Nyutat ti kompas:

Sentuhan Feminis Teh Eneng di Kebun Sayur

Oleh Ida Nurcahyani

Filsuf sekaligus tokoh 
feminisme modern Simone De Beauvoir pernah bilang, seseorang tidak 
dilahirkan, melainkan menjadi seorang wanita.
Idenya adalah mengenai formulasi beda jenis kelamin dari gender dan seksualitas 
secara biologis.
Simone mencoba menjelaskan, kendati manusia diberi kenyataan biologis, maka 
itu tak berkaitan dengan bagaimana mereka memaknai keberadaannya di muka bumi.
Simone melahirkan pemahaman gender bahwa gender itu bukan 
pembeda alat kelamin, melainkan pembeda sikap, yaitu kecenderungan yang 
dipilih.
Pemikiran ahli filsafat awal abad 20-an itu diadopsi 
benar oleh seorang perempuan petani sederhana yang tidak berpendidikan 
tinggi di satu desa terpencil di Bandung Selatan.
Riswati Wahyuni namanya, biasa dipanggil Teh Eneng.
Teh Neneng mungkin tak mengenal fenomenologi ala Simone De Beauvoir 
mengenai kesetaraan gender, namun, perempuan 28 tahun ini begitu tahu 
bahwa kodratnya sebagai perempuan tak bisa menghentikannya untuk sukses 
secara ekonomi.
"Perempuan jaman sekarang jangan kalah dari 
laki-laki, kita juga harus berusaha biar sukses," kata Teh Eneng selama 
memanen buah tomat di Desa Mekarsari, Ciwidey, Bandung, Sabtu pekan 
lalu.
Dulunya, Teh Eneng hanyalah petani sayur biasa yang bercocok tanam di areal 
perkebunan seluas 2 hektare warisan orang tuanya.
"Seperti kebanyakan pemuda di desa ini, begitu tidak sekolah, saya jadi tani, 
saya menanam wortel, buncis, tomat, labu, kol dan lain-lain untuk 
bertahan hidup," katanya diiringi senyum.
Bertambah tahu
Hasil tani dari kebun miliknya ini, dia pasarkan ke pasar-pasar lokal 
tradisional dan pasar induk di sekitar Ciwidey.
"Dulu saya hanya dibantu empat orang pegawai untuk mengelola kebun, sehari 
hasilnya cuma Rp800 ribu hingga Rp2 juta," kata Teh Eneng.
"Lalu 
saya berpikir saya tidak bisa terus begini, akhirnya saya mulai mencari 
tahu bagaimana caranya untuk berkembang," kata Teh Eneng.
Pada 
2007, Teh Eneng berkenalan dengan LSM Satoe Indonesia yang awalnya 
adalah organisasi mahasiswa Sekolah Bisnis dan Manajemen, Institut 
Teknologi Bandung.
Satoe Indonesia memiliki satu program divisi 
bernama Pengembangan Usaha yang bertugas membuat dan mengembangkan 
secara berkelanjutan bisnis-bisnis potensial serta realistis untuk desa 
Ciwidey.
"Dengan dukungan dari Satoe Indonesia, saya ikut 
pelatihan-pelatihan termasuk pelatihan teknik budidaya dan packing, 
selain itu, saya juga ikut pameran-pameran seperti Agro Expo di JCC," 
kata ibu satu anak ini.
Pameran dan pelatihan yang diikutinya, memungkinkan Teh Eneng bertemu dengan 
orang-orang dari industri pemasok ritel modern.
"Saya jadi mengenal yang namanya komoditas sayur eksklusif, bagaimana cara 
membudidayakan tanaman itu dengan baik, dan cara mengemas atau packaging yang 
benar sehingga bisa masuk ke ritel," katanya.
Sebelum ini, pengetahuan bercocok tanam hanya dia dapat berdasarkan pengetahuan 
turun temurun dari orang tuanya.
Mengubah paradigma
"Sekarang, dibantu 26 karyawan yang bekerja di kebun, gudang, dan pengemasan, 
saya bisa ekspor ke luar negeri dan masuk ke 13 ritel modern di Jakarta," 
kata dia.
Disebutnyalah beberapa tempat di Jakarta, seperti Lebak 
Bulus, MT Haryono, Season City, Ciledug, Cempaka Mas, TMII, dan 
Ambassador.
Sayuran yang diproduksi Teh Eneng telah mendapat sertifikasi sayuran 
semiorganik, yaitu sayuran berpestisida minimum.
Dari 60 hektare kebun sayurnya, Teh Eneng bisa menghasilkan tiga ton sayuran 
lokal dan tiga kwintal sayuran eksklusif setiap hari.
Yang 
disebutnya sayuran eksklusif adalah sayuran ekspor seperti brokoli, 
adamame, kabocah atau labu Jepang, kyuri atau timun Jepan.
Kini, 
Teh Eneng bisa memasok sayuran ke swalayan-swalayan besar tiga kali 
dalam seminggu dengan minimum order 300 kilo untuk 54 komoditas sayuran.
"Permintaannya sih tiap hari dikirim, tapi kami belum bisa mengejar permintaan 
itu," kata Teh Eneng.
Masalah modal adalah kendala utama baginya dalam mengembangkan bisnis.
"Sekarang, omzet saya bisa mencapai Rp95 juta per bulan, tapi itu bisa lebih 
seandainya saya bisa menambah modal," katanya lagi.
Dia mungkin sulit menambah modal, tapi dia sama sekali tidak sulit 
menurunkan ilmu kewirausahaannya kepada para petani Ciwidey.  270 petani di 
daerah ini dia bimbing dengan membaginya ke dalam 23 gapoktan 
(gabungan kelompok tani).
"Harapan saya, para petani Ciwidey bisa menjadi sukses dan merajai ritel 
nasional dan internasional," kata Teh Eneng.
Satu impian mulia. Namun lebih dari itu, Teh Eneng telah mempermak wajah 
pertanian Indonesia yang sebelum ini identik dengan dunia laki-laki.
Tani sering dipahami sebagai profesi maskulin yang melulu mengandalkan 
kekuatan otot, tapi Teh Eneng telah membuktikan itu tidaklah terlalu 
benar, karena tani ternyata juga profesi feminis yang mesti juga 
mengeksplorasi kecerdasan akal. 


http://oase.kompas.com/read/2012/03/13/05111067/Sentuhan.Feminis.Teh.Eneng.di.Kebun.Sayur

Kirim email ke