Di Indonesia, Punya Pembantu Kewajiban Sosial
Oleh *Redaksi Indonesia*
Dibuat *8 Maret 2012 14:05*
 [image: image/jpeg
icon]afwas.jpg<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/lead/article/2012/03/afwas.jpg>

*Saya akhirnya punya supir. Sepuluh tahun sudah saya berhasil menghindari
fakta ini. Karena saya orang Belanda totok dan orang Belanda totok tak
punya personil di rumahnya. Apalagi supir. Demikian tulis koresponden
Michel Maas dalam kolom di surat kabar Belanda, de Volkskrant edisi Kamis
(08/03).*

Tapi ideologi itu tidak berlaku di Indonesia. Semua orang di Indonesia
punya pembantu.

Pasukan personil rumah tangga dimulai dari seorang pekerja perempuan. Bukan
seseorang yang datang hanya dua jam setiap minggu dan dibayar 15 euro per
jamnya, bukan itu. Maksudnya, benar-benar pembantu rumah tangga.

*Pembantu*
Keluarga Indonesia punya sekurangnya satu pembantu. Mereka tinggal bersama
di rumah sang majikan karena alasan praktis.

Maas menulis, "Saat saya baru saja tiba dari Belanda, saya pikir semua ini
berlebihan sekali. Kita kan bisa cuci piring dan belanja sendiri. Iya kan?"

Orang Indonesia punya pendapat lain mengenai pembantu. Bahkan sebelum Maas
selesai membongkar kardus pertama selesai pindahan, rumahnya sudah
dihampiri oleh seorang ibu-ibu. Dan seorang lainnya lagi. Di Indonesia
cepat sekali beredar kabar kalau baru saja ada orang asing, bule, yang
datang.

Anda lalu akan *ngeh'* kalau Anda tidak bisa menolak mereka. Punya pembantu
bukanlah kemewahan. Ini kewajiban sosial. Anda memberikan lapangan
pekerjaan bagi seseorang. Justru kalau tidak melakukannya, Anda egois. Lima
puluh euro sebulan bukanlah jumlah yang besar, Anda bisa bayar itu.

*Kewajiban sosial*
Kewajiban sosial ini berdampak lebih jauh dari yang diperkirakan. Jika Anda
mempekerjakan seorang pembantu, maka Anda mendapat bonus seluruh
keluarganya. Untung, bukan dalam arti sebenarnya. Tapi tetap saja, nasib
mereka sedikit banyak ada di tangan Anda.

Anda akan ikut membayari kalau ada keluarga yang sakit atau meninggal;
ibunya, ayahnya, kakaknya, adiknya, mereka sendiri. Anda juga akan ambil
bagian dalam membayar uang sekolah, uang seragam, uang ekstra kurikuler
untuk anak-anaknya.

Semua itu Anda lakukan karena Anda mampu, tulis Michel Maas di *de
Volkskrant*.

Tapi andil Anda tidak berhenti pada satu pembantu saja. Sang pembantu
biasanya akan jadi sangat sibuk, karena dia bukan hanya akan bersih-bersih
saja di rumah. Dia juga masak dan menjaga anak-anak Anda.

Lalu tiba-tiba Anda dengar di ujung gang ada lagi ibu-ibu lain yang baru
saja kehilangan pekerjaannya. Dia datang minta pekerjaan kepada Anda. Anda
menerimanya karena tumpukan cucian mulai menggunung. Karena si ibu juga
punya anak perempuan yang harus sekolah dan suami yang penghasilannya
pas-pasan.

Di tahun-tahun berikutnya, datang lagi beberapa staf lainnya. Tahu-tahu,
Anda juga ikut menjaga kesejahteraan satpam penjaga portal dengan
memberinya uang rokok setiap hari karena gaji yang diterimanya sehari-hari
tidak cukup.

Seorang tukang kebun juga sekarang merawat kebun saya satu dua kali dalam
seminggu. Karena mereka memang berpengalaman dan "bertangan hijau". Dan
mereka juga tidak keberatan dengan gaji 30 euro per bulan yang diberikan.
Daripada tidak ada kerjaan sama sekali.

*Supir*
Lalu terakhir... supir. Sepuluh tahun lamanya saya mendengarkan orang-orang
bertanya; "Kok nggak punya supir?" Semua orang punya. Dan selama sepuluh
tahun itu juga saya menjawab dengan bangga; "Tidak, saya *nyetir *sendiri."

Tapi di hari-hari melelahkan atau sibuk, saya terpaksa naik taksi. Sesuatu
yang makin hari makin sering saya lakukan. Karena jalanan makin macet dan
perjalanan makin melelahkan setiap harinya.

Naik taksi setiap hari kan butuh biaya besar. Itu yang saya coba yakinkan
pada diri sendiri. Punya supir pasti jauh lebih murah. Dan memang benar
begitu kenyataannya.

Tapi tetap saja saya suka kurang *sreg*. Terutama saat saya sedang berkutik
sendirian dengan laptop saya di kursi belakang. Yah, saya tetap saja orang
Belanda. Demikian tulis Michel Maas di harian *de Volkskrant*.
 ------------------------------
*URL sumber:*
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/di-indonesia-punya-pembantu-kewajiban-sosial
 *Links:*
 *Images:*
[i1]
http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/lead/article/2012/03/afwas.jpg
[i2] http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia

Kirim email ke