya 
menjadi ektremisme. Karena sebenarnya radikalisme bila melihat dari asal 
katanya yaitu "radix" atau "akar" merupakan sebuah bentuk sikap yang 
mengutamakan nilai-nilai mendasar dalam hidupnya. Nilai ini bisa bermakna 
positif juga negative . Namun saat ini orang-orang memakai kata radikalisme 
lebih pada perbuatan kekerasan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang.

Yasraf tidak banyak menjelaskan radikalisme, ia lebih banyak menjelaskan akar 
kekerasan itu sendiri. Akar kekerasan dijelaskannya dengan perpektif filsafat. 
Menurutnya secara substansi ada benang merah yang sama dari bentuk-bentuk 
kekerasan yang terjadi saat ini. Apakah fenomena kekerasan yang terjadi 
terhadap Ahmadiah, kekerasan yang terjadi di Poso, kekerasan yang terjadi di 
reformasi Mesir. Benang merahnya bisa dilihat dari relasi "The I" dan "The 
Other" atau relasi aku dengan lian. Relasi pertama adalah relasi Monologisme. 
Dalam Relasi ini "The I" melihat apapun dengan kacamata dirinya sendiri.

Relasi yang kedua adalah Pluralisme. Dimana dalam relasi ini "Aku" menghargai 
dang mengakui keberadaan "Lian". Pengertian Pluralisme di sini berbeda dengan 
definisi pluralisme yang menyamakan semua agama. Namun lebih kepada sebuah 
sikap yang mengakui dan menghargai keberagaman lian.

Namun karena ada Desire The Other yang ingin memiliki atau menjadi apa yang 
dimiliki yang lain maka relasi pluralism ini sukar sekali terjadi. Yasraf 
mencontohkan tentang penyerangan Amerika terhadap Irak yang sebenarnya didasari 
oleh hasrat untuk menguasai sumber minyak dunia. Atau hal hal sederhana lain 
disekitar kita hanya karena uang seribu rupiah seseorang bias memukul orang 
lain.

Ada objek yang sama yang menjadi tujuan "Aku" dan "Lian" sehingga terjadilah 
kompetisi, perjuangan, konflik kepentingan, kecemburuan dan kebencian.

Karena hasrat terhadap objek yang sama ini pada ahirnya "Aku" membentuk dirinya 
ada dalam sebuah posisi tertutup dan memproteksi diri dengan membangun barrier 
dalam melihat yang "lian". Kondisi ini disebut dengan Umwelt yaitu selalu 
menganggap yang lian sebagai ancaman. Bila semua manusia memiliki konsep ini 
maka yang terjadi adalah hidup dengan penuh kecurigaan dan penafian terhadap 
yang lain.

Relasi "Aku" dan "Lian"  masing-masing memproteksi diri, pada ahirnya memilihi 
sikap "Essensialisme" yang menjadikan "Aku" sebagai yang absolute yang paling 
benar yang paling paham dan paling segala-galanya. Selain itu sikap yang lain 
yaitu "Demonologi" yang selalu mengatakan bahwa yang "lian" itu selalu salah. 
Lian itu kafir. Lian itu akan masuk neraka.

Selain itu ada juga dalam melihat kekerasan kita tidak bisa melepaskan diri 
dari apa yang disebut sebagai Simulation of Violence dimana ada "elit" yang 
mengakibatkan sebuah kekerasan real terjadi. "Elit" ini biasanya sebagai sebuah 
konseptor yang memprovokasi terjadinya kekerasan sulit untuk dilacak dan 
ditangkap. Selama ini dalam berbagai kekerasan yang terjadi di Indonesia selalu 
pelaku real yang massif yang ditangkap. Padahal para "elit" ini selalu mencari 
peluang untuk memperburuk. "Elit" ini juga bisa berasal dari Negara yang 
sengaja melakukan Simulasi Kekerasan untuk meneguhkan kekuasaanya.

Ahirnya solusi yang ditawarkan oleh Yasraf adalah Dialogisme. Yaitu sebuah 
sikap yang betul betul tertanam untuk selalu melakukan dialog bila terjadi 
permasalahan. Dialogisme bukan sekedar dialog. Karena kalau sekedar dialog saja 
bisa terjadi. Namun apakah memiliki keinginan untuk sedikit mengendurkan 
mur-mur yang kencang agar mendapat sebuah soulsi yang bermanfaat ini juga harus 
dimiliki.

Diskusi ini berlangsung sampai pukul 12.00 WIB. Setelah diskusi usai Yasraf 
masih dikelilingi oleh peserta yang masih penasaran dan tidak puas dengan apa 
yang sudah dibicarakan dalam diskusi. Ahirnya kami bersepakat untuk menmbedah 
buku baru Yasraf yang berjudul "Bayang-Bayang Tuhan: Agama & Imajinasi" yang 
diterbitkan Mizan Mei 2011 sebagai lanjutan diskusi ini Semoga acara bedah buku 
nanti bisa mengurangi kehausan kami akan pemahaman yang lebih rahmah bagi 
manusia dan alam. http://www.sunangunungdjati.com/blog/?p=13358#comment-9320



------------------------------------

Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/kisunda/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    [email protected] 
    [email protected]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [email protected]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke