tapi ayeuna mah hésé pisan nyiar pembantu teh ki, bener2 jiga keur nyiar kipayah, untung2an :D di lembur2 target barudak nu meujeuhna gawe teh mun teu jadi kuli di pabrik (buruh) nya jadi TKI/TKW ka luar nagreg, jadi pembantu mah geus dicoret tina daptar teu boga ijazah sma (nu biasana standar keur ka pabrik2 mah) nyaaa bisa wae diakalan ku motokopi ijazah batur nu ngaranna digenti ku ngaran manehna. toh, pabrik ge ngan saukur ngawajibkeun mikeun potokopi-an ijazah hungkul pembantu ayeuna teu jiga baheula2 sakumaha nu dicaritakeun ku kolot2 da geus loba nu ngarti kana sagala rupa informasi matak kuring mah di imah ge pembantu teh tara disaha-saha, sok weh sakarepna, nu penting pagawean nu utama beres. lain nanaon, pembantu ayeuna mah "arogoan" mun ceuk urang batawi mah "belagu"... nyaaa keun weh cekeng teh, da urang nu butuh ieuh, asal ulah minculak kamalinaan weh heheh...
2012/3/13 Ki Hasan <[email protected]> > ** > > > Di Indonesia, Punya Pembantu Kewajiban Sosial > Oleh *Redaksi Indonesia* > Dibuat *8 Maret 2012 14:05* > [image: image/jpeg > icon]afwas.jpg<http://cdn.radionetherlands.nl/data/files/images/lead/article/2012/03/afwas.jpg> > > *Saya akhirnya punya supir. Sepuluh tahun sudah saya berhasil menghindari > fakta ini. Karena saya orang Belanda totok dan orang Belanda totok tak > punya personil di rumahnya. Apalagi supir. Demikian tulis koresponden > Michel Maas dalam kolom di surat kabar Belanda, de Volkskrant edisi Kamis > (08/03).* > > Tapi ideologi itu tidak berlaku di Indonesia. Semua orang di Indonesia > punya pembantu. > > Pasukan personil rumah tangga dimulai dari seorang pekerja perempuan. > Bukan seseorang yang datang hanya dua jam setiap minggu dan dibayar 15 euro > per jamnya, bukan itu. Maksudnya, benar-benar pembantu rumah tangga. > > *Pembantu* > Keluarga Indonesia punya sekurangnya satu pembantu. Mereka tinggal bersama > di rumah sang majikan karena alasan praktis. > > Maas menulis, "Saat saya baru saja tiba dari Belanda, saya pikir semua ini > berlebihan sekali. Kita kan bisa cuci piring dan belanja sendiri. Iya kan?" > > Orang Indonesia punya pendapat lain mengenai pembantu. Bahkan sebelum Maas > selesai membongkar kardus pertama selesai pindahan, rumahnya sudah > dihampiri oleh seorang ibu-ibu. Dan seorang lainnya lagi. Di Indonesia > cepat sekali beredar kabar kalau baru saja ada orang asing, bule, yang > datang. > > Anda lalu akan *ngeh'* kalau Anda tidak bisa menolak mereka. Punya > pembantu bukanlah kemewahan. Ini kewajiban sosial. Anda memberikan lapangan > pekerjaan bagi seseorang. Justru kalau tidak melakukannya, Anda egois. Lima > puluh euro sebulan bukanlah jumlah yang besar, Anda bisa bayar itu. > > *Kewajiban sosial* > Kewajiban sosial ini berdampak lebih jauh dari yang diperkirakan. Jika > Anda mempekerjakan seorang pembantu, maka Anda mendapat bonus seluruh > keluarganya. Untung, bukan dalam arti sebenarnya. Tapi tetap saja, nasib > mereka sedikit banyak ada di tangan Anda. > > Anda akan ikut membayari kalau ada keluarga yang sakit atau meninggal; > ibunya, ayahnya, kakaknya, adiknya, mereka sendiri. Anda juga akan ambil > bagian dalam membayar uang sekolah, uang seragam, uang ekstra kurikuler > untuk anak-anaknya. > > Semua itu Anda lakukan karena Anda mampu, tulis Michel Maas di *de > Volkskrant*. > > Tapi andil Anda tidak berhenti pada satu pembantu saja. Sang pembantu > biasanya akan jadi sangat sibuk, karena dia bukan hanya akan bersih-bersih > saja di rumah. Dia juga masak dan menjaga anak-anak Anda. > > Lalu tiba-tiba Anda dengar di ujung gang ada lagi ibu-ibu lain yang baru > saja kehilangan pekerjaannya. Dia datang minta pekerjaan kepada Anda. Anda > menerimanya karena tumpukan cucian mulai menggunung. Karena si ibu juga > punya anak perempuan yang harus sekolah dan suami yang penghasilannya > pas-pasan. > > Di tahun-tahun berikutnya, datang lagi beberapa staf lainnya. Tahu-tahu, > Anda juga ikut menjaga kesejahteraan satpam penjaga portal dengan > memberinya uang rokok setiap hari karena gaji yang diterimanya sehari-hari > tidak cukup. > > Seorang tukang kebun juga sekarang merawat kebun saya satu dua kali dalam > seminggu. Karena mereka memang berpengalaman dan "bertangan hijau". Dan > mereka juga tidak keberatan dengan gaji 30 euro per bulan yang diberikan. > Daripada tidak ada kerjaan sama sekali. > > *Supir* > Lalu terakhir... supir. Sepuluh tahun lamanya saya mendengarkan > orang-orang bertanya; "Kok nggak punya supir?" Semua orang punya. Dan > selama sepuluh tahun itu juga saya menjawab dengan bangga; "Tidak, saya > *nyetir > *sendiri." > > Tapi di hari-hari melelahkan atau sibuk, saya terpaksa naik taksi. Sesuatu > yang makin hari makin sering saya lakukan. Karena jalanan makin macet dan > perjalanan makin melelahkan setiap harinya. > > Naik taksi setiap hari kan butuh biaya besar. Itu yang saya coba yakinkan > pada diri sendiri. Punya supir pasti jauh lebih murah. Dan memang benar > begitu kenyataannya. > > Tapi tetap saja saya suka kurang *sreg*. Terutama saat saya sedang > berkutik sendirian dengan laptop saya di kursi belakang. Yah, saya tetap > saja orang Belanda. Demikian tulis Michel Maas di harian *de Volkskrant*. > ------------------------------ > *URL sumber:* > http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/article/di-indonesia-punya-pembantu-kewajiban-sosial > *Links:* > *Images:* > [i1] > http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia/data/files/images/lead/article/2012/03/afwas.jpg > [i2] http://www.rnw.nl/bahasa-indonesia > > > -- Dikdik >>gowes 4life, gowes 4ever<<
